Agar Tidak Punah, Kue-kue Khas Bengkulu Dibuat Renyah Dikunyah

Neliwati Dalumi, penghasil snacks khas Bengkulu. (foto > kupasbengkulu)

GEMA-INDUSTRI-KECIL – Perempuan asli Bengkulu, Neliwati Dalimo, sukses menekuni produksi makanan ringan khas Bengkulu dengan merek Kue Ende. Sebetulnya usaha Kue Ende, yang dirintis sejak 2001 ini, lebih merupakan panggilan hati. Ia ingin memperkenalkan makanan khas Bengkulu ke seluruh Indonesia, dan bahkan ke luar negeri kelak.

“Bila tidak diperkenalkan kepada pasar, lama-kelamaan makanan ini akan dilupakan,” ungkap perempuan yang memulai usaha dengan modal Rp 100 ribu saja itu.

“Sebelumnya, saya membuat keripik bawang dan menitipkannya di toko-toko kue. Baru kemudian saya membuat kue-kue kering, ” katanya. Rasa dan penampilan kue-kue khas Bengkulu, jika berpegang pada resep asli, jadinya agak keras. “Walau rasanya enak, tapi karena keras, banyak orang malas memakannya,” keluh Neliwati.

Demi terlestarikannya makan ringan khas Bengkulu, maka Neliwati pun mencari jalan untuk membuat resep kue yang lembut dikunyah. Dalam upayanya ini, ia sekaligus bertekad menaikkan mutu kue-kue tradisional Bengkulu ini. Dengan menggunakan komposisi bahan baku kualitas tinggi, ia menghasilkan rangkaian kue-kue khas Bengkulu mutu prima dengan harga jual di atas rata-rata, yaitu Rp 5.000 per 1,5 ons sampai Rp 35 ribu per kg.

“Saat ini saya membuat lebih dari sepuluh macam kue snack, yang semuanya khas Bengkulu,” tuturnya. “Yang paling laku adalah kue bawang, perut punai dan tat.”

Neliwati tetap mengolah kue-kuenya secara tradisional, sehingga citarasanya pun tulen khas Bengkulu. “Agar tahan lama dan tetap gurih, kemasan harus benar-benar kedap udara. Maksimal kue saya bertahan sampai dua bulan,” katanya.

Setiap hari Kue Ende memproduksi sebanyak 25 kg kue. Untuk pengerjaannya, Neliwati dibantu oleh duabelas karyawan harian. Sedang pemasarannya, selain dijual di outlet miliknya sendiri, juga dijual ke toko-toko kue dengan sistem beli putus. Dari usaha memproduksi kue-kue khas Bengkulu ini, ia menikmati omzet hingga Rp 25 juta setiap bulan.

“Saya belum memasarkan langsung ke luar daerah, hanya lewat perantara saja,” ungkapnya. Ia mengakui bahwa dirinya sedang mencoba menembus pasar ritel lokal dan pasar di luar negeri karena sudah ada permintaan dari Cina untuk kue keripik bawang. Dalam misinya ini, Neliwati tidak akan hanya mengandalkan citarasa. Menurutnya, kemasan akan ikut sangat menentukan keberhasilannya. :: Rachma Utami/Gema Industri Kecil/Edisi XVIII/2007

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: