Esther Gayatri Saleh, Satu-satunya Test Pilot Perempuan Indonesia dan Asia

[JAWA POS] ~ “WUA … Flight up! Flight up! Gear up!” Riuh terdengar di dalam kokpit pesawat CN-235. Salah satu pesawat yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia sekitar pertengahan 1980-an itu turun tak terkendali dari ketinggian 10.000 kaki atau sekitar 3.330 meter di atas Kota Bandung.

Burung besi tersebut terus bergerak deras ke bawah membentuk pola seperti spiral. Jarak dengan tanah pun semakin dekat dalam hitungan detik. Namun, beruntung, ketika berada di ketinggian 5.000 kaki, pesawat kembali bisa dikuasai.

“Aduh, kenapa aku bisa ada di sini?” kenang Kapten Esther Gayatri Saleh mengulang kalimat pertama yang keluar dari mulutnya sesaat ketika pesawat yang dipiloti berhasil recovery saat itu. Kenangan itu diungkapkan Esther kepada Jawa Pos yang menemui di kantor PT DI pada Selasa 5 Juni 2012.

Pesawat CN-235 pesanan militer itu sedang menjalani uji terbang. Materinya adalah pada ketinggian tertentu satu mesinnya sengaja dimatikan. Bersamaan dengan itu, moncong pesawat diangkat penuh ke atas hingga tidak punya kemampuan lagi untuk naik.

Nah, skenario awalnya, sesaat setelah mencapai ketinggian puncak dan pesawat mulai turun dengan sendirinya, mesin yang awalnya dimatikan kembali dihidupkan. Namun, yang terjadi saat itu mesin tidak segera hidup lagi.

Setelah melakukan post briefing untuk mengetahui dan mencari solusi atas persoalan yang terjadi, dua hari kemudian Esther kembali terbang untuk mengulang prosedur uji coba yang dikenal di dunia penerbangan dengan single engine stall tersebut. “Eh, sebulan kemudian ternyata prosedur tes itu dicabut karena dianggap terlalu berbahaya. Kesal juga sih,” kata dia, lantas tertawa.

Pada penerbangan yang juga membuat deg-degan rekan-rekannya di PT DI itu, test pilot perempuan kelahiran Palembang, 3 September 1962, tersebut tidak sendiri. Dia bersama pilot uji PT DI lainnya, Erwin Danuwinata. Namun, nasib Erwin nahas. Dalam uji dropping pesawat CN-235 versi militer, dia meninggal. Pesawat yang dipilotinya mengalami kecelakaan dan jatuh di Lapangan Udara Gorda, Serang, Jawa Barat, pada 22 Mei 1997.

Tewasnya sejumlah test pilot saat uji terbang mengakibatkan jumlah mereka di PT DI semakin sedikit. Dari 15 orang pilot uji pada 1985, yang tersisa sekarang tiga orang, termasuk Esther. Esther bukan saja satu-satunya test pilot perempuan di Indonesia, tapi juga menjadi satu-satunya di Asia hingga kini.  >>

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: