Cok Sawitri, Seniman yang Tiada Henti Berkarya

maka,

tanah terbelahlah

aku pulang menyeru padamu, Ibu

Setra Gandamayu pun hening

membisulah semua pohon

bila ditanya ke mana mereka pergi

ke masa depan…

(Novel Janda dari Jirah, Cok Sawitri)

13525493591657084300

Masyarakat Bali mengenalnya sebagai aktivis teater, novelis, penulis artikel dan pusil, budayawan, dan seniman. Wanita kelahiran desa Sidemen, kabupaten Karangasem, Provinsi Bali 44 tahun yang lalu ini juga dikenal gigih untuk menolak RUU Pornografi dan Pornoaksi sebab menurut hematnya undang-undang tersebut sangat bertentangan dengan ke-bhinekaan-an yang ada di Indonesia. Di dalam seni teater sendiri Cok Sawitri pernah berkali-kali berkolaborasi dengan sejumlah seniman lokal dan internasional. Tema yang diusung Cok sarat dengan perlawanan terhadap kemapanan dan keminatannya yang mendalam pada budaya dan kearifan lokal. Naskah puisi dan novelnya kentak dengan falsafah dan penuh muatan perenungan.

Cok Sawitri memimpin prosesi Gerebek Aksara Prasada di Bedugul 20 Mei 2011 (Sumber : www.bacabsli.com)

Cok adalah kependekan dari Cokorda, nama yang harus disandangnya sebagai keturunan kasta Brahmana Ksatria. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak duduk di bangku sekolah dasar ia sudah sangat akrab dengan puisi. Tradisi turun temurun di keluarga ia sangat memungkinkan ia untuk memperoleh referensi banyak bacaan. Bahkan saat ia duduk dikelas dua SMP di daerah asalnya,karya puisi ia sudah dimuat disalah satu media cetak terkemuka. Cerpen perdananya yang berjudul “kulkul” merupakan debut awalnya

Ide dan kreatifitasnya  di dunia seni seakan tidak pernah ada habisnya. Karya-karyanya antara lain Meditasi Rahim (1991), Pembelaan Dirah (1996), Puisi Ni Garu (1996), Permainan Gelap Terang (1997), Monolog Pembelaan Dirah (1997), Hanya Angin, Hanya Waktu (1998), Puitika Melamar Tuhan (2001), Anjing Perempuanku (2003), Aku Bukan Perempuan Lagi (2004), novel Janda dari Jirah (Juni 2007), Puisi Kering (Gadis di Bawah Pohon Ara) (2008), Rumah Ikan Asin (2008), Rum,Akhirnya Hatinya Patah (2009), dan masih banyak karya  lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu di sini, Jika anda ingin menikmati karya ia silahkan mampir ke coksawitrisidemen.blogspot.com.

Salah satu novelnya  yakni Janda dari Jirah masuk nominasi penghargaan karya sastra bergengsi yakni Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2007. Suatu pencapaian prestasi yang sangat luar biasa. Penulis sendiri berkenalan dengan seorang Cok Sawitri dalam sebuah kompetisi teater antar SMA tahun 2011 lalu. Sosok penulis tangkap adalah bahwa seorang Cok Sawitri adalah sosok yang humoris, santai dan terkadang serius. Di Tahun 2011 pula Cok Sawitri menerbitkan novel berjudul Tantri,Perempuan yang Bercerita. Novel ini menyuguhkan penggalan-penggalan fabel yang mengandung keteladanan soal bagaimanan sepatutnya kita menghargai dan menjalani hidup. Karya-karya yang ia ciptakan selalu berisikan pesan moral sehingga para penikmat seni dapat memahami secara lebih dari karyanya.

Cok Sawitri membacakan cuplikan bukunya, “Tantri, Perempuan yang Bercerita”

Cok Sawitri aktif pula di beberapa organisasi diantaranya sebagai pendiri Forum Perempuan Mitra Kasih Bali ditahun 1997 dan Kelompok Tulis Ngayah ditahun 1989. ia juga tercatat sebagai salah satu dari penasehat The Parahyang untuk majelis Desa Pekraman atau desa adat di Sidemen, Karangasem, Bali. Penulis yang pernah mendengar langsung pembacaan salah satu puisi yang ia ciptakan sempat merinding sebab mimik ia sangat menjiwai sekali dan luar biasa. Tanggal 3-7 Oktober 2012 kemarin ia juga menjadi juri diajang Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) yang berlangsung di Pura Dalem Ubud, Gianyar,Bali. Seorang seniman memang tidak pernah ada kata berhenti untuk berkarya. Berkarya terus untuk Bangsa ini, Bangsa Indonesia. :: KOMPASIANA/HerdianArmandhani/10nov2012

via Cok Sawitri, Seniman yang Tidak Pernah Berhenti Berkarya.

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: