Etty Tedjalaksana, Batiknya Tak Tertiru Karena Tanpa Pola

Mengaksesoriskan batik.

[HALOHALO] ~ Batik merupakan peninggalan leluhur Indonesia yang kini menjadi ciri khas bangsa. Meski ada negara tetangga yang mengklaim sebagai negara penghasil batik, tapi sejatinya, Indonesia tetap merupakan tanah kelahiran seni menghias kain ini. Dulu, batik digunakan hanya untuk pakaian tradisional saja, seperti kebaya dan lainnya. Belakangan, penggunaannya sudah mulai meluas. Bahkan tak hanya untuk pakaian saja, tapi juga untuk aksesoris, seperti tas, sarung bantal hingga taplak meja.

Salah satu pengusaha yang mengkreasikan kain batik menjadi berbagai aksesoris, adalah Etty Tedjalaksana. Perempuan berusia 42 tahun ini, telah menggeluti usaha batik sejak tahun 1998 dengan mengusung merek ‘Bhisma Cakti‘.

Awal ketertarikannya untuk berbisnis batik, tak lain akibat hobi dan kecintaannya pada kain tradisional yang memiliki corak dan ragam berbeda di seantero Nusantara ini. “Waktu itu saya hanya senang mengoleksi saja, kadang beli atau dikasih, terus di simpan,” jelas Etty yang mengutarakan Bhisma berasal dari nama putra pertamanya.

Alih-alih senang mengoleksi, Etty pun akhirnya tergerak untuk membuka usaha. “Sejak lulus kuliah, saya tidak bekerja. Sampai ditanya teman, apa enggak bosan tidak bekerja terus,” kisah alumnus Universitas Nasional (Unas) tahun 1990 ini.

Tapi Sarjana Biologi ini mengaku tidak mau bila harus bekerja kantoran, apalagi harus bersaing dengan pencari kerja lainnya yang lebih muda. Kebetulan salah satu temannya ada yang bekerja di Pasaraya Grande, Blok M, sehingga ia pun mendapat ide untuk ikut meramaikan bursa batik di pusat perbelanjaan tersebut.

Batik tak hanya untuk pakaian

Etty berkisah, saat mulai usaha, ia hanya mampu membuka gerai kecil dengan satu meja. Dengan modal sekitar Rp. 100 juta, ia pun mulai berkreasi dengan empat orang penjahit yang awalnya hanya bermain di fashion, seperti kemeja dan daster.

Baru di awal tahun 2000, Etty mulai memberanikan diri mengkreasikan batik untuk produk-produk perangkat rumah. Menurutnya, pada saat itu, perkembangan batik sangat menggembirakan. “Apalagi Presiden kita pun mulai sering tampil dengan batik,” jelas ibu lima anak ini.

Pemikiran bahwa batik tak hanya digunakan untuk pakaian saja ini, ternyata mendapat sambutan baik dari pelanggan. Di sisi lain, keberhasilannya juga tak lepas dari kualitas produk dan kemampuannya membuat jaringan pertemanan (networking). “Bhisma ada karena networking,” katanya terus terang.

Tak heran bila gerai kecilnya kini telah meluas, bahkan hingga 100 meter persegi. Selain di Pasaraya, ia pun kemudian membuka cabang di pusat perbelanjaan lainnya, seperti Sarinah Thamrin, ITC Senayan, bahkan hingga ke Bali dan Batam.

“Saat ini di Bali kami punya satu counter, kalau di Batam punya toko,” jelas Etty yang pernah mendapat penghargaan dari Departemen Perindustrian di tahun 2006, untuk kategori batik dengan disain terbaik.

Di sisi lain, ia pun mengakui bisnisnya tak luput dari berbagai kendala. “Kendala paling berat adalah manajemen,” tukas, Etty yang juga sempat kuliah manajemen di Sekolah Bisnis Prasetya Mulya, meski pendidikannya ini tak sampai selesai.

“Enggak sampai selesai, karena saya kecapekan. Makanya sampai sekarang manajemennya juga enggak rapi-rapi,” selorohnya. Bagi Etty setiap usaha pasti memiliki kendala, tapi dalam mengembangkan Bhisma, ia mengaku diberi kemudahan untuk mengatasinya.

Misalnya saat mengalami kesulitan pemasaran, ia mulai mengembangkan promosi dan membangun jaringan yang dimilikinya. Sehingga permasalahan itu pun dapat segara teratasi dan tak lagi menjadi kendala. “Setiap kendala pasti ada jalan keluarnya,” tukasnya, optimis.



Kerajinan didisain tanpa pola

Dibanding produk-produk batik lainnya, Etty mengaku produknya memiliki disain tak mudah ditiru orang. Sebab dalam proses pembuatannya, ia tak menggunakan pola, sehingga keahlian si penjahit menjadi sangat penting.

Salah satu contoh yang ia tunjukkan pada halohalo.co.id, adalah batik bergambar keong. “Nah, proses menjahit keong-keong ini yang rumit, karena tidak dipola. Kalau di pola atau digambar lebih dulu, tentu kainnya akan kotor,” jelasnya.

Atas alasan itu pula, Etty memprioritaskan kenyamanan para penjahitnya sebagai yang utama. Hasilnya para karyawan Batik Bhisma betah, meski mereka telah ahli menjahit disain tertentu tanpa pola.

“Pekerjaan itu harus dihadapi dengan rasa cinta, itu yang saya coba tumbuhkan pada para karyawan, mencintai pekerjaan yang mereka lakoni. Alhamdulillah hasilnya kelihatan, para karyawan saya awet sejak tahun
1998,” papar Etty lagi.

Meski sempat ada penjahitnya yang keluar karena mendapat kerja di tempat lain, tapi tak lama si penjahit itu balik ke Bhisma lagi. “Kalau saya boleh PD (percaya diri-red), ia mendapatkan kenyamanan di tempat saya. Bukan hanya dari penghasilan,” jelas Etty yang masing-masing gerainya beromset Rp. 25 juta hingga Rp. 50 juta sebulan.

Etty mengakui, disain-disain batiknya yang tergolong unik adalah daya tarik bagi pelanggannya, baik lokal maupun dari mancanegara. Bahkan, hampir 70% pembelinya adalah para turis internasional.

“Kalau orang Jepang biasanya suka batik yang berwarna biru atau putih, mereka juga suka handicraft. Lain dengan bule (orang barat-red) yang lebih senang dengan warna-warna klasik, semacam cokelat,” jelas perempuan berdarah Betawi yang mengambil batik dari Solo, Pekalongan, Cirebon, dan Jogja ini.

Adanya selera yang berbeda-beda ini, membuat Etty harus rajin melihat trend pasar, hingga turun langsung ke para pembuat batik untuk memesan disain yang diinginkan. Ia pun tak segan-segan berdiskusi dengan para karyawan untuk menentukan disain tertentu atau sekedar memadu-madankan warna.

Kekuatan kerajinan tangan Bhisma yang tidak mudah ditiru, juga membuat Etty tak ambil pusing bila ada yang mencoba meniru disainnya. Ia pun tak mau mempersoalkan masalah hak paten. “Kerajinan tangan Bhisma adalah homemade yang tidak gampang ditiru,” tegasnya.

Ribut-ribut klaim negara lain atas hak paten batik pun, bagi Etty, seharusnya tak perlu diributkan. “Itulah kelemahan kita, setelah diklaim orang, baru ribut bikin hak paten lah, apalah. Padahal jika kita kreatif, hal itu harusnya dijadikan sebuah motivasi. Ini lho originalnya, lebih bagus,” tandas pecinta wisata alam ini. :: [TR – halohalo.co.id – 2008]

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: