Euis Komariah, Pencinta Seni Sunda Mancanegara Berguru Padanya

Akang haji sorban palid.
Palidna mah ka Cikapundung.
Akang haji sumangga calik.
Nyanggakeun mah saaya-aya….


[KOMPAS] ~ Lagu Sunda yang populer sejak belasan tahun lalu ini juga diminati masyarakat asing. Lagu dalam album The Sound of Sunda yang direkam Globe Style dari London tahun 1990 ini masih diperjualbelikan di dunia, seperti di Amerika Serikat dan Inggris. Album yang antara lain berisi lagu Sorban Palid, Duh Leung, dan Salam Sonojuga ini juga ditawarkan lewat puluhan website asing dengan harga lebih dari 25 dollar AS.

Euis Komariah (l. 1949) yang menyanyi bersama Yus Wiradiredja dalam album The Sound of Sunda pun merasa tak percaya album mereka masih diminati. Meski sejak album itu dibuat, mereka memang kerap ditawari pentas di luar negeri, seperti di Jepang (2003), Taiwan (2004), serta Kanada dan Amerika Serikat (AS) pada April 2007.

“Ibu telah membuat hati saya hancur,” begitu kata seorang penonton yang menemui Euis seusai manggung di Seattle, AS, April 2007. Suara lengkingan mendayu milik Euis sangat menyentuh hati penonton. Beberapa di antara mereka juga sudah memiliki album Euis dan tetap merasa senang bisa melihat langsung penampilannya di panggung.

Selain The Sound of Sunda, Euis sebenarnya juga memiliki album yang diedarkan ke berbagai negara oleh Globe Style, yaitu Euis Komariah with Jugala Orchestra, Jaipongan Java.

Respons yang amat berharga bagi Euis datang dari enam perguruan tinggi di AS yang meminta dia mengajar pada workshop gamelan degung dan kawih Sunda selama sebulan pada Maret 2007. Maka, Euis pun mengajar di University of Pittsburgh, Bates College, University of California, The Ashland University Departement of Music, Hugh Hodgson School of Music University of Georgia, dan Kenyon College.

Di semua tempat itu, ratusan mahasiswa asing pun belajar gamelan degung dan kawih Sunda kepadanya. Di Pittsburgh, misalnya, peserta workshop Euis sampai sekitar 125 orang.

Menyadari keterbatasan kemampuan mahasiswa dalam mempelajari bahasa Sunda, Euis pun memberikan kawih-kawih pendek berisi empat bait lagu. “Keinginan para mahasiswa untuk belajar begitu tinggi. Maka, dalam tiga hari hingga sepekan belajar dengan serius, mereka sudah bisa melantunkan kawih Sunda,” cerita Euis. Pada akhir workshop para mahasiswa mementaskan gamelan degung dan kawih Sunda dengan sukses, tambahnya.

Selama mengajar, tidak hanya bahasa yang jadi tantangan dia, tetapi juga alat gamelan yang terbatas. Di Kenyon College, misalnya, hanya ada gamelan Bali, seperti saron, sebanyak dua unit. “Jadi saya terpaksa mengajar hanya dengan alat itu,” ujar Euis.

Dia mengaku terkejut melihat semangat para mahasiswa asing. “Di Indonesia, degung Sunda sudah jarang terdengar, padahal seniman dan alatnya masih mudah ditemui. Di luar negeri, biarpun banyak keterbatasan, mereka tetap mau belajar,” ujarnya.

Perempuan yang bisa memainkan alat gamelan Sunda, kecuali rebab, itu amat terharu ketika ada mahasiswa asing yang sengaja mencari kebaya dan kain batik untuk pentas pada akhir workshop. Si mahasiswa bercerita, demi kebaya dan kain batik itu, dia sampai bepergian ke kota lain yang membutuhkan waktu tempuh empat jam dengan pesawat terbang.

“Guru Saya Seorang Juru Tulis”

Euis bercerita, tawaran untuk mengajar di luar negeri tersebut datang dari Andrew N. Weintraub, Director of Gamelan Program di University of Pittsburgh. Sekitar 17 tahun lalu Weintraub pernah mengunjungi Euis di Bandung saat dia meneliti wayang golek. Weintraub pula yang menjadi koordinator beberapa perguruan tinggi pada workshop gamelan dan kawih Sunda selama Euis di AS.

“Sebetulnya Andrew sudah meminta saya mengajar di Amerika sejak tahun 1997. Tetapi saat itu saya tolak karena masih banyak kegiatan di sini (di dalam negeri),” katanya.

Tahun 1980-an di rumahnya, Jalan Kopo, Kota Bandung, Euis sudah didatangi mahasiswa asing yang ingin belajar tembang Sunda. Mereka antara lain Sean Williams dari AS serta Keiko dan Akiko dari Jepang. Williams kini mengajar tembang Sunda di Evergreen State College, AS, dan Keiko serta Akiko aktif dengan kelompok degung Sunda di Jepang.

Rasa tak percaya dengan apa yang diraihnya itu timbul di hati Euis terutama saat mengenang masa kecilnya di sebuah kampung di Majalaya, Kabupaten Bandung. “Saya belajar tembang dan kawih Sunda pada Ansori, seorang juru tulis desa, saat berusia sembilan tahun,” kata Euis yang dirawat dan dibesarkan neneknya, Iming.

Neneknya pula yang mengantarkan Euis belajar dan pentas di berbagai tempat. Saat masih di sekolah dasar, ia sudah menjuarai berbagai perlombaan tembang dan kawih Sunda.

Grup Degung Perempuan Pertama

Pada 1960-an Euis beberapa kali menjuarai pasanggiri tembang dan kawih Sunda, hingga ia dipercaya menjadi juri. Pertengahan tahun 1960-an ia mulai memiliki album pop Sunda yang direkam di berbagai studio di Jakarta dan Bandung. “Saya ingin sekali mendapatkan album-album pop Sunda saya dulu karena saya tak sempat menyimpannya,” ujar Euis.

Saat itu ia dan grup degungnya, Dewi Pramanik, amat populer di Tatar Sunda. Ini antara lain karena seluruh anggota grup degung itu perempuan. “Dulu grup degung perempuan belum ada sehingga kami dianggap aneh. Sekarang kesenian gamelan degung makin memprihatinkan karena jarang ada orang yang mementaskan gamelan degung. Berbagai perhelatan lebih suka menampilkan kesenian kibor tunggal,” tuturnya.

Padahal, ujar Euis, apa yang dilupakan masyarakat Sunda itu justru dicari oleh orang asing. Sejak menikah dengan seniman pencipta Jaipongan, Gugum Gumbira, tahun 1968, karier Euis makin cemerlang.

Euis dan Gugum mendirikan studio rekaman dan sanggar seni Jugala. Ia juga mengeluarkan banyak album, salah satunya Modjang Bandoeng. “Kalau dihitung hingga tahun 2000-an sudah ada sekitar 50 album pop Sunda, tembang Sunda, degung, jaipongan, dan kliningan yang saya buat,” kata ibu empat anak dan nenek delapan cucu ini.

“Kekayaan seni Indonesia sangat unik dan membanggakan. Anak muda di negeri asing saja begitu cinta pada seni Indonesia. Kita harus lebih mencintainya,” ucap Euis yang tak berpikir materi dalam bekerja.

“Yang penting kita berkarya sungguh-sungguh, materi akan mengikuti usaha kita,” kata perempuan yang berharap tembang, kawih, degung, dan gamelan Sunda tetap lestari sepanjang masa.

Biodata

Nama: Euis Komariah
Lahir: Majalaya, Jawa Barat, 9 September 1949
Pendidikan: Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Bandung, Jawa Barat
Pengalaman:

- Misi persahabatan di Malaysia dan Singapura, 1967
– Misi persahabatan “sister city” Bandung-Braunsweigh, Jerman Barat, 1983
– Pagelaran Kebudayaan Jabar di Jepang, 1987
– Asian Tourism Forum, Thailand, 1989
– Malam Indonesia HUT RI di Malaysia, 1993
– Pagelaran Seni Jabar di Jepang, 1997
– Pagelaran di Jepang diundang Paraguna, Perkumpulan Pencinta Seni Sunda dan China di Jepang, 2003
– Pendiri Lingkung Seni Dewi Pramanik
– Pendiri Jugala Grup
– Guru tembang Sunda untuk penulisan skripsi dan disertasi bagi orang asing [Jepang, AS, Australia]
– Pengajar di Jugala Grup
– Pengajar di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung

sumber >> http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/28/Sosok/3991954.htm

 

Prakarsa perempuan independen Indonesia sejak 2008.

Hak cipta isi milik sumber masing-masing naskah.