Animator Pamela Halomoan Bertekad Tembus Pasar Dunia

Pamela Halomoan, bangun usaha sendiri untuk mengejar impian.

Pamela Halomoan, bangun usaha sendiri untuk mengejar impian.

[SWA] – Hobi dan tekadnya yang kuat untuk mendalami desain, khususnya desain animasi, membuat Pamela Halomoan dikenal banyak orang sebagai character designer atau animator. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya media massa mengulas tentang dirinya sejak 2010 lalu, baik media massa atau media komunitas, dalam dan luar negeri.

Pamela, yang lahir pada 12 Juli 1992, sudah menyukai menggambar sejak sekolah dasar. Ketika SMP ia turut serta dalam pameran batik yang diadakan sekolahnya, Sang Timur. Ketika SMP pula ia sudah bercita-cita ingin mengambil sekolah desain di luar negeri. Namun orang tuanya tidak mengizinkan Pamela untuk sekolah di luar negeri. Orang tuanya hanya mengizinkan Pamela sekolah di luar negeri dengan syarat ia mendapat beasiswa. Cita-cita itu terwujud ketika ia berhasil meraih beasiswa dari Pemerintah Singapura untuk kuliah di Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA) pada kelas 2 SMA.

Untuk mendapatkan beasiswa itu juga tidak mudah. Ia harus mengikuti serangkaian tes dengan biaya yang tidak murah, sekitar Rp 2 juta lebih saat itu. Baginya, uang senilai itu cukup mahal. Ia pun dibantu oleh lima orang temannya yang patungan untuk membayar biaya tes beasiswa itu. Akhirnya bantuan teman-temannya pun tidak sia-sia. Pamela mendapat beasiswa yang ia mau.

Kuliah desain di Singapura seperti pintu gerbang menuju cita-citanya. Ia banyak belajar langsung dari dosennya. Ia juga banyak mengikuti pameran-pameran sejak 2010. Pameran yang ia ikuti pertama kali yaitu Papertoys Exhibition in Milk Gone Mad! Gallery di Istanbul Turki pada 2010. Setelah itu banyak pameran yang diikuti, mulai dari exhibition collaboration dengan “Thunderpanda” di Jakarta, Nanyang Academy of Fine Arts Graduation Show di Singapura, hingga “Drawing Connection” Siena Art Gallery di Italia.

Semenjak kuliah, ia juga bekerja sebagai freelance dan ketika lulus ia semoat bekerja selama sekitar satu tahunan di Singapura. Beberapa di antaranya yaitu sebagai Creative Designer di Reebonz Pte Ltd, Creative and Motion Designer di Multiply Indonesia, tenaga paruh waktu di studio animasi Dua M, magang sebagai desainer di Tuber Production, dan lainnya.

Sebagai freelance, Pamela sempat mengerjakan beberapa proyek seperti membuat ilustrasi untuk ajang pemilihan Koko-Cici di Jakarta (semacam kontes pemilihan untuk Abang-None Betawi untuk etnis Tionghoa), membuat ilustrasi animasi untuk asittingduck. com yang berkedudukan di Cardiff Inggris, membuat ilustrasi website Hari raya Lebaran untuk Telkom Flexi, dan masih banyak lagi.

Bercita-cita Menjadikan Karakter Hasil Desainnya Memasyarkat
Saat ini, Pamela mulai membangun usahanya sendiri dengan mendirikan perusahaan bernama PT Vira Inti Pratama, di mana di dalamnya terdapat dua unit usaha, yaitu usaha atau proyek pribadi Pamela dan usaha yang bermitra dengan kawan-kawannya yaitu Flash ID Indonesia. Mengenai unit usaha atau proyek pribadinya, Pamela membuat banyak karakter animasi. Ia ingin nantinya karakter-karakter animasi buatannya itu banyak dikenal orang.

Dari sekian banyak karakter animasi yang ia buat, ia fokus untuk mengembangkan beberapa karakter seperti karakter babi berwarna pink yang diberi nama Alberta, dua karakter dinosaurus yang diberi nama Wolly dan Arabella, dan karakter kodok yang diberi nama Froco. Saat ini Pamela tengah fokus mengembangkan karakter Wolly dan Arabella, serta Froco dengan menjadikannya sebagai tokoh di aplikasi permainan mobile di Blackberry atau di web yang dibuat bersama mitra. Selain itu, pada akhir tahun Pamela juga akan meluncurkan produk merchandise dari karakter-karakter yang dibuatnya itu.

Mengenai unit usaha yang ia jalankan dengan mitranya, dijalankan sebagai usaha konsultansi desain dan pengembang solusi, seperti web, game, dan sejenisnya. Menurutnya, biasanya klien mereka adalah perusahaan yang membutuhkan brand activation atau inovasi. “Lebih ke solusi,” kata Pamela, anak terakhir dari tiga bersaudara. Inilah wawancara SWA dengan Pamela Halomoan:

Pamela-Halomoan-341x500

Bagaimana mengembangkan penguasaan di bidang desain animasi sehingga bisa jadi profesi?

Saat SMP sudah ikut pameran batik yang diadakan di sekolah. Saya memang suka menggambar sejak sekolah dasar. Untuk pendidikan formal mengenai desain animasi saya dapatkan di Nanyang Academy of Fine Art (NAFA) pada 2008. Pendidikan di NAFA ini saya dapatkan setelah saya meraih beasiswa dari Pemerintah Singapura. Untuk meningkatkan kemampuan dan penguasaan di bidang ini, saya juga kerap mengikuti pameran-pameran seni di luar negeri. Selain itu, saya juga belajar dari para senior atau dosen di kampus dan beberapa orang di komunitas seni di Indonesia ketika kami bertemu saat pameran di Singapura.

Sebagai self-employed, bagaimana Anda memasarkan jasa Anda ke calon klien?

Saat lulus, saya langsung ditawari kerja di studio animasi di Singapura milik Najip Ali. Sempat kerja ke Multiply di Indonesia. Kemudian balik lagi ke Singapura. Selama saya bekerja di sana, saya juga lakukan freelance. Saya memasarkan jasa saya melalui internet dan pameran serta membangun networking karena menurut saya tiap orang memiliki network-nya sendiri-sendiri.

Klien di Indonesia, contohnya adalah Telkom Flexi. Untuk Telkom Flexi saya buat ilustrasi untuk website saat Lebaran pada 2010. Kebanyakan proyek yang saya terima untuk freelance ialah proyek ilustrasi. Ilustrasi untuk Koko-Cici Jakarta (semacam Abang None Jakarta, namun khusus untuk etnis China). Saya kebanyakan memasarkan diri ke luar negeri karena pola pikir orang Indonesia yang akan mengapresiasi seseorang ketika seseorang itu sudah terkenal di luar negeri.

Apa saja jasa atau produk yang anda tawarkan ke calon klien?

Banyak juga mengerjakan proyek-proyek yang dikerjakan secara tim. Misalnya Augmented Reality, pengembang website. Saya kontribusi dari sisi kreatif dan animasi dan tim saya yang jago di teknikal.

Saya punya PT Vira Inti Pratama yang baru didirikan awal tahun ini. Dalam PT ini terdapat dua unit usaha, yaitu proyek pribadi saya dan usaha saya dengan tim. Untuk proyek saya sendiri, saya membuat karakter design untuk membangun brand saya sendiri melalui katrakter-karakter itu yang akan dibuat merchandise pada akhir tahun ini. Saya buat PT ini agar bisa pitching ke klien. Unit usaha lainnya adalah saya menjalin kemitraan dengan tim Flash ID Interactive, di mana Flash ID ini sudah eksis sejak tujuh tahun lalu. Kami kerja sama untuk membuat proyek-proyek seperti AR, games, website.

Siapa target pasar anda?

Untuk proyek saya sendiri (karakter animasi yang dijadikan merchandise) lebih menyasar segmen anak-anak dan kolektor. Merchandise character yang saya buat rencananya akan diluncurkan pada akhir tahun. Modalnya cukup besar, maka saya mengumpulkan uang dulu untuk meluncurkan produk merchandise character yang saya buat. Nantinya, saya berencana untuk menjualnya ke luar negeri melalui internet dan kerja sama dengan gerai toko di luar negeri. Saya memutuskan untuk memasarkan produk saya ke luar negeri dulu karena menurut saya, orang Indonesia lebih menghargai produk yang sudah dikenal di luar negeri.

Saya juga berpartner dengan PT Digital Global Maxinema, perusahaan animasi, untuk mengembangkan dan membawa animasi karakter Indonesia ke luar negeri.

Untuk unit usaha lainnya bersama Flash ID Interactive, kami menerima konsultansi desain dan pengembang solusi, seperti web, game, dan sejenisnya. Saat ini kami masih pitching dengan beberapa perusahaan. Biasanya klien kami adalah perusahaan yang membutuhkan brand activation atau inovasi. Lebih ke solusi.

Bagaimana Anda terus memperbaiki jasa atau layanan pada klien?

Saya selalu meminta respons dan komentar dari klien terhadap layanan yang saya berikan. Mereka juga memberi masukan ke saya. Dari saya sendiri, jika memang layanan saya kurang memuaskan, saya memberikan klien cash back sebagian. Misalnya saya terlambat memberikan apa yang mereka minta, saya akan kembalikan sebagian uang yang sudah mereka bayarkan ke saya. Hal ini perlu untuk membangun trust.

Apa Anda yakin profesi ini akan terus menjanjikan? Mengapa?

Yakin. Karena saya sering gagal, maka saya yakin akan berhasil nantinya.

Bagaimana Anda melihat kebutuhan terhadap tenaga desainer animasi?

Sebenarnya kebutuhan akan tenaga di bidang ini tinggi. Namun karena penghargaan terhadap profesi ini masih kurang di dalam negeri, maka kebanyakan tenaga di bidang ini banyak hijrah ke luar negeri. Profesi ini banyak dibutuhkan untuk mendukung industri periklanan, prototyping, dan banyak lagi.

Gambaran kinerja. Berapa jumlah klien yang sudah pernah ditangani?

Banyak. Puluhan.

Nilai proyek yang terbesar?

Ratusan juta. Namun karena karena kerja tim, maka nilai itu dibagi-bagi lagi. Namun pendapatan rata-rata tiap bulannya masih belum sampai ratusan juta.

Berapa pemasukan tiap bulannya secara pribadi?

Saya pernah mendapat Rp 42 juta dalam satu bulan yang saya dapatkan tahun lalu ketika masih bekerja di Singapura. Namun untuk rata-rata tiap bulannya sekitar Rp 15 juta.

Target dan rencana ke depan?

Untuk jangka panjang, secara tim, kami ingin menjadi platform yang menyediakan layanan ke pelanggan korporat. Dari sisi pribadi, saya ingin meningkatkan branding bagi karakter-karakter yang saya buat.

Ada berapa karakter yang Anda buat?

Banyak sekali. Namun ada beberapa karakter yang saya fokuskan untuk dikenal, yaitu karakter babi berwarna pink yang saya beri nama Alberta, dua karakter dinosaurus yang saya beri nama Wolly dan Arabella, dan karakter kodok yang saya beri nama Froco. Saat ini saya tengah fokus mengembangkan karakter Wolly dan Arabella, serta Froco dengan menjadikan karakternya sebagai tokoh di aplikasi permainan mobile di Blackberry atau di web yang dibuat bersama mitra saya. Selain itu, pada akhir tahun saya juga akan meluncurkan produk merchandise karakter-karakter ini.

Saat ini kami juga tengah mengembangkan aplikasi permainan dengan berlatar cerita daerah di Indonesia yang menggunakan karakter yang saya buat untuk anak-anak. Kemungkinan besar akan diluncurkan pada Mei tahun ini.

Obsesi?

Memiliki TV Show untuk anak-anak yang bersifat edukatif karena saya prihatin dengan tontonan anak-anak saat ini. Dulu ada program televisi untuk anak-anak seperti Si Unyil. Sekarang tidak ada tontonan seperti itu.

Idola Anda?

Saya suka karakter yang dibuat Tim Burton. Saya ingin ketika orang melihat karya atau karakter yang saya buat, maka orang akan ingat saya. Sesederhana itu. Saya juga suka Steve Jobs dari sisi bisnis yang dapat melambungkan Apple. :: SWA/RanggaWiraspati/11apr2013

Pamela Halomoan Ingin Meluncurkan Merchandise Karakter Karyanya | SWA.co.id.

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: