AJI: Klise, Citra Perempuan Dalam Jurnalistik Indonesia

KOMPAS/RIZA FATHONI :: Pekerja perempuan merakit televisi tabung (cathode ray tube) layar datar tipis di pabrik PT Sharp Electronics Indonesia. Perempuan selalu dikaitkan dengan ranah domestik dalam pemberitaan media, sementara banyak kompetensi perempuan yang mumpuni tak tersuarakan.

[KOMPAS] – Pemberitaan tentang perempuan di surat kabar dan televisi masih menonjolkan peran perempuan di ranah domestik daripada ranah publik. Padahal tak sedikit perempuan yang mumpuni di berbagai bidang di ruang publik, bukan sekadar mahir memainkan perannya sebagai ibu dan istri.

Citra perempuan masih saja klise dan kondisi ini bertentangan dengan deklarasi Beijing yang menyebutkan dalam salah satu butirnya, bahwa gambaran perempuan di media harus seimbang dan tidak klise. Selain citra perempuan di media yang cenderung stereotip, pemberitaan media juga masih diskriminatif terhadap perempuan

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengadakan riset mengenai penggambaran perempuan di sejumlah media nasional. Hasilnya, berita kategori kekerasan terhadap perempuan masih mendominasi, sementara pemberitaan mengenai kiprah perempuan masih berada di bawahnya. Pemberitaan media mengenai perempuan juga ditemukan AJI, masih melanggar kode etik jurnalistik, terutama pada pemberitaan kekerasan dengan perempuan sebagai korban. Perempuan korban kekerasan justru mengalami kekerasan ganda, karena ditampilkan dalam pemberitaan secara diskriminatif.

“Perempuan korban kekerasan seringkali disebutkan nama lengkap, bahkan tiga suku kata, dan ditampilkan gambarnya. Sedangkan pelaku biasanya hanya disebutkan inisial saja,” jelas Rach Alida Bahaweres, Koordinator Divisi Perempuan AJI Indonesia kepada Kompas Female.

Sementara stereotip perempuan masih ditonjolkan media dari fokus dan sikap pemberitaannya. “Saat mengabarkan informasi mengenai pasar atau harga barang misalnya, kaum ibu ditampilkan menonjol. Contoh lain saat memberitakan profil calon ketua KPK, sosok perempuan ditampilkan menonjol mengenai keperempuanannya, bukan karena ia mumpuni di bidangnya,” jelas Alida, sambil menambahkan bahwa peran domestik masih identik dengan perempuan, sementara berbagai pencapaian atau potensi perempuan dikesampingkan.

Pemilihan narasumber dalam pemberitaan mengenai isu perempuan juga lebih banyak memunculkan laki-laki, dan mengabaikan keberadaan dan kemampuan perempuan. Riset AJI menunjukkan, jumlah narasumber yang diwawancarai oleh media masih lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Kondisi ini membuat suara perempuan terabaikan dalam berbagai isu perempuan. Padahal, kata Alida, banyak perempuan yang bisa dijadikan narasumber agar suara kaum perempuan lebih ditampilkan. Cara pandang laki-laki dan perempuan dalam menanggapi isu perempuan jelas akan berbeda.

“Saat melakukan wawancara pelecehan seksual dengan perempuan sebagai korban kekerasan misalnya, narasumber yang ditampilkan lebih banyak laki-laki seperti polisi, pelaku, dan petugas,” lanjutnya.

Berangkat dari kondisi ini, Alida mengatakan, media semestinya lebih menyuarakan berita tentang perempuan. Bukan hanya jumlah berita tentang perempuan yang perlu ditingkatkan, namun media juga perlu memiliki perspektif gender dalam pemberitaannya.

“Media tidak melakukan diskriminasi, tidak stereotip, dan menampilkan kode etik jurnalistik dengan tidak memunculkan wajah perempuan korban kekerasan sebagai contohnya,” tutur Alida, menekankan pentingnya media mengaplikasikan jurnalisme berperspektif gender sehingga isu perempuan tergali lebih seimbang.

AJI juga mengimbau media untuk tidak melakukan stigmatisasi, stereotip, dan diskriminasi terhadap perempuan dalam pemberitaannya agar perempuan tak menjadi korban kedua kalinya. Perusahaan media dan jurnalis juga diharapkan menerapkan jurnalisme perspektif gender dalam ruang lingkup kerjanya. Karena menurut riset AJI, penggiat media masih belum memahami gender sehingga sudut pandang penulisan masih sangat terbatas. Hal ini bisa dilihat dari bahasa yang digunakan media cenderung mengeksploitasi seksual dan vulgar mengenai isu perempuan. Pemahaman gender bagi jurnalis dan media menjadi penting karena hasil penelitian AJI menyebutkan, isu perempuan mendapatkan perhatian besar dari media massa. Variasi pemberitaan tentang perempuan juga banyak, namun sayangnya hanya berpusat pada peristiwa tertentu saja yang menonjolkan masalah perempuan.

Meski tak melakukan penelitian pada sejumlah media wanita, Alida mengatakan kebanyakan media wanita juga masih menonjolkan gaya hidup dengan eksplotasi fisik, penampilan, dan kecantikan. “Pola lama yang menonjolkan imej perempuan cantik masih mendominasi media wanita,” katanya. Sementara pemberitaan yang menyuarakan kualitas perempuan dan inspiratif, ada namun terbatas, lanjutnya.

Penelitian AJI mengambil sampel media cetak seperti Indo Pos, Kompas, Warta Kota, Republika, Suara Pembaruan, Koran Tempo, dan Media Indonesia, periode Juli-Agustus 2010. Sedangkan untuk televisi sampelnya adalah RCTI, SCTV, Metro TV, dan TVOne, periode Agustus-September 2010. :: KOMPAS/08mar2011

 


You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: