Murti Bunanta Rintis Gerakan Dongeng Anak Sebagai Pelestarian Budaya
“Terlalu banyak yang dikatakan dan terlalu sedikit yang dikerjakan untuk anak-anak…itulah kondisi bangsa kita,” demikian pandangan Murti Bunanta. “Saya bukanlah seorang ahli teori budaya, melainkan seorang praktisi di lapangan yang menaruh perhatian kepada anak-anak dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk mereka. Karena itu, makalah ini tidak akan […] Read more »
Guru SD Bantu Warga Desa Melek Huruf Agar Kuat Suara
Bahrul Ulumiyah Suheb adalah seorang guru yang sehari-hari tekun mengajar murid-muridnya belajar membaca dan menulis. Yang istimewa, semua muridnya perempuan dan mereka semua dewasa. Seperti anak kecil, para perempuan dewasa ini belajar mengurut abjad, mengeja kata-kata sederhana, dan pelan-pelan menuliskannya. Dengan sabar dan tekun Bahrul Suheb mendampingi perempuan-perempuan desa mengatasi butahuruf, suatu kendala besar bagi […] Read more »
20des-09jan :: Pameran Seni Rupa ‘Menyoal Patriarki’ oleh Purwanto SPA + Heranto Maidil, Jakarta
[ Sabtu, 27 Desember 2008; Minggu, 28 Desember 2008; Kamis, 8 Januari 2009; Jumat, 9 Januari 2009; ]
Philo Art Space menutup tahun ini dengan menggelar pameran seni rupa bertajuk “Menyoal Patriarki”. Artinya ini problema laki-laki yang dianggap telah terlalu banyak membentuk dunia dan membuat perempuan tak berdaya. Kenapa bisa terjadi seperti ini?
Pameran ini menyuguhkan dua karya perupa, Purwanto SPA, lulusan Seni Murni, Lukis, Institut Kesenian Jakarta dan Heranto Maidil, lulusan Seni Rupa […] Read more »
[unduh] Revolusi Hijau 60an-70an Miskinkan Perempuan
Revolusi Hijau yang digulirkan pada era tahun 1960an dan 1970an di banyak negara di Asia membawa paket modernisasi pertanian. Bibit unggul, teknologi pertanian, irigasi yang lebih baik, dan pupuk kimia adalah paket yang ditawarkan. Sayangnya, paket yang bertujuan untuk meningkatkan panen beras menjadi dua kali dalam setahun ini tidak memperhatikan aspek gender dan status sosial […] Read more »
Untuk Inspirasi Perempuan Sutradara, Nia Dinata Luncurkan Bookset
Nia Dinata berpendapat bahwa perempuan sutradara tidak bisa diabaikan lagi dan sudah saatnya diperhitungkan dalam industri perfilman nasional. Sebagai sutradara yang berulang kali membuktikan kekuatan karya film yang menyedot paling banyak penonton, Nia Dinata pada 23 Desember 2008 meluncurkan bookset empat karya filmnya yang terkenal, yaitu: Perempuan Punya Cerita [2008], Berbagi Suami [2006], Arisan [2003], […] Read more »
penutupan31des :: Pameran Bersama 185 Seniman Lulusan FSR-ISI, Yogyakarta
[ Rabu, 31 Desember 2008; ] Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia [FSR ISI] Yogyakarta menyelenggarakan pameran besar secara beramai-ramai. Semuanya berasal atau yang pernah mengenyam pendidikan di ISI Yogyakarta. Pameran bertajuk “The Highlight - Dari Medium ke Transmedia” digelar di Jogja National Museum [JNM], Jl. Amri Yahya No.1, Gampingan, Wirobrajan Yogyakarta. Pameran ini dapat dibaca sebagai pencapaian prestasi seniman yang […] Read more »
ILO: Peluang Kerja Indonesia Tidak Setara Gender Dan Susut Di 2009
Peluang kerja di Indonesia selama 2000-2007 mengabaikan kesetaraan gender, demikian ungkapan sebuah laporan yang dikeluarkan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) pada pertengahan 2008. Sebagian besar tenaga kerja perempuan bekerja pada sektor ekonomi informal yang tidak produktif dan berupah rendah.
Dalam laporan bertajuk “Tren Ketenagakerjaan dan Sosial di Indonesia 2008”, yang ditulis analis ekonomi Kee Beom Kim dari […] Read more »
Dokurama ‘Perempuan Nias’ Angkat Nikah Dini Sebagai Kekerasan
Film pendek dokudrama [dokumenter drama] berdurasi 35 menit yang berjudul ‘Perempuan Nias, Meretas Jalan Menuju Kesetaraan’ bercerita tentang praktek perkawinan dini di Kabupaten Nias yang diangkat dari kisah nyata. Pada pemutaran perdana yang diadakan pada bulan Oktober 2008 di Lapangan Merdeka Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, ribuan penonton hadir. Menurut reportase, banyak perempuan yang hadir […] Read more »
20-21des :: Refleksi 10 Tahun Senirupa Kerakyatan ‘Taring Padi’, Yogyakarta
[ Sabtu, 20 Desember 2008 10:00 to Senin, 22 Desember 2008 5:00. ]
Sepuluh tahun sudah kelompok yang terkenal karena mengusung seni rupa kerakyatan “Taring Padi” berdiri mewarnai dunia seni rupa Indonesia. Kelompok yang digagas anak-anak Yogyakarta ini sampai sekarang tetap setia mengusung karya-karya bernafaskan kritik sosial.
Tujuan berdirinya kelompok ini jelas yakni menggunakan ruang publik untuk mempresentasikan karya-karya mereka. Sebuah pilihan ruang yang egaliter dan paling demokratis dengan […] Read more »


