[cerpen] Perempuan Ini

Orang-orang membicarakannya. Mereka tidak menyebut namanya, atas nama gengsi semata. Pembicaraan mengenai hidupnya selalu memberikan sensasi tersendiri bagi mulut-mulut yang tak terkunci rapat itu untuk terus menerus menciptakan pro-kontra akan dirinya di mana terbentang jembatan panjang dengan dua jalur berlawanan. Utara dan selatan. Positiva – negativa.

Alden, 36 tahun, presiden direktur

Saya jatuh cinta sejak pertama kali menatapnya. Lebih jatuh lagi ketika tanpa paksaan ia menyerahkan dirinya sepenuh hati. Tubuh, pikiran, dan jiwa. Ia merupakan sosok impian yang sulit dimenangkan hatinya, terlebih untuk dimiliki. Saya sudah membayangkan mahligai indah bersamanya, andaikan saya diizinkan menikahinya, oleh istri pertama saya.

Philippe, 51 tahun, ekspatriat Prancis

Saya melihat dan menikmati keindahan duniawi dari sudut pandang yang berbeda, sejak perlahan-lahan ia berjingkat memasuki hati saya. Ia menyembuhkan ketidakwarasan saya dalam menghakimi sesuatu atau bahkan seseorang. Kami sempat menguasai waktu hingga tak tersadarkan berapa lama tertidur dan kapan terbangun kembali. Usia kami yang terpaut tigapuluh tahun sama sekali tidak menjadi masalah, sebelum diketahui orangtuanya. Hari di mana ia meninggalkan cita-cita kami di masa mendatang, saya kembali dilingkari kesinisan. Membuat saya tak mampu menahan diri untuk mengatakan “Selamat datang kembali, ketidakwarasan.”

Laura, 28 tahun, assistant marketing manager

Bidadari. Begitu impresi yang hinggap di kepala ini pada pertemuan pertama kami di sebuah restoran mewah di bilangan Kemang. Seorang teman yang mengenalkannya kepada saya. Sempat juga kami mengadakan pesta bersama-sama, juga curhatan yang tentunya tidak hanya terjadi sekali dua. Lama kelamaan saya menobatkannya sebagai sahabat, kurang dari setahun perkenalan kami. Sampai akhirnya sebutan yang saya berikan kepadanya lantas bukan lagi ‘bidadari’, sebab ia lebih pantas menyandang sebutan ‘pelacur keparat’—setelah belakangan saya ketahui ia membuat suami saya ereksi berkepanjangan hingga ejakulasi berkali-kali.

Ajisaka, 16 tahun, siswa SMU

Aku tidak pernah melihatnya menangis, meski terlihat jelas hidup yang ia jalani seringkali menyiratkan derita. Ketika aku sempat putus sekolah beberapa tahun lalu, ia yang mengusahakan agar aku kembali menjadi seorang siswa teladan. Ketika ibuku divonis menderita penyakit ginjal, ia juga yang membantu agar ibu mendapat perawatan medis yang layak demi kesembuhannya. Ia bukan orang sembarangan. Setahuku orangtuanya termasuk dalam daftar orang terkaya ke duapuluh sekian di Indonesia, namun ia tak pernah sekali pun menyombongkan perihal itu. Ia adalah perempuan hebat berhati malaikat. Aku selalu berdoa untuknya, untuk hidupnya.

Tarina, 21 tahun, aktivis lingkungan hidup

Kami selalu duduk sebangku sejak kelas satu SD hingga kelulusan SMU. Bosan? Mana mungkin?! Ia selalu mewarnai persahabatan kami dengan ketulusan dan cerita konyolnya yang kerap mengundang gelak tawa saya. Ia tidak pernah mengejek saya seperti yang dilakukan teman-teman lain perihal tubuh saya yang tipis segaris bagaikan triplek berjalan. Ia senang berbagi, baik makanan hingga jawaban ulangan kimia yang rumit minta disambit. Kemana-mana kami selalu berdua; kantin, laboratorium, gereja, tak lupa toilet juga. Namun seiring jalannya persahabatan kami yang diwarnai kebahagiaan, maka ia pun sering membuat saya ngeri ketakutan. Tidak, ia tidak mencoba mencelakai saya. Sebaliknya ia sering mencelakai dirinya sendiri, demi setetes air mata kedamaian. Pernah suatu kali ia mendatangi rumah saya lewat tengah malam, dalam keadaan mabuk dengan kedua tangan bersimbah darah. Goresan kasar di mana-mana. Saya kalut. Ia malah tertawa kecil, “Aku baik-baik saja. Habis bercinta dengan serpihan! kaca.” Lalu tertidur hingga dijemput pagi.

Gilang, 28 tahun, wiraswasta

Ia sungguh luar biasa. Gila! Lima ronde semalam suntuk, tak pernah terbayangkan sebelumnya.

William, 35 tahun, pengangguran tanpa harapan

Kalau saja dulu saya tidak terbuai kecantikan dan rayuannya yang tak terelakkan itu, sudah dapat dipastikan karier saya semakin menanjak. Betapa tidak, tak lebih dari dua puluh empat jam setelah ia meracuni dengan mantra penggoda dan membawa saya terbang mencapai puncak nirwana, saya dipecat secara tidak terhormat dari perusahaan yang maju pesat karena integritas saya selama sepuluh tahun terakhir, lengkap disertai referensi buruk yang diedarkan ke segenap perusahaan lain agar tidak merekrut saya, baik secara lisan maupun melalui milis di internet. Saya dipecat secara tidak terhormat oleh komisaris perusahaan, yang tak lain adalah ayahnya.

Cynthia, 25 tahun, pemain sinetron

Bajingan. Perempuan laknat. Tidak tahu diuntung. Semoga ia mati sekalian.

Hanafi, 29 tahun, HRD manager

Hingga hari ini, saya tetap mencintainya. Tidak peduli apa yang dikatakan orang-orang. Kami sempat menjalin hubungan selama setahun. Setahun yang terasa singkat namun berarti—bagi saya. Saya yakin, ia pernah mencintai saya begitu dalam, sebelum saya menyakitinya dengan menghamili perempuan lain. Ia tidak meninggalkan satu jejak pun meski saya berlutut memohon ampun. Ia tidak menoleh barang sedikit saja ketika saya berteriak seperti kesetanan memanggil namanya agar ia kembali. Ketika saya sudah berada pada titik beku yang terasa begitu pahit dan kelu, ia melayangkan kata-kata, “Aku sudah membebaskanmu. Maka nikmatilah dunia di luar penjaramu yang dulu.” Tertulis rapi pada sebuah kartu beramplop beludru, disertai selusin bunga kamboja. Tepat di hari pernikahan saya.

Clarice, 47 tahun, dokter

Saya tidak pernah bermimpi atau membayangkan segalanya akan menjadi seperti ini. Saat saya melahirkannya dua puluh satu tahun lalu, yang saya temukan pada pancaran wajahnya adalah bening embun pagi pada daun cemara yang merekah. Saat itu pula saya meyakinkan diri bahwa Tuhan begitu murah hati kepada saya hingga Dia mengirimkan malaikat cinta yang begitu cantik mempesona dalam kehidupan kami. Namun lambat laun tidak ada lagi malaikat cinta yang saya miliki, karena ia telah berganti wujud menjadi seekor elang liar. Sehingga meskipun ia tersenyum dan wajahnya tak luput dari kecantikan, ia selalu mengirimkan kengerian yang mendalam dan menusuk hati saya tanpa bisa diobati. Bahkan ketika kami masih tinggal satu atap, saya tidak mengenalnya sama sekali. Pernah suatu hari ia pulang sambil menggendong seekor kucing anggora abu-abu, dengan sirat kebahagiaan di matanya. Saya ikut bahagia melihatnya, maka saya mengatakan betapa manisnya kucing itu. Tanpa disangka, esok paginya kucing i! tu tergantung pada tiang bendera di halaman rumah, dalam keadaan mati akibat sebelas tusukan. Lalu ia baru kembali setelah pergi dan tidak pulang selama tiga hari dengan menggendong kucing lain yang kali ini berwarna coklat keemasan. Meski ia terlihat bahagia, kali ini saya tidak tersenyum atau mengucapkan sepatah kata pun—agar tidak perlu ada lagi kucing yang mati esok pagi.

Romo Kristo, 58 tahun, pendeta

Semoga gadis malang itu senantiasa dalam lindungan-Nya.

Dr. Ir. Prasetya Rangga Tjakrawardana, 52 tahun, konglomerat

Saya tidak akan berkomentar apa-apa (meski saya ayahnya).

Perempuan Ini, 21 tahun, manusia bumi

Perkenalkan, nama saya Aida. Namun orang-orang di luar sana kerap memilih tak menyebut nama saya. Tanpa gelar apa-apa. Usia baru menginjak kepala dua. Bukan mahasiswi, bukan pula pelacur korporasi. Saya hanya salah seorang dari milyaran penghuni bola biru kehijauan bernama bumi, yang menguak rahasia hitam kehidupan dalam goresan kuas di atas kanvas. Saya melukis—bukan pelukis apalagi penyanyi, karena itu jangan menghakimi Tuhan— seperti yang dilakukan ibu saya—kalau suara saya tidaklah enak kala bernyanyi, terlebih dalam melagukan nada yang membutuhkan kemahiran tinggi seperti suara Charlotte Church. Nilai rapor selama sekolah tak pernah kurang dari delapan. Inggris, Belanda, dan Prancis hanyalah tiga dari sekian bahasa yang saya kuasai. Saya mencintai anak-anak, karenanya saya peduli dan selalu menyediakan waktu serta pikiran untuk membantu dan melindungi mereka, terutama yang kurang beruntung. Saya agnostik. Tidak merokok, namun gemar menenggak berbotol-botol alkohol ! hingga baunya tak hilang meski saya menggosok gigi sebanyak tiga kali. Saya tidak perawan. Saya sudah tidak perawan bertahun-tahun lamanya, sejak disetubuhi ayah kandung sendiri. Bajingan, memang. Saya juga punya seorang ibu yang tidak ada gunanya bagi saya. Ia ada, namun sesungguhnya ia tak lagi ada. Sebab ia terlampau angkuh untuk bisa melindungi saya, bahkan dari perbuatan suami keparatnya yang kerap kali mondar-mandir di sejumlah tayangan televisi sebagai pembicara di program talkshow, sebagai pria terhormat yang menyandang nama besar. Saya tidak gila seperti kata mereka. Saya hanya berbeda. Semua makhluk berbeda, bukan? Namun mereka terus menerus memberi nama baru untuk saya. Si cantik. Si anjing. Si penolong. Si perempuan laknat. Si malaikat. Si lonte. Si penyayang. Si pelacur keparat. Dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya. Saya digunjingkan, tanpa ada tanda- tanda gunjingan itu akan segera diakhiri. Saya tidak peduli. Apakah saya ‘kiri’? Sekali lagi, saya ! tidak peduli. Jangan salahkan saya bila diantara mereka yang m! enggunji ng, tak sedikit pula yang menyanjung dan memuja. Bukan apa-apa. Saya toh hanya perempuan. Dan bukan berarti perempuan tidak melakukan apa yang dilakukan laki-laki. Itu saja.

 

Novieta Tourisia
28 Desember 2007
14:33 WIB

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: