Damayanti Zahar, Dokter di Daerah Konflik Afrika

DALAM kondisi apa pun, perempuan dan anak-anak sering kali menjadi korban, mulai dari pelecehan, penindasan, hingga kekerasan. Hal itu bisa terjadi di negara maju, apalagi di negara yang sedang berperang atau terjadi konflik antarsuku. Di daerah seperti inilah, Damayanti Zahar (46) terjun langsung memberikan pengobatan. Selama sembilan tahun terakhir, dia bertugas di Liberia, Sudan, Angola, Somalia, Sri Lanka, dan Burundi.

[KOMPAS] – Dia adalah dokter lulusan Universitas Tarumanagara, Jakarta, yang kemudian mendapat beasiswa melanjutkan studi di National University of Singapore (NUS). Dua kali dia mendapat beasiswa NUS, untuk studi pengobatan kanker dan obstetri ginekologi.

Yanti, sapaannya, menjelaskan, karena studi spesialisasinya di luar negeri tanpa ujian negara, ia tak bisa praktik di Indonesia. Dia bergabung dengan Medecins Sans Frontieres (MSF) dan mengabdikan ilmunya di negara yang bergolak.

Penugasan pertamanya ke Liberia. Semula dia hendak ditempatkan di Suriah, tetapi karena MSF menutup klinik mereka di negara itu, Yanti batal ke Suriah. Kontrak pertamanya di Liberia selama enam bulan, kemudian diperpanjang menjadi sembilan bulan.

”Jika dikontrak minimal enam bulan, semua dokter yang bertugas berhak mendapat cuti seminggu dan berkunjung ke negara sekitar setiap tiga bulan. Namun jika kontrak hanya dua-tiga bulan, kita tak bisa cuti,” kata Yanti di Jakarta.

Setiap kali mendapat penugasan, ia tak membawa banyak barang. ”Buat apa kita bawa baju banyak, beli saja baju bekas di dekat klinik atau desa terdekat. Buku juga jarang saya bawa karena di klinik selalu ada buku peninggalan dokter yang bertugas sebelumnya,” ujarnya.

Kondisi parah

Selama bertugas, Yanti paham bahwa pasien yang datang umumnya dalam keadaan parah. Kasus yang paling sering dia hadapi adalah fistula kandungan, yakni kondisi ketika kepala jabang bayi berada di jalan lahir dan terjebak selama tiga hari atau lebih.

Hal ini biasanya terjadi saat si calon ibu masih berusia belasan tahun sehingga organ reproduksinya, termasuk pinggul, belum berkembang sempurna. Kasus fistula kandungan dapat menyebabkan suplai darah terhenti, merusak jaringan, hingga menyebabkan lubang di antara vagina dan kandung kemih.

”Dalam kondisi seperti itu, sering kali si suami malah mendiamkan, bahkan meninggalkan si istri. Keluarga si istri yang lalu membawa si calon ibu ke klinik,” katanya.

Yanti berkisah, di negara-negara Benua Afrika, sering terjadi anak perempuan remaja, bahkan baru berusia 9 tahun, dinikahkan dengan lelaki pilihan orangtua. Setahun kemudian atau setelah menstruasi pertama, mereka hamil dan besar kemungkinan mengalami kesulitan melahirkan.

Bagi perempuan dewasa pun, situasinya tak mudah. Kultur di beberapa negara Afrika yang tak menganggap perempuan mitra sejajar pria membuat mereka tak punya suara, bahkan untuk tubuh dan hidupnya sendiri. Hampir semua perempuan dewasa di benua ini pernah mengalami keguguran atau bayinya meninggal.

Saat melahirkan, sebisa mungkin tak melalui operasi caesar, termasuk ketika si bayi sungsang, melintang, atau sudah meninggal. ”Alasannya, saat kelak si ibu akan melahirkan lagi, belum tentu ada petugas medis di dekatnya. Jahitan bekas operasi mungkin bisa robek dan nyawa mereka tak tertolong,” ungkap Yanti.

Di benua ini amat biasa ditemukan perempuan dengan kadar hemoglobin di bawah normal. Kadar normal hemoglobin pada perempuan adalah 12-14. Sementara di Afrika banyak perempuan memiliki hemoglobin di bawah 4. ”Saya sering menemukan mereka yang kadar hemoglobinnya hanya 1, bahkan nol koma sekian. Mereka masih kuat jalan ke sana kemari,” lanjutnya.

Setiap kali menghadapi pilihan antara menyelamatkan ibu atau bayi, dokter di MSF memilih nyawa ibu. ”Menyelamatkan nyawa ibu berarti menyelamatkan nyawa anak-anaknya di rumah, terutama yang masih balita. Jika nyawa si ibu tak tertolong, besar kemungkinan si bayi juga meninggal. Begitu pula anak kecilnya di rumah karena tak ada yang merawat mereka.”

Kemajuan teknologi kadang menghambat upaya pengobatan dan penyelamatan si ibu. Saat nyawa mereka bergantung pada tindakan medis secepatnya, tak jarang si suami malah mau minta izin dulu kepada tetua suku atau klannya yang membutuhkan perjalanan berjam-jam.

Yanti hanya bisa menatap si pasien yang tengah sekarat tanpa bisa berbuat apa-apa. Dia tak bisa memaksa si suami segera menyetujui tindakan agar istrinya selamat.

”Semua yang ada dalam buku prosedur dan kedokteran tidak selalu dapat diterapkan di klinik karena situasi selalu darurat dengan kondisi amat terlambat,” katanya.

Meski sering berada dalam situasi genting, Yanti juga menemukan banyak hal lucu, misalnya dalam hal bahasa. Di tempatnya bertugas, merupakan hal lumrah jika mereka tidak bisa bercakap-cakap karena umumnya penduduk berbahasa lokal yang jarang dipahami orang luar. Bahkan untuk menanyakan hal sederhana seperti bagian tubuh mana yang sakit.

”Sering penerjemahnya berjejer di samping pasien sampai empat. Saya bertanya, penerjemah melanjutkan pertanyaan ke penerjemah berikutnya dan seterusnya. Saat si pasien menjawab, proses menerjemahkan itu berlangsung sebaliknya,” ujar Yanti yang biasa mengisi waktu cuti dengan berlibur ke negara dekat tempatnya bertugas, seperti Maroko dan Kenya.

Tari Bali

Kala bertugas di suatu daerah selama berbulan-bulan, dia harus kreatif bagi diri sendiri dan orang lain. Yanti senang memasak dan menari, jadilah dia pun mengajak anak-anak di klinik belajar menari.

”Pernah kami selama berbulan-bulan hanya mendapat makanan roti dan kacang lentil. Saya pura-pura saja sedang menyantap makanan lezat, ha-ha-ha,” ucapnya.

Jika kiriman pasokan logistik lancar, ia mengisi waktu senggang dengan bereksperimen di dapur. Namun, pengiriman logistik kerap tersendat karena selalu ada preman yang memalak dan meminta komisi untuk izin melalui daerahnya. Bahkan, untuk sewa lokasi dan kendaraan pun, banyak preman yang berkuasa.

Tentang menari, sejak remaja Yanti bergabung dengan grup tari yang diundang berpentas di sejumlah tempat di Jakarta. Dia suka menari tari Bali dan Betawi. Namun, ia tak pernah membawa perlengkapan tari ke lokasi bertugas. ”Repot, ah, saya hanya membawa baju batik dan sarung untuk kostum menari, ha-ha-ha.”

Bertugas di daerah konflik mempertemukan Yanti dengan suaminya, Patrice Martial. Mereka menikah di Paris tahun 2011. Pria Perancis ini bertugas mengirim logistik sekaligus petugas perbaikan berbagai hal.

”Dia perintis sebelum petugas medis tiba. Dia yang menunjukkan jalan mana yang aman. Dia tujuh kali dirampok, truknya dibawa kabur. Saya bersyukur dia selamat karena perampok biasanya juga membunuh,” katanya. :: KOMPAS/Ida Setyorini/des2013

—————————————————————————

Damayanti Zahar

♦ Lahir: Bandung, 10 September 1967
♦ Pendidikan:
– SMA PSKD I, Jakarta
– Fakultas Kedokteran  Universitas Tarumanagara, Jakarta, 1986-1995
– National University of Singapore, 1998-2004
♦ Pengalaman: Bergabung dengan Medecins Sans Frontieres  sejak 2004. Ia bertugas di  Liberia, Sudan, Angola, Somalia, Sri Lanka, dan Burundi

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: