Elly Anita Dulu Korban, Kini Pahlawan Anti Perdagangan Manusia

[DETIKCOM] – Elly Anita patut berbangga. Ia diganjar penghargaan ‘Pahlawan yang Berjasa untuk Mengakhiri Perbudakan di Era Modern’ atau ‘Anti-Trafficking Hero’ dari pemerintah Amerika Serikat (AS).

Elly sejatinya adalah korban human trafficking (perdagangan manusia). Ia pernah dijual seharga US$ 4.500 di Irak. Ia pun terperangkap di Kurdistan, Irak saat konflik Irak. Namun ia berhasil menyelamatkan diri. Tak hanya itu ia pun membantu menyelamatkan 16 temannya yang lain.

Perempuan yang hanya tamat SD ini mengaku bersyukur mendapat penghargaan dari AS. Elly yang kini aktif di Migrant Care itu tidak akan berhenti memerangi trafficking.

“Kalau perasaan hanya bersyukur saja, tapi kebanggaan tidak ada. Apa untungnya saya gembira? Teman-teman saya di Irak saja masih ketakutan,” kata Elly.

Bagaimana kisah Elly dari seorang korban berubah menjadi pahlawan anti trafficking?

Berikut petikan wawancara detikcom dengan Elly, Jumat (19/6/2009).

Bagaimana perasaan Mbak Elly mendapat penghargaan Anti-trafficking Hero dari AS?

Kalau perasaan hanya bersyukur saja, tapi kebanggaan tidak ada. Apa untungnya saya gembira? Teman-teman saya di Irak saja masih ketakutan. Tapi saya berterima kasih atas penghargaan itu kepada pemerintah AS.

Penghargaannya kapan diberikan?

Kalau nggak salah sekitar April atau Maret (red-2009). Saya dipanggil ke Amerika untuk foto saja. Sertifikat belum saya terima. Kalau hadiahnya uang saya belum tahu. Saya baru lihat penghargaan dari situs pemerintah AS kemarin.

Dapat penghargaannya karena apa?

Karena saya berhasil menyelamatkan diri dari Irak dan juga saya menjadi korban trafficking. Saya juga membantu teman saya, 16 orang sudah pulang, sisanya masih 500 lebih yang belum pulang. Terakhir TKI pulang bulan Mei.

Lalu bagaimana kisah Anda bisa keluar dari Irak?

Jadi tahun 2006 saya mendaftarkan diri jadi sekretaris di Dubai, lewat PJTKI. Saat itu saya tidak diterbangkan padahal visa sudah turun, saya nggak tahu alasannya.

Lalu lewat teman saya Resnowati, TKI yang bekerja di sebuah agen menjanjikan akan membantu menerbangkan saya. Tapi dia nggak akan membantu jika saya dapat masalah. Tetapi sampai di Dubai saya dapat masalah, paspor dan visa berbeda. Akhirnya saya ditahan 1 hari 1 malam di Dubai International Airport.

Saya lalu bikin pernyataan yakni di Dubai hanya visit. Akhirnya saya dikeluarkan, dan tinggal di agency di Dubai. Tapi di kantor agency saya diasingkan, katanya saya kan mau jadi sekretaris beda sama mereka-mereka yang hanya jadi PRT.

Di tempat agency itu, bos saya berusaha melakukan pelecehan seksual terhadap saya. Tapi saya selalu menghindar. Pas 2 bulan akhirnya saya komplain karena belum kerja-kerja. Akhirnya bos mengirim saya ke Kurdistan. Itu pun tanpa sepengetahuan saya. Dia bilang ini negara baru bukan Irak tapi di Italia. Akhirnya saya baru tahu itu masih di Irak. Saya dijual US$ 4.500.

Tiga bulan di sana saya hanya menjadi PRT dengan gaji US$ 200. Tapi 2 bulan gaji saya tidak dibayar. Saya telah menghubungi konsulat Indonesia, tapi orang-orang di telepon menertawakan saya. Kemudian saya kembali lagi ke tempat agency awal, di sana saya dikurung, dianiaya dengan ditodong pistol, dan tidak diberi makan.

Saat saya masih tinggal dengan majikan saya, saya sering mencuri-mencuri memakai internet. Di tempat agency saya juga memakai telepon untuk menghubungi kedutaan Dubai. Saya juga menghubungi Migrant Care. Akhirnya saya bisa pulang juga ke Indonesia.

Sekarang Anda di mana dan aktivitas apa?

Di Migrant Care, membantu korban human trafficking dan kekerasan. 

Masa kecil dulu seperti apa?

Kampung saya di Jember. Tapi besar di Lampung karena ikut transmigasi orangtua. Saya merupakan pribadi yang mandiri sejak umur 6 tahun. Saya bersama 2 kakak saya kos di kota Lampung untuk sekolah. Sedangkan orangtua merupakan petani di kebun Kopi di Lampung Barat. Saya hanya lulusan SD karena kesulitan biaya.

Saya mulai kerja sejak umur 18 tahun. Saya ke luar negeri pertama kali menjadi baby sitter di Malaysia. Saya bekerja selama 2 tahun 2 bulan dengan digaji $M 350 per bulan. Karena merasa cocok saya digaji $M 450-500.

Lalu ke Hong Kong menjadi asisten penata rambut di sebuah salon. Saya bekerja selama dua tahun namun karena gaji tidak dibayar saya memutuskan untuk berhenti setelah bekerja selama 9 bulan.

Akhirnya saya menuntut majikan karena tidak membayar gaji. Saya menang dan mendapatkan ganti rugi 30.000 dolar Hong Kong. Lalu saya bekerja di sebuah agen TKI di Tangerang selama 9 bulan.

Kemudian saya kembali lagi ke Hong Kong untuk menjadi baby sitter lagi. Tapi saya harus merawat seorang wanita jompo yang terganggu mentalnya. Kemudian saya putuskan berhenti dan bekerja sebagai pelayan di sebuah kedai kopi ternama di Bahrain.

Apa yang akan dilakukan di masa depan setelah mendapat penghargaan ini?

Saya mau terus membantu teman-teman yang sekarang masih terpuruk. Saya ingin lebih mengangkat derajat para TKI supaya tidak tertindas, dan dilecehkan. Dengan bekerja di Migrant Care ini saya bisa mewujudkan itu.

Pandangan atas kasus penganiayaan TKI selama ini? Yang terbaru kasus Siti Hajar?

Saya ikut prihatin melihat keadaan seperti itu. Tapi semua ada di pemerintah. Sebaiknya pemerintah berani menawarkan kalau mereka disiksa untuk tidak mengirimkan tenaga kerja lagi. Saya dengar hanya sebulan pengiriman TKI diberhentikan. Apa bedanya cuma sebulan dihentikan? Padahal sudah ada beribu-ribu TKI terkirim ke luar negeri.

Kita dianggap pahlawan devisa tapi tidak ada untungnya bagi kita. Sebab perlindungannya nol. Kalau TKI profesional menjadi persoalannya nggak juga ya, itu standar. Yang mempunyai pengetahuan juga dianiaya seperti Lamah TKI di Taiwan asal Karawang yang dibilang gantung diri. Dia kan Sarjana Manajemen. Negara dia dikatakan gantung diri padahal dari visum ada kekerasan seksual.

Solusi untuk kasus human trafficking?

Kasus seperti ini berbelit-belit, harus dari semua pihak penanggulangannya. Banyak sekali oknum yang terlibat termasuk calo, PJTKI. Pemerintah harus lebih teliti siapapun mereka harus dilindungi apa itu TKI, mahasiswa. Mereka harus mendapatkan perlindungan, pemerintah sangat kurang perlindungannya. – [detikcom/19jun2009]

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: