[cerpen] Terbunuhnya Seorang Perempuan

Dia datang ke rumahku, dengan maskara belepotan, alis yang berantakan, nafasnya tak beraturan, balita tergandeng di tangan.

Dia bilang, “Ada dua puluh ribuan? Uang taksinya kurang.”

Dia hempaskan pantatnya di sofa, dia habiskan air es dalam satu helaan. Aku putar dvd kartun untuk anaknya, lalu kutatap wajahnya.

Dalam hati aku bertanya, inikah wajahnya sekarang?  Wajah yang dulu cantik, mata yang pernah bersinar, wajah yang dulu penuh cita cita, mata yang pernah tersenyum.

Dari bibirnya lantas meluncur kisah, tentang suami yang menjatah nafkah, tentang anak-anak yang belum bayar uang sekolah, tentang perkawinan yang tak lagi indah.

Di antara asap rokokku yang dikepulkannya, tertutur ucap “nyesel gue gak dengerin loe dulu.”

Juga sesal atas kuliah yang terbengkalai, dan pekerjaan yang tak pernah diambil.

Berkisah ia tentang rasa curiga, atas suami yang selalu pulang malam, namun uang tak pernah cukup. “Pergi ke mana gajinya?”

Mengadu ia akan ketiadaan teman, karena hidup dalam keterbatasan.

Keterbatasan waktu dan tenaga, dan ketiadaan izin dari lelaki yang memperisterinya.

Berkeluh ia akan ketakutan dan keinginan, ketakutan akan keberlangsungan jika ia turuti keinginan bercerai.

“Dia matiin semua jalan gue, dia lumpuhin semua kesempatan gue. Dengan anak-anak dan tugas-tugas istri.”

“Dia tutup semua kemungkinan, dia bunuh individualitas gue.”

Dia lahap makan siang yang kusediakan, anaknya seolah sudah seminggu tak makan. Dia keluarkan sebuah tupperware, dan mengambil beberapa potong ayam.

Di depan pintu kuserahkan seamplop uang. Kubilang, “Gak perlu dikembaliin, tapi jangan datang lagi ke sini kalau cuma buat pinjam uang untuk bayar hutang.”

Dia tercengang, aku teruskan, “Mau main silakan, ngobrol-ngobrol silakan, ajak anak-anak, nanti gue buatin makanan.”

“Tapi jangan jadikan masalah loe tanggung jawab gue atas nama kemanusiaan.”

Kupanggilkan taksi, kuantar dia hingga di depan pintu. Kupeluk dia, hangat dan erat. Dari ujung matanya jatuh setetes air. “Terima kasih ya.”  Aku tersenyum, “Datang lagi minggu depan, nanti gue siapin es krim buat si kecil.”

Taksi pergi, dia pun pergi.

Kuambil sebuah album dari lemari, sambil tersenyum aku menatap, kutatap foto pernikahan temanku itu, di waktu kami belum genap 20.

~ RA Ririe Ranggasari ~

You may also like...

1 Response

  1. Naurah kida says:

    kena banget pesan yang ingin disampaikan. aku suka cerpennya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: