Pidato Kebudayaan I Gusti Agung Ayu Ratih: ‘KITA, SEJARAH, KEBHINEKAAN’
| Senin, 10 November 2008 | ||
| 20:00 | to | 22:00 |
Senin, 10 November 2008
pukul 20.00-22.00 WIB
Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya 73
Jakarta Pusat
Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menggelar acara tahunan “Pidato Kebudayaan” yang diadakan bertepatan dengan hari ulang tahun Pusat Kesenian Jakarta—Taman Ismail Marzuki, 10 November. Sebagaimana yang pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya, Pidato Kebudayaan kembali membicarakan masalah-masalah aktual di sekitar kita, khususnya jika masalah itu dipandang dari sudut kesenian. Kali ini DKJ menampilkan I Gusti Agung Ayu Ratih dengan judul pidato “Kita, Sejarah, Kebhinekaan”. Pidato Kebudayaan ini juga dimeriahkan oleh pentas musik Balawan dan kawan-kawan.
Adapun pokok-pokok pikiran Gung Ayu, begitulah I Gusti Agung Ayu Ratih biasa disapa, dalam pidato kali ini adalah sebagai berikut:
“Indonesia adalah sebuah kemajemukan; ia lahir dari kesepakatan beragam kekuatan yang bercita-cita membesarkan negeri-bangsa berwawasan kesetaraan, kemanusiaan dan keadilan sosial. Oleh sebab itu, segala upaya untuk menyeragamkan langgam, memangkas imajinasi tentang bagaimana kita harus berbangsa, dan mengasingkan kelompok atau golongan yang lakunya tidak (atau belum) saling bersesuaian adalah pengingkaran terhadap alasan keberadaan (raison d’etre) negeri-bangsa ini sendiri. Namun, Indonesia juga adalah sebuah konsep modern yang harus terus-menerus dipelajari dan dimaknai kembali. Adalah suatu lompatan luar biasa untuk mengubah kesadaran dan loyalitas primordial menjadi kesadaran akan kebangsaan, terutama karena tradisi keindonesiaan itu sangat baru dan tak punya rumusan baku, apalagi jika dibandingkan dengan tradisi-tradisi lain yang berusia ratusan tahun dan didukung oleh kitab-kitab sakral para begawan dan nabi.
“Dari masa ke masa selalu ada perdebatan dan pertarungan antar gagasan tentang keindonesiaan. Dalam perdebatan dan pertarungan tersebut tak jarang kekuatan-kekuatan tertentu, yang sebenarnya sudah ikut melahirkan dan menghidupi republik ini, terpental. Entah oleh gagasan-gagasan dominan tentang superioritas kelompok atau golongan tertentu, atau oleh pertikaian politik yang sifatnya lebih ideologis. Kaum perempuan merupakan salah satu kelompok yang pandangan dan pengalamannya acapkali terabaikan dalam perbincangan ini. Sementara gerak mereka yang secara tradisional di wilayah paling dekat dengan kebudayaan—nurture and cultivate—sudah menghadapkan mereka pada keberagaman tak terhingga. Sebaliknya, tubuh perempuan hampir selalu menjadi salah satu medan pertarungan utama perumusan apa itu keindonesiaan. Kendali atas gerak dan tubuh perempuan seakan menjadi acuan pokok kemajuan sebuah bangsa dan kekukuhan negara. Perempuan yang elok dan santun menurut norma-norma ketimuran menjadi simbol kepribadian bangsa yang konon ramah-tamah dan beradab ini! (Tak ada tempat bagi penari ronggeng, ledhek, paraji, dkk—ini mirip dengan perburuan terhadap dukun bayi seiring dengan perkembangan kapitalisme modern yang mengagungkan rasionalitas di Amerika.)
“Sepuluh tahun setelah reformasi kita berhadapan dengan dua kekuatan besar yang lagi-lagi mengancam kemajemukan yang sudah lahirkan Indonesia, yaitu fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar. Sekilas keduanya tampak berjalan terpisah. Padahal, mereka sebetulnya berkaitan, bahkan di titik-titik tertentu berhubungan sebab akibat. Fundamentalisme pasar sudah menimbulkan kecemasan, rasa ketidakpastian karena acuan bergerak kita ditentukan oleh sebuah kekuatan yang tampaknya tidak bisa kita kendalikan sebagai suatu ‘polity’. Mereka yang paling terpuruk oleh kebijakan neoliberalisme kehilangan rasa berarti sebagai manusia dan warga masyarakat. Dalam suasana kebingungan dan kecemasan inilah kaum fasis berjubah agama menawarkan sesuatu yang pasti, janji adanya penyelamatan dan surga, sedikit bantuan ekonomi, dan status sosial yang lebih mulia ketimbang sekedar pengangguran, pemulung atau preman. (Fenomena ini muncul juga di AS dengan naiknya Bush dan Evangelism.) Nah, kalau pasar bebas menjawab kesulitan hidup sehari-hari dengan membuka ruang bagi lalu lintas perdagangan TKW, kelompok fundamentalis menuding keliaran perempuan sebagai sumber kebejatan dan kekacauan dewasa ini. Lagi-lagi tubuh perempuan menjadi taruhan.
I Gusti Agung Ayu Ratih dilahirkan di lingkungan Puri Kapal Kaleran, Mengwi, Bali, pada tanggal 19 Maret 1966. Ia adalah seorang cendekiawan yang mendasarkan pemikiran-pemikirannya pada penelitian berwawasan sejarah yang mendalam dan kritis, sambil terlibat secara intensif dalam praktik-praktik kebudayaan sehari-hari. Ia seorang intelektual yang aktivis. Karena itu, ia menghayati kebhinekaan pada dua tataran sekaligus: pada tataran intelektual yang berjarak, dan pada tataran praksis yang meleburkan dirinya.
Ia mengenyam pendidikan dasar di SD Laboratorium IKIP Malang (1976), pendidikan menengah di SMPK St. Maria II (1980) dan SMAK St. Albertus (1983). Setelah menamatkan S1 di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Malang (1989), ia melanjutkan studi di bidang sejarah dan sastra perbandingan di Program Studi Asia Tenggara, University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat dan memperoleh gelar Master of Arts.
Sekembalinya dari AS pada 1994 ia bekerja sebagai peneliti di Yayasan Pusat Studi HAM (YAPUSHAM) dan ikut mendirikan Jaringan Kerja Budaya (JKB) di Jakarta. Di saat gerakan reformasi mulai berkembang ia aktif membantu pengembangan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK), Forum Solidaritas untuk Timor Lorosae (FORTILOS), Sanggar Anak Akar, dan Suara Ibu Peduli. Sejak 2000 bersama dengan beberapa orang sejarawan ia mengorganisir penelitian sejarah lisan tentang pengalaman korban Tragedi 1965, serta membangun perpustakaan dan arsip suara yang menjadi basis pendirian Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI).
Di samping itu, ia bekerja sebagai konsultan bagi sejumlah organisasi dan menulis artikel untuk surat kabar, majalah, dan jurnal di dalam dan di luar Indonesia. Sekarang ia memimpin ISSI dan memusatkan perhatiannya pada penelitian tentang sejarah kebudayaan dan gerakan perempuan.***
Untuk keterangaan lebih lanjut silakan hubungi Lina di 0812 9855181 atau (021) 31937639.