Di Sebuah Kampung Flores, Perempuan Jaga Kesediaan Air Minum

Cecilia Mbimbus (lahir 1980) mengecap pendidikan hanya sampai kelas 1 SD namun di Kampung Pasat, Desa Pong Majok, Flores, ia menjadi warga yang dipercaya untuk memimpin Organisasi Pengelola Air-minum (OPA) setempat dengan tugas memelihara dan memperbaiki kalau terjadi kerusakan pada instalasi air.

Ketika terpilih sebagai ketua OPA Kampung Pasat, banyak warga lelaki yang berkeberatan posisi tersebut dipegang oleh seorang perempuan. “Ada sebagian laki-laki yang menyepelekan kemampuan saya, tapi karena saya  penuh percaya diri dan berani serta tegas, akhirnya mereka senang dan bangga atas kemampuan saya. Selain itu, kami mendapat pendampingan dari lembaga Yakines, baik melalui pertemuan maupun pelatihan, yang selalu berusaha melibatkan laki-laki dan perempuan, sehingga pada akhirnya mereka bisa menerima,” demikian cerita Cecilia.

Pekerjaan utamanya adalah petani, tetapi pada musim kemarau ia bekerja di kota sebagai buruh bangunan umum atau buruh di pembangunan proyek-proyek infrastruktur pemda setempat. Ia adalah peserta aktif dari berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh Yakines, antara lain yang membahas topik gender, kepemimpinan perempuan, pertanian berkelanjutan, advokasi dan manajemen konflik, pengorganisasian masyarakat, keuangan dan pembukuan.

Pada bulan Januari 2006, OPA Kampung Pasat mulai berjalan. Sebagai langkah awal Cecilia mengajak pengurus dan warga setempat untuk mengadakan musyawarah dalam mana disepakati aturan dasar:

  • iuran Rp. 2.000 per bulan/KK
  • uang pangkal Rp. 10.000/KK
  • setiap bulan, pada tanggal 25, harus mengumpulkan iuran kepada bendahara, yang ditandai dengan pukul gong
  • kerusakan kran lokal harus diperbaiki kelompok kran sendiri
  • tim teknis OPA tidak dibayar.

Sampai bulan Agustus 2008, menurut Ibu Cecilia, jumlah iuran sudah mencapai Rp 5.650.000,- yang masuk ke bendahara OPA, dari jumlah itu sebanyak Rp 4.500.000 disimpan di bank untuk biaya perbaikan dan penggantian sarana yang rusak. Sisanya dipinjamkan kepada anggota sebagai modal untuk membeli benang bahan kain tenun yang dijual ke pasar.

Sejak OPA berjalan di kampung Pasat, warga merasa rukun dan guyub, bisa berdialog dan berkomunikasi dengan baik antar sesama. Para warga perempuan menyatakan, bahwa mereka belajar dari lembaga-lembaga pendamping untuk mengembangkan diri, mengelola organisasi dan membuat laporan keuangan maupun kegiatan. “Kami belajar mandiri,” kata mereka, sambil menambahkan bahwa jika ada instalasi pipa yang rusak mereka mereparasinya sendiri.

Kesediaan air yang dekat memungkinkan mereka untuk menanam sayuran secara organik, antara lain petai, kol, terong, kacang panjang, sawi hitam, wortel dan jagung. Selain bercocoktanam, para warga perempuan juga menenun. Dari pengakuan mereka, kemampuan untuk menghasilkan pendapatan sendiri memberi pemberdayaan untuk aktif mengambil keputusan bersama suami di dalam lembaga perkawinan, tidak lagi segala keputusan digantungkan pada pihak lelaki.

Kampung Pasat Bangkit Dengan Kehadiran Air

Anak-anak kembali semangat bersekolah. Sebelum ada sarana air bersih, banyak anak Pasat yang terpaksa drop-out atau sesederhana malas ke sekolah saja, karena mereka harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer setiap pagi hanya untuk mandi. Jauhnya jarak sumber air menyebabkan mereka kehilangan banyak waktu dan tenaga sehingga malas ke sekolah. Selain itu ada yang terpaksa pergi ke sekolah tanpa harus mandi pagi, membuat mereka merasa rendah diri karena bau badan. Banyak terjadi mereka akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah.

Warga bergotong-royong untuk memperbaiki rumah. Karena menyadari bahwa lingkungan rumah mereka selama ini kurang higienis, masyarakat Pasat lalu bekerja secara gotong-royong untuk saling membantu memperbaiki rumah mereka, apalagi sebagian warga adalah juga tukang batu atau tukang kayu. Menurut Thomas (suami Cecilia Mbimbus) yang juga tukang kayu dan tukang batu: “Kita bekerja memperbaiki rumah orang tapi rumah kita sendiri tidak kita perbaiki? E

Hewan ternak dikandangkan. Sebelumnya anggota masyarakat membiarkan ternak babinya berkeliaran, sehingga kotorannya ada di mana-mana. Akibatnya kampung menjadi sangat kotor dan timbul bau tidak sedap. Selain itu masyarakat belum tahu bagaimana cara memanfaatkan kotoran babi ini sebagai pupuk, sehingga hanya dibiarkan membusuk di mana-mana. Sekarang ternak sudah dikandangkan dan masyarakat juga sudah tahu bagaimana cara memanfaatkan kotoran menjadi pupuk organik  untuk menanam sayuran.

Semangat untuk kembali bertani tumbuh kembali. Sebagian warga laki-laki sudah mulai kembali bekerja di ladang mereka. Sebelumnya mereka hanya berpikir untuk bekerja jadi buruh di kota atau kampung lain yang jauh lebih menghasilkan banyak duit daripada bekerja di ladang jadi petani. Sekarang ini kaum laki-laki Pasat sudah berubah, mereka bekerja di ladang pada waktu musim hujan atau musim panen dan menjadi buruh harian setelah panen.

Sebelumnya ubi sulit didapatkan, sekarang sudah banyak. Menurut pengakuan Ibu Cecilia Mbimbus yang akrab dipanggil Tante Sisil, mereka sekarang sudah memiliki cukup pangan, karena sudah punya lumbung pangan, khususnya lumbung gaplek, sehingga kami tidak kekurangan ubi lagi. Selain itu juga karena setiap keluarga sudah menanam sayuran yang benih dan teknis menanamnya dibantu oleh lembaga pendamping masyarakat Yakines, sekarang ini sudah banyak sayuran untuk makanan manusia dan bahkan untuk hewan ternak. Bahkan dengan jual sayuran ke pasar mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

Terbentuk kelompok UBSP perempuan. Sebagai upaya untuk tetap menjaga hubungan persaudaraan di kampung, maka dibentuklah UBSP. Kelompok ini juga diketuai oleh perempuan, Lucia Sut. Selain berfungsi sosial, kelompok ini juga berfungsi sebagai media belajar warga dalam upaya pengembangan keterampilan dan ekonomi perempuan. Maka dibuatlah sistem menabung dan kredit yang bisa diakses oleh seluruh anggota. Kelompok sudah bisa memberi pinjaman kecil-kecilan untuk membeli benang yang akan ditenun untuk dijadikan kain tradisional (sarung atau selendang).

Peduli kehijauan lingkungan. Pusat mata air sudah ditanami pohon-pohon pelindung. Masayarakat sekarang menyadari bahwa penting sekali untuk tetap menjaga lingkungan di sekitar sumber air, agar hutannya tetap terjaga. Hutan yang tetap terpelihara akan menjadi sumber penyimpanan air yang bisa mencukupi kebutuhan masyarakat di sepanjang musim. Di sekitar mata air ditanami pohon yang menurut kepercayaan lokal bisa untuk melindungi sumber air seperti: pohon beringin dan gayam.

Peran perempuan menjadi sangat penting. Semua kelompok di kampung Pasat ini (OPA, UBSP dan Lumbung) diketuai dan dijalankan oleh perempuan, sebagai hasil dorongan motivasi dari lembaga pendamping masyarakat Yakines serta dorongan motivasi dari ketua tembong (adat). Bahkan kaum perempuan di Pasat sudah mulai tampil berbicara di depan umum dan pada waktu ada tamu berkunjung dari luar kampung. Menurut pengakuan Ibu Cecilia: “Saya sudah berbicara di depan umum baik di tingkat kabupaten maupun desa serta kelompok.”

Dalam membangun dan memelihara OPA, masyarakat kampung Pasat didampingi oleh lembaga-lembaga non-pemerintah Yakines dan SatuNama, yang didukung oleh USC Canada sejak tahun 2005.

sumber >> http://www.satunama.org/index.php?lang=id&page=news&id=23

SATUNAMA
Jl. Sambisari No. 99, Duwet, Sendangadi,
Mlati, Sleman, Yogyakarta 55285, Indonesia

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: