01-31mar :: Bulan Film Nasional ‘Sejarah Adalah Sekarang’, TIM + Salihara Jakarta
| Minggu, 1 Maret 2009 | to | Selasa, 31 Maret 2009 |
Menyambut Hari Film Nasional yang diperingati setiap 30 Maret, Kineforum Dewan Kesenian Jakarta akan menggelar pesta nonton film gratis di bioskop selama satu bulan penuh. Selain bisa menonton film gratis di Studio 21 TIM, masyarakat juga akan dijamu dengan Pameran Sejarah Bioskop Indonesia yang akan dilakukan di dua tempat: Galeri Cipta III TIM dan Komunitas Salihara. Selain itu pesta Bulan Film Nasional bertajuk ‘ Sejarah Adalah Sekarang ‘ ini akan menggelar konser musik PUBLIK untuk RUANG PUBLIK menampilkan SORE dan Kunokini.
Berikut rincian acara yang akan dihelat selama pesta Bulan Film Nasional ‘Sejarah Adalah Sekarang’ :
A. Pemutaran Film
Kineforum 1 – 31 Maret 2008-
Komunitas Salihara 8,15, dan 22 Maret 2008
1. ROMANSA 6 DEKADE
Romansa enam dekade akan mempersembahkan cerita-cerita cinta sejak tahun 1950-an sampai 2000-an, dimana disetiap masanya cerita-cerita tersebut memiliki latar belakang cerita sesuai dengan permasalahan sosial di setiap masanya.
Kurator Program : Putri Tjondronegoro
Film yang diputar :
Tiga Dara (1956) Sutradara : Usmar Ismail. Pemain : Chitra Dewi & Rendra Karno
Pedjuang (1960) Sutradara : Usmar Ismail. Pemain : Chitra Dewi & Rendra Karno
Badai Pasti Berlalu (1977) 112 Menit. Sutradara : Teguh Karya. Pemain : Christine Hakim, Roy Marten, Slamet Rahardjo, Mieke Wijaya.
Arini, Masih Ada Kereta Yang Lewat (1987) Sutradara : Sophan Sopian. Pemain : Sophan Sopian dan Widyawati
Ramadhan dan Ramona (1992) Sutradara : Chaerul Umam. Pemain : Djamal Mirdad dan Lydia Kandou
Ada Apa Dengan Cinta (2001) 110 Menit. Sutradara : Rudi Soedjarwo. Pemain : Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Titi Kamal, dan Ladya Cheryl
Eiffel I’m In Love (2003) Sutradara : Nasri Cheppy. Pemain : Samuel Rizal dan Sandhy Aulia
LOVE (2008) Sutradara : Kabir Bhatia. Pemain : Sophan Sophian, Widyawati, Luna Maya, Laudya Chintya Bella, Wulan Guritno, Darius Sinathrya
2. BODY OF WORKS
Body of Works merupakan salah satu program yang selalu ada setiap penyelenggarakan Bulan Film Nasional (2007 : Asrul Sani, 2008 : Suzanna). Program ini bentuk apreasi penghargaan terhadap dedikasi seorang pekerja film terhadap dunia perfilm. BFN ’08 dalam Body of Works: Lintas Dekade Suzanna, melihat dedikasi suzanna terhadap dunia film dari masa kecil hingga usia lanjut dalam film darah dan doa, dan dalam genre-genre film yang berbeda dari drama hingga horror. Pada Sejarah adalah Sekarang ini kita akan melihat BOW: Bing Slamet, Komedian Indonesia dan Djadug Djajakusuma (salah satu pendiri Perfini)
Bing Slamet
Tentu saja saya ingin sekali bisa menyebut program ini sebagai retrospektif film-film almarhum Bing Slamet. Tapi saya belum bisa. Meskipun orang Indonesia saat ini akan tetap menyebut nama Bing Slamet saat membicarakan film komedi Indonesia, tapi pada kenyataannya kita berbuat sangat sedikit untuk melestarikan karya-karyanya.
Kurator Program : Lisabona Rahman
Film yang diputar :
Tiga Buronan (1957) Sutradara : Nya Abbas Akup. Pemain : Bing Slamet, Chitra Dewi dan Bambang Irawan
Ambisi (1973) 95 Menit. Sutradara : Nya Abbas. Pemain :Bing Slamet, Anna Mathovani, Fifi Young, Benyamin S
Bing Slamet lahir di Cilegon, Jawa Barat, 27 September 1927 dengan nama asli Ahmad Syech Albar. Karena mengagumi Bing Crosby, dia lalu menyusupkan nama Bing di depan namanya. Setidaknya ada hampir 20 film layar lebar yang dibintanginya dan ia merupakan sosok komedian yang khas, susah dilupakan. Festival Film Indonesia bahkan memakai namanya untuk penghargaan bagi pencapaian film komedi. Bing Slamet wafat di Jakarta pada 17 September 1974.
D Djajakusuma
Sejak orang Indonesia membuat film selalu ada pertanyaan soal bagaimana menunjukkan identitas Indonesia. Sekilas tampak bahwa Djajakusuma tak ambil pusing soal menonjolkan identitas (nasionalisme) dalam karya seni. Tapi dari karya-karyanya kita bisa melihat bahwa ia sendiri bergulat dengan pertanyaan identitas itu dari sisi lain. Baginya identitas nasionalnya bukanlah pesan yang harus disampaikan lewat kesenian, bentuk-bentuk kesenian itulah yang merupakan wujud identitas
Film yang diputar:
Embun (1951) Sutradara : D Djajakusuma Pemain : Rd Ismail, AN Alcaff, dan Titi Savitri Harimau Tjampa (1953) Sutradara : D Djajakusuma. Pemain : Bambang Hermanto, Nurnaningsih, dan Rd Ismail
Tjambuk Api (1958) Sutradara : D Djajakusuma. Pemain : Bambang Irawan, Aminah Cendrakasih, dan Sukarno M Noor
Pak Prawiro (1958) Sutradara : D Djajakusuma. Pemain : Rendra Karno, Chitra Dewi, dan Bambang Hermanto
Masa Topan dan Badai (1963) Sutradara : D Djajakusuma. Pemain : Wahab Abdi, Sri Redjeki, Sari Narulita, Keiko Takeuchi
Lahirnja Gatotkatja (1960) Sutradara : D Djajakusuma. Pemain : Rusman Roosilawaty, Kusno Sudjarwadi, Titiek Danuwitono, Bagong Kussudiarjo
Malin Kundang (Anak Durhaka) (1971) Sutradara : D. Djajakusuma. Pemain : Fifi Young, Rd Mochtar, Hadisjam Tahax, Mansjursjah, Darussalam, Rano Karno, Putu Wijaya.
Djadoeg Djajakusuma lahir di Temanggung, 1 Agustus 1918 di keluarga Wedana yang menyukai buku. Ia memulai kariernya sebagai penerjemah drama dan pemain film. Sementara para pemuda Indonesia lainnya sibuk berperang pada pertengahan 1940-an, Djajakusuma dan rekannya Usmar Ismail juga sibuk belajar membuat film dari Dr. Huyung, Andjar Asmara dan Sutarto. Beberapa tahun setelah pengakuan kedaulatan Indonesia, bersama Usmar Ismail ia mendirikan Perfini. Djajakusuma kemudian belajar film dan teater di Universitas Washington dan Universitas Southern California. Djadoeg Djajakusuma punya perhatian besar pada teater rakyat dan teater tradisi, dua bentuk seni yang sangat kuat mempengaruhi karya-karya filmnya.
3. FILM PENDEK
Kali Pertama adalah program film yang menyajikan film-film pendek yang menjadi karya pertama beberapa sutradara yang cukup dikenal jagad perfilman Indonesia saat ini. Kali Pertama adalah upaya untuk menghadirkan entitas sejarah yang aktual dan menjadi bagian dari kekinian karya film para sutradara tersebut saat ini. Mereka adalah bagian dari orang-orang di semesta film Indonesia yang berperan menyemarakkan kembali dunia perfilman Indonesia dalam dekade ini. Mereka turut membawa masyarakat mendatangi bioskop dan menonton film Indonesia.
Kurator Program : Agus Mediarta
Film yang diputar :
Gerbong Satu…Dua… Sutradara : Garin Nugroho.
Hanya Satu Hari Sutradara : Nan T. Achnas. Lelaki Tua Sutradara : Hendrata R. Saputra.
Dua Nada Sutradara : Ravi L. Bharwani.
Sonata Kampung Bata Sutradara : Riri Riza. Happy Ending Sutradara : Harry Suharyadi.
Pasar Sutradara : Rako P. Borneo.
Medi, Pencopet Palembang Sutradara : Aria Kusumadewa.
Tutur Sutradara : Hanung Bramantyo.
Resolusi Harapan Sutradara : Nanang Istiabudi.
Harap Tenang Ada Ujian Sutradara : Ifa Isfansyah.
A Very Slow Breakfast Sutradara : Edwin.
4. UNDERWORLD / DUNIA BAWAH
Kineforum mengajak para penonton melihat kembali Dunia Bawah: rumah buat hal-hal yang dianggap bertentangan dengan hukum, moral, kewarasan atau (kadang-kadang) iman. Dunia fiksi tak pernah bosan mengangkat persoalan dunia bawah ini: dunia pembunuh (bayaran), pelacur, perjudian, rumah sakit jiwa, mistik atau legenda harta karun yang jadi rebutan.
Kurator Program : Lisabona Rahman
Film yang diputar :
Matahari-matahari (1985) Sutradara : Arifin C Noer. Pemain : Marissa Haque, Rima Melati, dan Jajang C Noer
Beth (2000) 80 menit. Sutradara : Aria Kusumadewa. Pemain : Inne Febriyanti, Bucek Depp, Nurul arifin, Renny Djayoesman.
Kala (2007) 106 menit. Sutradara: Joko Anwar. Pemain : Fachri Albar, Ario Bayu, Shanty, Fahrani.
Quickie Express (2007) 124 menit. Sutradara : Dimas Djayadiningrat. Pemain : Tora Sudiro. Lukman Sardi, Amink, Tino Saroengallo, Sandra Dewi, Ira Maya Sopha, Rudy Wowor, Tio Pakusadewo.
Jakarta Undercover (2007) 96 menit. Sutradara : Lance. Pemain : Luna Maya, Kenshiro Arashi, Lukman Sardi, Verdi Solaiman, Adry Valeri Wens, Fachri Albar, Christian Sugiono.
Gara-gara Bola (2008) 72 menit. Sutradara : Khalid Kashogi. dan Agasyah Karim. Pemain : Herjunot Ali, Winky Wiryawan, Aida Nurmala, Ayu Dewi, Otto Satrya Djauhari, Aming, Indra Herlambang, Joko Anwar.
5. DUNIA PEREMPUAN
Nia Dinata: Suatu Perjalanan Lintas Waktu dan Lintas Etnis
Setelah melihat empat film yang disutradarai Nia Dinata, saya melihat mozaik dunia perempuan yang menarik. Mozaik ini terdiri dari keping-keping yang melintasi waktu, dari zaman kolonial di Nusantara sampai sekarang. Selain itu ada juga keping-keping yang membawa kita melintasi identitas etnis dan kelas sosial.
Kurator Program : Lisabona Rahman
Film yang diputar :
Arisan! (2003) 128 Menit. Sutradara : Nia Dinata. Pemain : Tora Sudiro, Cut Mini Theo, Aida Nurmala, Surya Saputra, Rachel Maryam, Jajang C Noer, Ria Irawan.
Ca Bau Kan (2001) 119 menit. Sutradara : Nia Dinata. Pemain : Ferry Salim, Lola Amaria, Niniek L Karim, Tutie Kirana, Robby Tumewu, Alex Komang, Irgi A Fahrezi.
Perempuan Punya Cerita (2007) 112 Menit. Sutradara : Nia Dinata, Upi, Lasja F Susanto, Fatimah T Rony. Pemain :Rachel Maryam, Rieke Diah Pitaloka, Kirana Karasati, Fauzi Baadila, Shanty, Sarah Sechan, Susan Bachtiar.
Berbagi Suami ( 2006) 127 Menit. Sutradara : Nia Dinata. Pemain : Jajang C Noer, El Manik, Tio Pakusadewo, Dominique a Diyose, Shanty, Ria Irwan.
Nia Dinata lahir di Jakarta, 4 Maret 1970. Karirnya dimulai dengan membuat video musik dan iklan untuk televisi. Selain menyutradarai, Nia Dinata juga menulis naskah film dan menjadi produser. Sejak film panjang perdananya Ca Bau Kan, secara konsisten Nia Dinata memilih tema perempuan, seksualitas dan identitas. Ia adalah salah satu diantara sutradara Indonesia pasca Orde Baru yang berusaha membuat tafsiran personal tentang kehidupan orang Cina Indonesia.
B. Pameran Sejarah Bioskop Indonesia
1 – 24 Maret 2009, Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki
1-30 Maret 2009, Komunitas Salihara
Sebagai bagian dari acara Sejarah Adalah Sekarang 3, untuk kedua kalinya Kineforum & www. karbonjournal. org kembali mengadakan Pameran Sejarah Bioskop Indonesia. Anda bisa kembali menuju bioskop pertama pada 1900, lalu bioskop yang bersanding dengan ruang dansa, atau bahkan bioskop yang mengadakan pertandingan tinju, hingga situasi kini dari perkembangan bioskop. Pameran di kedua tempat ini, akan kembali menampilkan kutipan teks-teks dan foto, namun kali ini dengan tambahan data dan foto, serta opini masyarakat tentang bioskop, ruang gelap berlayar putih yang telah begitu lama menemani kita dengan segala perubahannya.
C. Publik untuk Ruang Publik: Gagasan penggalangan dana bagi kineforum
Pemusik yang berkarya untuk film, dan seluruh hasil pemasukan dari konser musik digunakan untuk biaya operasional Kineforum.
Dalam tahun 2008, kineforum sempat berhenti menjalankan program karena keterlambatan dana Anggaran Pengeluaran dan Belanja Daerah DKI Jakarta. Saat ini jalannya kegiatan di kineforum hampir seluruhnya masih dibiayai dengan dana Anggaran Pengeluaran dan Belanja Daerah DKI. Untuk kegiatan pertemuan kita di kineforum terhambat lagi, kami ingin pelan-pelan lebih menguatkan dukungan publik penonton terhadap kineforum.
Pada Agustus 2008 lalu, misalnya, lalu lampu proyektor digital kineforum dibeli sepenuhnya dengan dana hasil donasi penonton. Dengan bangga dan rasa terimakasih yang besar, kami mengakui besarnya arti dukungan publik. Tanpa publik penonton kami tentu bukan apa-apa!
Menampilkan: SORE KUNOKINI
Tentang kineforum
kineforum adalah bioskop pertama di Jakarta yang menawarkan ragam program meliputi film klasik Indonesia dan karya para pembuat film kontemporer. Ruang ini diadakan sebagai tanggapan terhadap ketiadaan bioskop non komersial di Jakarta dan kebutuhan pengadaan suatu ruang bagi pertukaran antar budaya melalui karya audio-visual.
kineforum menyediakan ruang presentasi bagi para pembuat film (dari dalam dan luar Indonesia) dan ruang apresiasi bagi publik pada kategori film-film khusus yang tidak berasal dari arus utama, di tengah kurangnya ruang alternatif. kineforum juga menawarkan presentasi karya- karya para pembuat film dunia, film panjang maupun pendek – yang sulit diakses publik Jakarta selain melalui pembajakan. Di ruang ini juga diadakan diskusi dan pertemuan dengan pembuat film. Sejak 2005, kineforum didatangi kurang lebih 500 penonton pada program pemutaran tertentu dan sekitar 5.000 penonton selama acara festival.
kineforum adalah ruang pemutaran nirlaba, dikelola oleh Dewan Kesenian Jakarta dan para relawan muda. Kegiatan di kineforum dijalankan melalui kerjasama Dewan Kesenian Jakarta 2006-2009 dan Studio 21. Ruang ini diharapkan menjadi ruang eksibisi dan dialog bagi para pembuat film dan penonton Jakarta, terutama untuk karya-karya non-arus utama. Kineforum dibiayai oleh APBD, kontribusi penonton dan juga pecinta seni yang ada di Jakarta.
Taman Ismail Marzuki - Jl. Cikini Raya No. 73 - Jakarta Pusat
Komunitas Salihara - Jl.Salihara No.16 - Pasar Minggu - Jakarta Selatan 12520
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.