Dalang Perempuan Eksis Meski Di Tengah Masyarakat Skeptis

[KEDAULTANRAKYAT] – Dalang adalah tokoh sentral dalam pertunjukan wayang, karena ia harus  bertanggungjawab atas keseluruhan pertunjukan. Ia harus memimpin musik, sebagai sutradara, sebagai penyaji, sebagai juru penerang, juru pendidik, penghibur, pemimpin artistik, dan sebagainya. Berhasil-tidaknya suatu pertunjukan wayang kulit, sangat ditentukan oleh kemampuan sang dalang. Dengan demikian seorang dalang dituntut tidak hanya menguasai teknis pedalangan, tetapi juga harus memahami bidang lain seperti masalah kerohanian, falsafah hidup, kesusastraan dan sebagainya.

Mengingat beratnya tugas seorang seniman dalang, hingga sekarang profesi ini cenderung didominasi oleh kaum laki-laki. Hal ini menimbulkan asumsi bahwa profesi dalang hanya bisa dilakukan oleh kaum laki-laki. Pendapat umum ini jelas tidak sepenuhnya benar. Kenyataan menunjukkan bahwa di tengah dominasi kaum pria, pada setiap generasi muncul perempuan-perempuan dalang, meski dari segi kuantitas cenderung minoritas.

Sampai sekarang, generasi dalang perempuan masih tetap ada dan bermunculan di berbagai daerah. Ini membuktikan bahwa dalang perempuan tidak pernah punah dan selalu terjaga regenerasinya. Secara kuantitas, minimnya jumlah perempuan dalang disebabkan karena beratnya persyaratan menjadi dalang. Dalang harus menguasai hal-hal yang berhubungan dengan pakeliran seperti sabet, catur, iringan berikut gendhing karawitan, lakon dan sebagainya.

Di samping mahir memainkan wayang, pandai bertutur bahasa, mengenal titi larasan gendhing, dalang juga dituntut menguasai secara faktual bidang lain, seperti pendidikan, kesehatan, pemerintahan, ekonomi, pertanian, politik dan sebagainya.

Semakin luas pengalaman dalang, akan memudahkan ia berbicara dalam pakelirannya. Sebaliknya, minimnya pengetahuan akan membuat dalang kesulitan membuat bahan pembicaraan, sehingga dalam pakeliran bisa saja sering terjadi kevakuman suasana. Dalang yang kurang menguasai pakeliran biasanya akan kesulitan menciptakan suasana dan pakeliran-pun kurang berbobot karena yang disajikan hanya berisi hura-hura dan sekedar kelakar yang kurang bermakna.

Sabetan dan Suara Diperbandingkan

Dalam konteks perempuan dalang, tak bisa dipungkiri memang terdapat beberapa sisi lemah. Menurut Nyi Kenik Asmarawati SSn MHum, perempuan dalang asal Karanganyar, Jawa Tengah, sisi lemah tersebut di antaranya dalam hal  sabetan dan suara. “Kebanyakan sabetan dalang perempuan tidak seterampil dalang pria. Gerakannya sederhana dan terkesan lemah,” ujar Kenik kepada KR belum lama ini.

Dikatakan Kenik, dalam hal suara, sudah merupakan pembawaan bahwa perempuan memiliki suara dasar yang berbeda dengan suara pria, sehingga dalam antawecana kadang yang terdengar seperti suara tokoh perempuan semua. “Ketika vokal tembang, sulukan atau kombangan, kebanyakan suara perempuan dalang terdengar seperti suara sindhen, baik dalam teknik penyuaraan maupun cengkok,” jelasnya. Menurutnya, dasar suara yang cenderung tinggi ini menyebabkan jarang ada dalang perempuan  yang memiliki suara kung.

Kendala yang lain, di antaranya terletak pada kondisi fisik. Kondisi fisik dan mental seorang perempuan biasanya tidak setangguh pria. Secara fisik, laki-laki lebih kuat dibanding perempuan. Kalaupun perempuan dalang bisa menampilkan sajian seperti laki-laki, biasanya tidak tahan lama, karena kondisinya akan cepat lelah. Untuk mengantisipasinya, perempuan dalang cenderung menampilan lakon-lakon yang tidak banyak sabetnya, dan menyajikan  lakon-lakon yang lebih banyak catur-nya (percakapannya).

Di luar keterbatasannya, perempuan dalang masih dituntut memiliki pengetahuan dan pengalaman luas, sehingga mengerti, paham dan bisa membetulkan setiap terjadi kesalahan-kesalahan yang berhubungan dengan persiapan, penataan dan di saat pentas.

Skeptisme Masyarakat Merugikan

Selain faktor internal, ada juga faktor eksternal yang berpotensi menjadi hambatan bagi eksistensi dalang perempuan. Potensi hambatan itu justru datang dari masyarakat sendiri. Hingga saat ini, tak sedikit masyarakat yang skeptis dan meragukan kemampuan perempuan dalang. Ada sebagian masyarakat yang merasa kurang puas nanggapdalang perempuan, karena dianggap tidak bisa melebihi kemampuan dalang pria. Mereka lebih suka menghadirkan dalang pria yang sudah punya nama atau kondang.

Perhatian khusus dari Pemerintah sangat diperlukan untuk menjaga eksistensi dan juga proses regenerasi, kemajuan dan perkembangan perempuan dalang.  Pemerintah seyogyanya memberikan kesempatan pada dalang perempuan untuk berkarya. Tanpa dukungan pemerintah, dalang perempuan kurang mendapatkan tempat atau porsi yang layak di masyarakat.

Selain itu, selama ini eksistensi perempuan dalang masih belum banyak terpublikasi di tengah masyarakat. Hal ini menyebabkan masyarakat kurang memahami bahkan kurang mengakrabi sosok perempuan dalang. Stigma masyarakat bahwa perempuan adalah sosok lemah yang tidak mampu berkarya di dunia pedalangan, sangat merugikan. Banyak yang beranggapan, sebagus-bagusnya sajian perempuan dalang tidak akan melebihi tampilan dalang laki-laki. Anggapan ini tentu saja tidak sepenuhnya benar. Kenyataan menunjukkan, tidak sedikit perempuan dalang yang memiliki kemampuan setara dengan pria, bahkan tak jarang melebihinya.

Muncul Sejak Era Mataram

Sejarah mencatat nama-nama perempuan dalang yang mencapai keemasan pada jamannya. Nama Nyi Panjang Mas, istri Ki Panjang Mas, abdi dalem dalang di Mataram, merupakan salah satunya. Konon, ketika terjadi pemberontakan  Trunajaya, sepasang suami-istri ini terpisah. Ki Panjang Mas mengikuti Sri Susuhunan Amangkurat Agung menyingkir ke daerah Kedu sampai Cirebon, sedangkan Nyi Panjang Mas beserta wayang dan seperangkat gamelan dibawa Trunajaya ke daerah Jawa Timur. Dalam perjalanannya di setiap tempat yang disinggahi oleh Nyi Panjang Mas dipergelarkan wayang kulit purwa dan dia mengajarkan pedalangan kepada para dalang di daerah tersebut. Setelah era Nyi Panjang Mas,  muncul perempuan dalang dari Kartasura bernama Nyi Kenyacarita yang diangkat oleh PB X sebagai abdi dalem Kraton Surakarta.

Di alam kemerdekaan, sekitar tahun 1960-an bermunculan nama-nama besar dalang perempuan, seperti Nyi Bardiyati, Nyi Supadmi, Nyi Suwanti, Nyi Susilah. Generasi berikutnya adalah Nyi Rumiyati Anjang Mas, Nyi Sulansih, Nyi Sumiyati Sabdhasih, Nyi Sabdharini, Nyi Suwati. Nyi Suharni Sabdhawati yang kental dengan gaya Nartosabda, muncul pada tahun 1970-an. Tahun 1988-an muncul perempuan dalang dari Sukoharjo, Nyi Dharsini dan Nyi Sri Utomo.

Nyi Susilah, dalang era 1960an asal Klaten, Jawa Tengah.

Dalang perempuan muncul kembali pada tahun 1996 ketika diadakan “Pesona Dalang Perempuan” di Pendapa Ageng Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta. Kegiatan yang dilaksanakan guna menjaring kualitas masing-masing dalang dengan keterbatasan, kelebihan dan kekurangannya itu mampu menyerap dalang perempuan dari berbagai daerah. Dalang perempuan yang muncul pada acara tersebut di antaranya adalah Nyi Suparsih, Nyi Giyah Supanggah, Nyi Sofiah, Nyi Cempluk Suprihastutik, dan Nyi Sri Wulan Panjang Mas.

Talenta Baru Terkuak Melalui Festival

Event “Pesona Dalang Perempuan” ternyata mampu menggugah semangat dan  minat kaum perempuan untuk belajar mendalang. Hal ini terbukti dengan munculnya kembali bibit-bibit muda perempuan dalang, seperti Nyi Sujiati, Ni Kenik Asmorowati, dan Ni Paksi Rukmawati.

Dari sekian generasi tersebut memang sebagian sudah tidak begitu aktif di dunia pedalangan. Hal ini disebabkan faktor usia, sepinya tanggapan untuk mendalang, bahkan ada yang kemudian beralih profesi. Meskipun kondisi demikian, di ISI Surakarta Jurusan Pedalangan pada tahun 2011 masih tercatat 5 mahasiswi dari semester II sampai semester akhir. Hal ini membuktikan bahwa generasi perempuan dalang masih terus berlangsung, meskipun jumlahnya relatif sedikit dibanding dalang laki-laki.

Tahun 2008 lalu, pihak Pemprov Jawa Tengah bekerja sama dengan PEPADI Komda Jateng berusaha menjaring lagi dalang-dalang perempuan dengan mengadakan “Festival Dalang Perempuan” se Jawa Tengah, yang berlangsung di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta. Dalam acara itu tampil 6 dalang perempuan sebagai wakil dari 6 karesidenan di Jawa Tengah. Menurut Nyi Kenik Asmorowati, SSn. M. Hum, satu-satunya perempuan juri pada festival itu, fenomena ini sangat membanggakan. Ternyata perempuan dalang masih ada regenerasi.

Nyi Kenik Asmorowati berkata: “Yang mengharukan, banyak calon peserta Festival dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Tengah yang akhirnya urung tampil, karena keterbatasan biaya. Padahal, bila mereka diberi kesempatan dan mau terus berlatih, pastilah dalang perempuan akan semakin maju dan mendapatkan tempat di hati masyarakat,” kata Kenik. :: sumber asli KEDAULATANRAKYAT/repostedINFOBIMO/nov2011

INFO BIMO: Eksistensi dan Problematika Dalang Perempuan.

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: