[buku] Semua Ada Waktunya karya Magdalena Sitorus

“Yang memberatkan bagi kami
adalah rasa rindu padanya (pasangan)”.

[RAHIMA.OR.ID] – Begitu paparan ibu Magdalena Sitorus, di awal acara soft Lounching buku “Semua Ada Waktunya”. Buku yang mengisahkan 6 sosok perempuan (Saparinah Sadli, Shinta Nuriyah Wahid, Suciwati, Widyawati, Damayanti Noor dan Magdalena Sitorus) yang harus berjuang mengatasi hati yang luka karena ditinggalkan pasangan jiwa (karena meninggal), menghadapi lingkungan yang kadangkala tidak ramah dengan status janda, mencari jalan untuk keluar  dari kesedihan dan memulai hidup menjadi single parent bagi anak-anak yang sudah kehilangan sosok bapak.

Peluncuran buku yang dilaksanakan di Galeri Nasional-Jakarta Pusat,  30 Oktober 2012 ini berbeda dengan peluncuran buku pada umumnya dimana buku yang diluncurkan sudah tersedia. Tetapi kali ini buku belum selesai di cetak saat acara ini diadakan. Butuh waktu 1 bulan lebih setelah waktu peluncuran untuk mendapatkan buku yang diterbitkan Jalasutra, bekerjasama dengan Komnas Perempuan, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKA), dan DEMOS.

Buku ini unik karena isinya tentang mengungkapkan rasa, asa, kegundahan, kegalauan, bahkan pikiran-pikiran yang berkecamuk , terbalut dalam tuturan kata yang apa adanya. Apalagi yang mengungkapkannya adalah sosok-sosok perempuan yang cukup dikenal khalayak umum,

Magdalena Sitorus, membukukan tutur 6 perempuan yang kehilangan pasangan hidup, di antaranya dirinya sendiri.

baik karena sosok mereka sebagai public figure maupun karena pasangan mereka adalah public figure.  Seperti Magdalena Sitorus (penulis, istri Alm. Asmara Nababan tokoh aktivis), Saparinah Sadli (tokoh aktivis perempuan, pendiri Komnas Perempuan, istri Alm. prof. Sadli), Shinta Nuriyah Wahid (pendiri Puan Amal Hayati, istri Alm. Abdurrahman Wahid mantan presiden RI ke-3), Suciwati (perempuan pembela HAM, istri Alm. Munir aktivis HAM), Widyawati (artis, istri Alm. Sophan Sophian yang artis juga), dan Damayanti Noor (istri penyanyi Chrisye penyanyi yang terkenal dengan lagu-lagu syahdunya)

“Menulis seringkali menjadi obat dari permasalahan yang dihadapi seseorang, menulis menjadi media curhat kepada jiwa dan diri sendiri, saat semua rasa galau tidak bisa diutarakan ke orang lain.” Begitulah yang diakui ibu Magdalena sebagai penyusun buku ini, hobi menulis diary-nya sejak muda, membantunya untuk menjadi obat berjuang kembali ke realitas hidup.

Buku ini menjadi inspirasi bagi kita semua, karena dari buku ini kita belajar memahami atau membenahi sikap kepada orang yang berduka untuk menunjukkan kita berempati dengannya, karena seringkali sikap, tindakan maupun kata-kata yang kita tujukan untuk menghibur malah membuat mereka terluka. Buku ini tidak hanya cocok untuk diri kita sendiri tetapi juga sangat layak untuk hadiah teman, saudara atau kenalan kita  apalagi kalau mereka mengalami nasib yang sama. Buku ini bisa menjadi inspirasi bagi mereka bahwa mereka tidak sendiri. :: rahima.or.id/Ulfah Mutiah Hizma/27feb2013

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: