Bela Hak Bersekolah, Retno Rintis ‘Sekolah Jalanan’

 
ASTRALIFE.CO.ID – Afrizal (12) berkutat dengan soal matematika yang membuatnya pusing. Gurunya dengan sabar mengajarinya berulang kali, namun anak laki-laki yang biasa mangkal di simpang jalan itu masih saja kesulitan memecahkan soal persamaan sederhana.
 
Matematika adalah momok bagi Afrizal, namun ia berusaha untuk tidak menyerah. Sejak drop-out dari kelas tiga sekolah dasar, ia tidak pernah lagi berurusan dengan mata pelajaran itu. Sebaliknya, ia pandai membuat graffiti, belajar dari kawan-kawannya yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan.
 
Afrizal adalah anak jalanan di kota Solo, yang setiap hari mengamen di lampu merah. Kulitnya gelap terbakar matahari dan rambutnya merah kekurangan nutrisi. Hidupnya kucing-kucingan dengan polisi pamong praja yang rajin merazia pengemis, pengamen, gelandangan, dan orang gila di jalan raya. Ia meniru hidup di jalanan dari sang ibu yang juga seorang pengamen.
 
Beruntungnya, dua tahun lalu, ia bertemu relawan yang mengajaknya untuk belajar di sekolah Seroja, sekolah gratis khusus untuk anak jalanan, terlantar, dan miskin. Sekolah ini memang tidak sepenuhnya bisa mencegah anak-anak jalanan kembali ke komunitasnya, tetapi setidaknya memberikan harapan bagi Afrizal dan kawan-kawan untuk melanjutkan pendidikannya yang putus karena faktor ekonomi.

Pendidikan Gratis Anak Jalanan

“Sekolah di sini menyenangkan, gratis, dan semua guru baik dan sabar meskipun kami sering nakal,” ujar Afrizal.
 
Seroja adalah yayasan sosial yang dirintis sejak 2009 oleh Retno Heny Pujiati, seorang pendidik yang begitu peduli terhadap hak anak, terutama mereka yang terpinggir dan kurang beruntung secara ekonomi. Kegiatan utamanya adalah menyediakan akses pendidikan gratis melalui sekolah semiformal.
 
“Pendidikan adalah hak setiap anak. Kami percaya memberikan pendidikan kepada anak jalanan dan mereka yang terlantar lebih baik daripada memberikan uang, karena dengan bersekolah mereka punya kesempatan untuk meraih masa depan dan meninggalkan jalanan,” kata Retno.
 
Retno membiayai kerja sosialnya dengan menyisihkan gaji yang diperolehnya sebagai guru di sebuah sekolah formal sebelum ia mendapat donasi dari orang-orang. Upaya Retno dan kawan-kawan tidak gampang dalam menarik minat anak jalanan untuk kembali ke sekolah, karena anak- anak lebih tertarik mencari uang recehan.
 
Mereka beberapa kali mendatangi lokasi berkumpulnya anak-anak jalanan dengan membawa makanan untuk dibagikan serta mengajak mereka belajar. Lain hari, mereka datang kembali membawa buku-buku pelajaran.
 
Awalnya, Retno merintis ‘sekolah jalanan’ dan mengajar anak-anak jalanan dari satu tempat ke tempat lainnya di sore hari selepas ia mengajar di sekolah tempatnya bekerja. Sampai suatu hari, ia menggagas untuk mengumpulkan anak-anak di sebuah sekolah semiformal di Jebres, Surakarta.
 

Kelas Lesehan Tanpa Kursi

Saat ini Seroja memiliki 40 siswa aktif, dan lebih dari setengahnya merupakan siswa sekolah dasar. Kecuali Jumat yang merupakan hari olahraga dan kegiatan luar ruang, aktivitas belajar-mengajar setiap hari dimulai pukul 8.00 hingga 11.00 di ruangan rumah yang ‘disulap’ menjadi kelas lesehan tanpa kursi.
 
Anak-anak berpakaian bebas tanpa seragam sekolah. Semua bahan ajar, buku, dan perlengkapan di sediakan gratis oleh Seroja. Sekolah juga dilengkapi perpustakaan dengan koleksi lebih dari 2.000 buku dan ruang komputer yang disediakan gratis untuk siswa.
 
Seroja dikelola oleh 12 orang staf di bantu para relawan yang kebanyakan sarjana pendidikan yang baru lulus kuliah. Yayasan ini juga menerbitkan buletin berkala Seroja untuk mendukung hak-hak anak miskin atas pendidikan.
 
Meskipun merupakan sekolah semiformal, Seroja menerapkan kurikulum layaknya sekolah formal. Namun, materi pelajaran dibuat sedikit lebih mudah karena pertimbangan bahwa kebanyakan anak jalanan memiliki kesulitan dalam hal belajar.
 
Setelah kelas enam, anak-anak bisa mengikuti ujian persamaan untuk melanjutkan ke sekolah formal. Sebagian besar dari mereka lulus ujian dan melanjutkan ke SMP dan SMA, dan sisanya tetap melanjutkan belajar di Seroja dengan jenjang lebih tinggi.
 
Mata pelajaran yang diajarkan juga sama dengan sekolah umum, yaitu sains, ilmu sosial, pendidikan kewarganegaraan, agama, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan matematika. Bedanya, Seroja juga membekali siswa dengan keterampilan dan kewirausahaan seperti membuat ayam goreng, pencelupan dan pewarnaan kain, serta ilmu komputer.
 
“Kami menerapkan modul lembar kerja yang memiliki pertanyaan mirip dengan soal tes meskipun kami tahu ini sulit bagi anak-anak. Tetapi, kami perlu mempersiapkan mereka untuk ujian persamaan,” kata Yeni Hendrawati, salah seorang guru di Seroja.
 

Kendala Terletak di Orangtua Anak-anak

 
Menegakkan disiplin di sekolah Seroja bukan pekerjaan mudah, karena perlu mengubah kebiasaan anak-anak yang hidup tanpa aturan. Beberapa anak sudah kecanduan internet dan game online. Sore hari mereka mengamen, lalu malam harinya menghabiskan uang di warnet berjam-jam bahkan sampai larut. Paginya, mereka bangun kesiangan dan tidak masuk sekolah.
 
Namun, para relawan di sekolah ini tetap sabar untuk mengajari mereka pentingnya kedisiplinan agar mereka belajar menaati aturan. Meskipun demikian, Seroja tidak membuat aturan yang mengekang anak-anak, karena hal ini justru akan semakin membuat mereka malas untuk sekolah dan memilih kembali ke jalan.
 
Kendala utama menarik anak-anak miskin kembali ke sekolah justru sebagian besar berasal dari orang tua mereka sendiri. Kebanyakan orangtua membiarkan, atau malah menyuruh, anaknya mencari uang di jalan dengan mengamen dan meminta-minta.
 
“Kami menemukan banyak kasus di mana anak-anak justru dipekerjakan oleh orangtuanya sendiri. Upaya pertama kita adalah mendatangi orang tua dan meyakinkan mereka untuk mendorong anaknya kembali ke sekolah,” kata Ardian, staf kampanye pendidikan anak di Seroja.
 
Untuk memengaruhi orangtua, para relawan menjanjikan sekolah tanpa pungutan biaya. Bahkan segala kebutuhan sekolah, jika diperlukan, seperti tas dan sepatu, akan disedikan oleh yayasan secara gratis. Mereka juga proaktif untuk memberikan layanan antar-jemput bagi anak-anak yang rumahnya cukup jauh dari lokasi sekolah.
 

Mendampingi Korban Perdagangan dan Eksploitasi Anak

 
Tidak hanya untuk anak-anak putus sekolah akibat kemiskinan, Seroja juga membuka diri untuk memberikan bantuan advokasi bagi korban perdagangan dan eksploitasi anak. Beberapa tahun lalu, sekolah ini juga menyelamatkan dan menampung gadis kecil korban perdagangan anak yang berhasil melarikan diri dari Batam ke Solo.
 
Seroja juga menampung Da, 13, anak perempuan yang pernah dipekerjakan di pabrik pengasinan ikan dan kebun sawit di wilayah Sumatera Utara selama beberapa tahun tanpa upah dan tanpa diberi hak atas akses pendidikan.
 
“Saya baru bisa membaca sekarang setelah bersekolah di sini. Sebelumnya saya sama sekali tidak pernah merasakan sekolah karena dipaksa bekerja seharian penuh,” katanya.
 
Seroja adalah harapan bagi anak-anak miskin yang selama ini tidak bisa bersekolah karena biaya mahal, atau tidak punya kesempatan karena terpaksa harus mencari uang untuk menyambung hidup. Ia mematahkan mitos bahwa anak miskin dilarang sekolah.
 
Seroja mengajarkan semangat mencintai kehidupan dan memberikan kesempatan kedua bagi anak-anak yang kurang beruntung untuk tetap memiliki mimpi dan meretas asa. :: ASTRALIFE.CO.ID/jan2016

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: