Enye-enye Buatan Perempuan Cipambuan Angkat Nama Desa

[BBP2TP] ~ Sepanjang jalan memasuki desa ini, sepanjang pinggir jalan, terlihat para perempuan desa sibuk mengupas singkong. Limbah kulit singkong menumpuk di sampingnya. Begitulah pemandangan khas Desa Cipambuan kini. Warga setempat dan juga pendatang kini mengenalnya sebagai desa penghasil enye-enye [sejenis makanan ringan dari olahan singkong] yang enak dan ideal untuk dijadikan oleh-oleh atau simpanan di rumah.

Desa Cipambuan pertama kali muncul di media karena terpilih sebagai tempat dilaksanakannya peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-13 tahun 2006. Pada peringatan Harganas kala itu, Desa Cipambuan menjadi salah satu lokasi kegiatan Bedah Kampung yang setidaknya telah merenovasi 214 rumah, pembangunan masjid, jalan, tempat MCK, renovasi dua ruang kelas SD serta pemindahan bangunan SD Citaringgul 3 ke Desa Cipambuan. Dari kegiatan itu juga, kini telah berdiri bangunan Rumah Pintar sebagai sarana belajar yang dilengkapi dengan perpustakaan, tempat bermain, peralatan komputer dan internet. Desa Cipambuan

Penumbuhan kelompok usaha pembuatan enye-enye di Desa Cipambuan merupakan hasil identifikasi yang dilakukan oleh Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) dan BB Pasca Panen yang berkedudukan di Bogor, Jawa Barat. Kegiatan tersebut diawali dengan identifikasi potensi sumberdaya khususnya bahan baku singkong, kondisi dan motivasi masyarakat setempat serta bentuk usaha, jenis pangan yang diolah, dan potensi pasar produk yang dihasilkan. Pembinaan secara langsung juga dilakukan oleh kedua instansi tersebut dalam rangka penumbuhan usaha rumah tangga berbasis bahan baku singkong di Rumah Pintar sebagai tempat pelatihan ketrampilan (Sentra Kriya) bagi remaja dan ibu rumah tangga untuk memanfaatkan waktu luangnya dengan melakukan kegiatan yang bermanfaat. Pembinaan tersebut meliputi teknis pembuatan, pengepakan hingga pemasaran.

Penumbuhan usaha pembuatan enye-enye [sejenis makanan ringan dari olahan singkong] skala rumah tangga di Desa Cipambuan dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain:
(i) pembentukan kelompok usaha untuk mempermudah pengorganisasian kegiatan;
(ii) pemberian bantuan peralatan produksi dan permodalan, dalam hal ini Badan Litbang Pertanian memberikan pemarut singkong listrik, timbangan, sealer, tampah, dan plastik pengemas. Sedangkan bantuan permodalan diberikan sebesar satu juta rupiah yang dikelola oleh Tutor Rumah Pintar selaku pendamping Kelompok Usaha;
(iii) pelatihan pembuatan enye-enye yang disampaikan oleh tim dari Balai Besar Pasca Panen;
(iv) pembuatan kesepakatan kelompok mengenai pemanfaatan bantuan peralatan dan permodalan; serta tahapan terakhir
(v) adalah penghitungan prakiraan biaya dan pendapatan usaha enye-enye.

Enye-enye khas Jawa Barat. | foto > abouttng.com

Kegiatan pengolahan enye-enye saat ini menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Pada pantauan terakhir yang dilakukan pada Juni 2008 terlihat adanya peningkatan dalam hal kapasitas produksi, yaitu yang sebelumnya dalam satu hari hanya mengolah maksimal 3- 5 kg bahan baku singkong untuk masing-masing kelompok kecil yang terdiri dari 2-3 orang, sekarang sudah mencapai 10 kg per orang. “Kemajuan yang patut dibanggakan,” kata Maesti salah satu tenaga pembina dari BBP2TP yang melakukan pemantauan pada hari itu. Sebelumnya, berdasarkan pantauan yang dilakukan setelah 20 hari produksi (3/10/07) tingkat kemajuannya juga sudah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Saat itu jumlah enye-enye yang dihasilkan mencapai 120 kg dan dari jumlah tersebut telah dipesan seluruhnya oleh beberapa pembeli. Lancarnya pemasaran dan adanya prospek pasar yang masih luas mendorong ibu-ibu untuk meningkatkan skala produksinya. “Makanya sekarang kami dapat mengolah 10 kg singkong dalam sehari dan menghasilkan 3 kg enye-enye,” binar wajah Yuyun tidak dapat disembunyikan ketika mengucapkan itu.

Mengenai harga, saat ini telah mengalami kenaikan dari yang sebelumnya Rp 13.000 per kg menjadi Rp 16.000 per kg. “Harga itu merupakan harga jual dari Rumah Pintar ke konsumen,” ujar Yuyun, salah satu Tutor. Kemasan enye-enye saat ini sebagian besar berukuran 1/2 kg, namun sebelumnya pernah juga memproduksi yang berukuran 1/4 kg. Ternyata dari dua ukuran tersebut, konsumen lebih menyukai yang berukuran 1/2 kg. Preferensi inilah yang mendasari berubahnya ukuran menjadi 1/2 kg per kemasan.

Prakiraan pendapatan yang diperoleh dari usaha pembuatan enye-enye tersebut berkisar antara Rp 18.500/Rp 24.000 per siklus produksi atau 10 kg singkong/hari, dengan harga jual ke Rumah Pintar sebesar Rp 12.000 per kg. Namun dengan kenaikan harga BBM saat ini, nampaknya harga di tingkat kelompok perlu dipertimbangkan.

Sejauh ini, agar usaha tersebut berkembang dan berkelanjutan, BBP2TP melakukan pendampingan bersama-sama dengan BB Pasca Panen. Fokus pendampingan yang dilakukan BBP2TP lebih pada perkembangan kelembagaan kelompok usaha Bunga Mawar, pengelolaan modal usaha dan pemasaran. Sementara BB Pasca Panen fokus pada perkembangan kualitas enye-enye, termasuk bentuk rasa dan kemasan.

Dengan kualitas yang lebih menarik dibandingkan produk enye-enye di pasaran saat ini, enye-enye produksi Rumah Pintar tersebut memiliki prospek pengembangan ke depannya. Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan terkait dengan upaya pengembangan, antara lain ketersediaan bahan baku singkong yang saat ini mulai terancam karena lahan singkong mulai beralih fungsi menjadi bangunan perumahan dan sarana usaha lainnya, hal ini berimplikasi pada semakin berkurangnya pasokan singkong sehingga berpotensi meningkatkan harga singkong segar, dan pertimbangan terakhir adalah perilaku masyarakatnya yang masih tradisional menjadi tantangan tersendiri dalam melakukan pembinaan dan pendampingan.

Sebagai tindak lanjut ke depan, selain tetap melakukan pendampingan Badan Litbang juga melakukan koordinasi dan kerjasama dengan dinas lingkup Kabupaten Bogor, seperti Dinas Pertanian, Dinas Perdagangan, Dinas Koperasi dan UMKM, dan Dinas Kesehatan. Dari kerjasama tersebut diharapkan akan diperoleh fasilitasi dalam hal penyediaan peralatan, peningkatan kebutuhan modal, akses pemasaran produk, legalitas usaha serta legalitas kesehatan produk yang dihasilkan.

Sejak tahun 2008 ini, keterlibatan dan peran Badan Litbang Pertanian menjadi tidak lebih sebagai nara sumber inovasi kelembagaan dan pengembangan produk enye-enye. Peran yang lebih besar diharapkan diperoleh dari Pemda Kabupaten Bogor dan menjadi lebih baik apabila model penumbuhan usaha rumah tangga dengan konsep Rumah Pintar dapat dikembangkan di daerah lain. [BBP2TP/Maret2008]

sumber >> http://bbp2tp.litbang.deptan.go.id

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: