Faiza Mardzoeki, Sadarkan Hak Perempuan Lewat Teater

“Saya akan berbuat sesuatu yang dihidupi oleh dorongan sanubari. Saya kira saya punya dorongan sanubari yang luarbiasa untuk dunia teater dan gerakan pembebasan perempuan. Saya berkeyakinan bahwa perjuangan hak-hak asasi kaum perempuan dan perubahan sosial bisa dilakukan melalui bidang budaya.”

Faiza Mardzoeki
penulis-naskah/produser/sutradara teater, feminis dan aktivis hak-hak perempuan

 

JAKARTAPOST – “Bicara secara umum, dunia teater di Indonesia sangatlah menyedihkan. Di Jakarta sekalipun, sebagai kota terbesar dengan 20 juta penduduk, hanya ada dua atau tiga saja kelompok teater yang mapan. Ini sangat meresahkan saya,” kata Faiza Mardzoeki pada suatu wawancara dengan Jakarta Post di awal tahun 2015.

“Juga, tidak ada regenerasi. Kelompok-kelompok teater baru menghadapi banyak kendala di dalam hal sarana dan dana. Biaya pelatihan dan sewa ruang terus membubung. Ditambah lagi, hasil riset dan makalah tentang teater menjadi kian langka,” lanjutnya.

Lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, pada 7 Februari 1972, Faiza mengasah ketrampilan sastra dan teaternya sejak tahun 1992 bersama Wiji Thukul, tokoh pujangga dan teater yang banyak menulis puisi tentang pemerintahan Soeharto. Tokoh yang dinyatakan orang hilang sejak tahun 1998.

Faiza juga terlibat di banyak kegiatan pendampingan perempuan dan gerakan perempuan, pengalaman yang mempengaruhi awal karya-karyanya, saat ia mulai menulis dan memproduksi pentas dramanya sendiri pada tahun 2002.

Kental Dengan Feminisme

Kebanyakan karya-karya pentas Faiza berbicara soal feminisme, seperti drama Perempuan Di Titik Nol (2002) yang diadaptasi dari naskah novelis Mesir El Saadawi Women At Point Zero; drama Nyai Ontosoroh (2007) adaptasi dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer; drama monolog Perempuan Menuntut Malam (2008) bersama Rieke Diah Pitaloka; drama Panggil Saya Kartini (2010) adaptasi dari kumpulan surat-surat Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang; drama Rumah Boneka (2010) adaptasi dari The Doll’s House karya tokoh teater Norwegia Henrik Ibsen; drama Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh (2010-2011) versi pendek dari produksi 2007; drama Nyanyi Sunyi Kembang-kembang Genjer (memperingati Hari Perempuan Internasional 2014); drama Subversif! (2014-2015) adaptasi dari naskah An Enemy of the People, satu lagi karya Henrik Ibsen.

“Belakangan, saya sudah memperluas lingkup wawasan minat-perhatian saya,” kata Faiza, yang terus pulang-pergi antara Indonesia dan Australia sejak tahun 2003.

Khusus mengenai pentas drama Subversif!, yang diangkat dari karya Henrik Ibsen berjudul asli “An Enemy of the People”, Faiza menyatakan naskah aslinya terpaksa harus ditafsir-ulang. “Karena di naskah asli, polusi terjadi di sebuah tempat pemandian umum. Ini sangat budaya Eropa. Walau begitu, tetap saya menganggap tema besar Ibsen cocok untuk konteks di Indonesia, di mana saya melihat banyak kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh korporasi-korporasi, terutama di ranah pertambangan,” jelas Faiza.

Video Teaser “Nyanyi Sunyi Kembang-kembang Genjer”, 2014.

 

Video Behind the Scenes “Rumah Boneka”, 2010.

“Saya juga sangat mencintai Ibsen karena ia selalu membangun karakter-karakter perempuan yang kuat di karya-karya dramanya,” kata Fai, demikian nama panggilan kecilnya di kalangan teman. “Salah satu karakter perempuan di Subversif! adalah Karina, istri tokoh dr. Turangga. Ia tegas dan berani mengutarakan pikirannya. Ada juga tokoh antagonis perempuan bernama Billy, seorang wartawan.”

Karena Subversif! membahas lingkungan dan tambang, tidak mengherankan bila pentas perdananya digelar di kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada Oktober 2014.

“Saat melakukan riset di Kalimantan, saya mendapatkan bahwa pembuat kebijakan, dari pangkat yang terendah sampai tertinggi, sama-sama memiliki andil dalam memberikan izin pembabatan hutan kepada perusahaan-perusahaan tambang. Mereka juga bekerjasama dengan media dalam membentuk mindset masyarakat. Realita inilah yang ingin saya kemukakan melalui Subversif!,” tambahnya.

Banyak Kendala Pendanaan

Dalam membawa karya-karyanya sampai di pentas, Faiza mengakui banyak kendala yang harus ia lalui.

“Saya butuh sekitar enam bulan untuk menyerap naskah An Enemy to the People dan memahami sepenuhnya konteks ceritanya, menerjemahkannya ke Bahasa Indonesia, kemudian mengadaptasinya ke karya pentas saya,” kata Faiza. “Kemudian untuk menyelesaikan produksi, saya butuh hampir setahun. Banyak kendala dalam memperoleh pendanaan, tetapi untung akhirnya saya mendapat sponsor dari Kedutaan Norwegia di Jakarta.”

Berikutnya, Faiza mempunyai rencana mengangkat kisah kehidupan para pekerja seks di kawasan Dolly di pinggiran Surabaya, Jawa Timur, yang akhirnya ditutup oleh Pemerintah. “Pentasnya akan berjudul Opera Dolly. Di dalam ide saya, akan ada unsur-unsur musik, tetapi bukan masuk kategori pentas musikal,” lanjutnya. Opera Dolly akan bertutur tentang perjuangan hidup para pekerja seks. “Saya datang ke Dolly untuk melakukan riset dan apa yang saya temukan sangat mengejutkan. Ternyata masalah-masalah yang mereka hadapi sangatlah kompleks,” ungkapnya. “Maka saya butuh lebih banyak waktu untuk riset lebih jauh.”

Peluasan Wawasan Tiada Henti

Faiza Mardzoeki sempat melanjutkan pendidikannya di TAFE Sydney belajar Academic English (2005) dan Sastra Inggris serta Sejarah Film di Centre for Continuing Education, University of Sydney. Ia juga sempat mengikuti program “Activating Human Rights on Arts”, Human Rights Centre, Curtin University, Perth, tahun 2003.

Ia meyakini seni teater merupakan proses kerja kreatif yang bisa memberi pengertian-pengertian baru kepada individu yang melakoninya, juga kepada masyarakatnya (penonton dan sebagainya) tentang persoalan-persoalan sosial dan masalah-masalah kemanusiaan lainnya.

Sebagian besar kegiatan seni yang dibuat Faiza tergerakkan oleh keinginannya untuk bersuara tentang keadaan kaum perempuan di Indonesia, dan membangkitkan kepedulian serta kesadaran tentangnya. Dalam setiap kesempatan, sambil selalu siap bekerja sama dengan kaum lelaki maupun perempuan, selalu dicari pula kesempatan untuk memperkuat posisi perempuan, termasuk di dunia seni itu sendiri.

Selain teater, ia aktif di pergerakan perempuan. Ia pernah bekerja di Solidaritas Perempuan (Women’s Solidarity for Human Rights) 1997-2002. Pada pertengahan 2002, bersama teman-teman, ia mendirikan Institut Ungu, organisasi feminis untuk mempromosikan hak dan kesetaraan gender melalui medium seni budaya, di mana ia dipercaya menjadi direkturnya. Melalui Institut Ungu ini ia telah melahirkan “Festival April”, yaitu Festival Seni Budaya Perempuan yang diselenggarakan setiap bulan April dan kegiatan-kegiatan diskusi lainnya.

Ia juga mempunyai pengalaman lain di berbagai forum internasional di area seni dan perempuan, antara lain di Brecht Forum New York (2008), Women Playwrights International Conference (2006) dan mengikuti berbagai forum Perempuan dan Hak Asasi Manusia misalnya WCAR di Durban, South Africa (tahun 2000), Action Research Class, Chiang Mai, Thailand (2002), program magang selama 2 bulan di organisasi perempuan Filipina (2000), CARAM Asia, Malaysia (2000), dan sebagainya. Ketika di Australia ia aktif mengikuti berbagai seminar antara lain presentasi makalah tentang “Kondisi Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri” di forum Amnesty Internasional, Perth (2003) dan membuat program kegiatan budaya seperti Indonesian Films Corner bersama Curtin University, Perth (2003).

Tahun 2010 ia mendirikan Pentas Indonesia, sebuah rumah seni pertunjukan sebagai wujud pengutamaannya di bidang seni pertunjukan, khususnya teater. :: JAKARTAPOST/mar2015 + FAIZAMARDZOEKI.COM

diterjemahkan dari sumber > http://www.thejakartapost.com/news/2015/03/11/faiza-mardzoeki-for-love-drama.html

Kunjungi

http://faizamardzoeki.com

http://www.institutungu.org

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: