Bersepedaan, yuk! [Bike To Work]

Nana P, 16 Juli 2008

Beberapa minggu yang lalu, aku disapa oleh seseorang di Multiply page-ku yang beralamat di http://afemaleguest.multiply.com. Sapaan dari seseorang yang beralamat di http://aluizeus.multiply.com itu merupakan ajakan untuk ikut komunitas “b2w”.

“b2w” apaan yah?” tanyaku kepada seorang rekan kerja, sekeluarku dari warnet yang terletak di sebelah tempat kerjaku.

“No idea either, Ma’am,” jawabnya.

But then ketika di buku CV1 yang dia bawa dia temukan istilah ‘bike to work’, kontan dia langsung berkomentar, “Bike to work, kali Ma’am?”

“Aha … probably,” jawabku.

Kontan aku ingat Abangku yang pernah bercerita tatkala dia masih tinggal di Kelapa Gading, Jakarta dia pernah memiliki kebiasaan ‘bike to work’, alias berangkat bekerja naik sepeda. Waktu itu dia memiliki kantor yang berlokasi di kompleks perumahan yang sama, Kelapa Gading, tahun 1998-2001, sehingga dia bisa mempraktekkan kebiasaan yang ramah lingkungan ini, tanpa harus menjadi ‘korban’ menghirup udara Jakarta yang penuh polusi (karena tidak perlu keluar dari kompleks.) itu. Kadang-kadang dia bersama komunitasnya melakukan off-road trip ke daerah Puncak dan sekitarnya dengan naik sepeda tentu saja. FYI, dia pindah ke OZ tahun 2002. Sejak itu hanya di musim summer saja dia bersepeda di akhir pekan.

Waktu aku bercerita kepadanya aku pernah naik sepeda untuk ‘napak tilas’ jalan-jalan yang kulalui sewaktu ikut karate LEMKARI di bangku SMP sejauh 10 kilometer (dalam kegiatan karate, kita melaluinya sambil berlari, campur berjalan kaki, tanpa memakai alas kaki), dia ketawa, “Ah, 10 kilometer sih kecil Na. Itu jarak yang kulahap setiap hari!” katanya. Lah, memang aku kecil, sedangkan dia besar! Hahaha … But, aku lupa satu hal yang seharusnya kuceritakan kepadanya waktu itu.

Waktu ‘napak tilas’ itu, aku sendirian, naik sepeda mini berwarna kuning milik kakakku (NOTE: bagi pengunjung baru blogku, yang kusebut ‘kakakku’ berbeda dengan ‘Abangku’), dengan kondisi rem blong. So? Tatkala melewati tanjakan, sepeda kutuntun, waktu di jalan menurun pun sama, sepeda juga kutuntun. LOL. (NOTE: bagi orang Semarang, route napak tilas ini dari Pusponjolo ke arah Selatan, ke daerah Gedung Batu Sam Po Kong, Phaphros (carane nulis piye? Aku lali! LOL), naik ke daerah Jalan Gedong Songo, jalanan menanjak, (kalau ga salah ingat nama jalannya), trus sampai di daerah Manyaran, belok kanan yang sekarang menuju ke Gedung Persaudaraan Haji, turun setelah melewati rumah dinas Walikota Semarang, sampailah di Jalan Abdul Rahman Saleh, sebelum sampai Museum Ronggowarsito, belok kanan ke daerah Jalan Soeratmo, trus belok kiri ke arah Pamularsih, dari depan SMA Kesatrian, terus lurus ke Timur, sampai ke daerah Pusponjolo kembali.)

Kembali ke sapaan di multiply page-ku.

Betapa senang aku mendengar mulai ada komunitas ‘b2w’ di kota kelahiranku ini, meskipun rada skeptis karena kontur geografis Semarang yang kurang mendukung untuk bike to work. Semarang memang terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi. Bagi Abangku yang telah memiliki ‘track record’ mengikuti off-road trips tentu dataran tinggi ini tidak menjadi masalah, namun bagi para pemula, wah … ngos-ngosan pisan!!! Bayangkan aku yang tinggal di Pusponjolo, dataran rendah, berangkat kerja ke kantor yang terletak di daerah Tembalang, dataran tinggi. (melewati berapa ‘bukit’ tuh? Naik di Gajah Mungkur, kemudian di Jalan Sultan Agung, Jalan Teuku Umar, dan puncaknya, di Gombel.) Sampai kantor, pingsan. LOL.

Seminggu berikutnya, mas Triyono yang beralamat di http://aluizeus.multiply..com menyapaku lagi, “Kalau mbak Nana sempat ke Simpang Lima besok Minggu pagi, mampir ya ke komunitas b2w Semarang, kita kumpul di depan gedung Telkom Jalan Pahlawan. Kita memasang tagline bike to work berwarna kuning di bawah sadel.”

He is such a determined person, isn’t he??

Melihat kegigihannya, aku menawarkan adikku yang mulai menyukai naik sepeda untuk pergi ke tempat-tempat yang tidak jauh dari rumah, misal ke pasar. Ini berkat ‘komporan’ kakakku yang sudah mulai bike to work di tempat tinggalnya di Cirebon. Ternyata adikku senang dengan tawaran ikut komunitas b2w.

By the way …

Meskipun aku sempat menawari Angie mengantarnya ke sekolah naik sepeda, tatkala harga bensin naik sampai Rp. 6000,00 per liter, (Angie langsung menolaknya mentah-mentah!!!) untuk benar-benar mempraktekkan kebiasaan bike to work, aku punya satu kendala yang sangat mengganjal. AKU BELUM PUNYA SEPEDA milik sendiri.

Di rumah saat ini ada dua buah sepeda. Yang pertama, sepeda federal, yang di’import’ dari Cirebon tahun 1991, sehingga dia seusia my Lovely Star. Sepeda ini sudah lumayan lama, bertahun-tahun, mangkrak tidak dipakai. Setelah adikku dikompori kakakku untuk bike to work, sewaktu dia ke Cirebon beberapa bulan lalu, dia akhirnya memperbaiki sepeda yang sudah seusia Angie ini, dan kemudian mulai menaikinya, untuk olah raga, beberapa kali seminggu di pagi hari.
Sepeda yang kedua, sepeda mini, yang bentuknya tidak mini alias cukup besar, baru saja di’impor’ dari Cirebon juga beberapa minggu yang lalu. Sepeda ini dikirim kakakku untuk sarana olah raga adik bungsuku yang di bulan Desember dan Januari kemarin sempat opname di rumah sakit karena terkena penyakit typhoid dan dengue fever. Banyak orang yang menyarankannya untuk mulai rajin berolah raga untuk meningkatkan daya immune tubuhnya. Ditengarai karena dia tidak pernah berolah raga, tubuhnya menjadi rentan penyakit. Itu sebab kakakku tidak keberatan mengirimkan sepeda yang biasanya dinaiki istrinya ke Semarang. Lah, trus kakak iparku itu naik sepeda apa dong? Kebetulan, selain sepeda yang biasa dia naiki untuk berangkat ke kantor, kakakku punya sepeda ‘tandem’ yang bisa dinaiki berdua, sehingga sepeda ‘tandem’ ini cukup menjadi sarana olah raga jika kakak iparku kepengen berolah raga bareng kakakku.

Aku belum ada rencana untuk membeli sepeda sendiri. Rencana dalam waktu dekat: naik sepeda—pinjam sepeda mini yang semula milik kakak iparku itu—untuk pergi ke Paradise Club, tempatku ber-erobik ria maupun fitness dan berenang, yang terletak di Pondok Indraprasta, selama Angie libur kenaikan kelas, yang katanya berlaku selama kurang lebih tiga minggu, mulai 22 Juni sampai 13 Juli 2008.

http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/bersepedaan-yuk.html

Minds are like parachutes, they only function when they are open. (Sir James Dewar)

visit my blogs please, at the following sites
http://afemaleguest.blog.co.uk
http://afeministblog.blogspot.com

http://afemaleguest.multiply.com

Speak Your Mind

*


1 + = 3

Prakarsa perempuan independen Indonesia sejak 2008.

Hak cipta isi milik sumber masing-masing naskah.