Cerita Perempuan yang Ingin Jadi Kades

 

Toyo adalah anggota milis Perempuan yang pada 29 Mei 2008 menurunkan cerita berikut:

Tadi malam pada saat mau tidur saya ditelpon oleh seorang teman. Teman saya ingin cerita soal kakak perempuannya di kampung. Dia mengatakan bahwa kakak perempuannya baru saja “kalah” dalam pemilihan kepala desa di salah satu desa di Kabupaten Siantar Propinsi Sumatera Utara.

Kab. Siantar mempunyai masyarakat yang berlatar belakang etnis Batak dan banyak beragama Kristen dan Katolik, walau ada penganut Islam dan Budha. Kakak perempuannya shock dan down atas kekalahannya, karena menurut temanku ia kalah sangat tipis ( 5 suara) dari pemenangnya (seorang laki – laki).

Kekalahan tersebut, menurut informasinya, karena kecurangan (walau saya sendiri tidak tahu detail bentuk kecurangan oleh panitia tersebut). Tapi menurut teman saya ada sekitar 83 kertas suara yang rusak yang semuanya kertas suara yang memilih untuk kakaknya. Menurut teman saya itu, kertas-kertas suara itu seperti robek oleh kuku atau jari. Dan kakak teman saya itu curiga kenapa terlalu banyak kertas suara rusak dan semuanya ada pada kertas suara yang memilih dirinya. Ini yang membuat kecurigaan besar sekali. Sehingga sampai penghitungan suara berakhir hanya selisih 5 suara dari pemenang.

Kakak teman saya itu adalah seorang penganut Katolik, dari lahir sampai sekarang tinggal di Kabupaten Siantar. Sehari-hari ia bekerja sebagai seorang guru swasta di SMU Katolik Kab. Siantar. Dia mempunyai 3 orang anak yang yang semuanya sudah bekerja dan sarjana (kecuali yang bungsu yang anggota TNI AD). Untuk menjadi calon kepala desa saja dia harus mengeluarkan dana untuk kampanye sekitar 20 Juta. Dari informasi yang saya dapat, kakak temanku itu sebenarnya mau mengajukan gugatan, cuma dia sendiri tidak tahu harus ke mana melakukan gugatan tersebut.

Dari kejadian tersebut saya jadi teringat lagi setahun yang lalu. Teman perempuan saya menelepon saya karena dia tidak direstui menjadi kepala desa oleh ayahnya. Ayahnya adalah seorang ulama di desa. Alasannya klise, yaitu karena perempuan tidak dapat menjadi pemimpin. Teman saya itu adalah seorang perempuan yang lahir dan besar di Jawa Timur dan seorang Muslim dan bekerja sebagai guru.

Dari dua kasus tersebut, yang keduanya perempuan, yang satu berasal dari etnis Jawa dan Muslim sedangkan yang satu lagi Katolik dan etnis Batak. Tetapi persoalan yang dihadapi hampir sama, yaitu bagaimana sulitnya perempuan merebut kepemimpinan dan duduk di ranah publik atas dasar motif yang berbeda-beda. Saya yakin bahwa ini hanya contoh dari wajah perempuan Indonesia yang akan duduk di ranah publik. Ada keberanian dan kemauan juga tidak menjamin perempuan dapat langgeng untuk duduk di ranah publik.

Saya cuma ingin mewacanakan bahwa UU Politik menjadi titik awal bagi kita semua untuk bekerja lebih keras untuk dapat memasukkan perempuan. Kebijakan yang sekadar “ramah” terhadap perempuan tidak akan menjamin perempuan memperoleh akses pada ranah publik tersebut. Lebih dari itu, kita masih harus dihadapkan lagi dengan benturan budaya dan sosial masyarakat yang masih sangat patriaki, terlihat dari dua kasus di atas.

<Toyo, anggota milis Perempuan>

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: