Herawati Sudoyo, Pelacak DNA Dari Pemboman Sampai Madagaskar

[INDIHOMEWOMENAWARDS.COM] – Tokoh dr. Herawati Sudoyo, Ph. D. adalah seorang dokter, peneliti, dan penganalisa DNA forensik dari Lembaga Biologi Molekul Eijikman. Ia menerima Anugerah Sekar Bangsa 2013, Habibie Award pada tahun 2008 sebagai peletak dasar pemeriksaan DNA forensik untuk identifikasi pelaku bom bunuh diri, Wing Kehormatan Kedokteran Kepolisian pada tahun 2007 dan Australian Alumni Award of Scientific and Research Innovation pada tahun 2008. Dokter kelahiran Pare, 2 November 1951 ini sejak kecil bercita-cita sebagai arsitek. Sayangnya ia terhambat masalah administrasi ketika akan mendaftar ke Institut Teknologi Bandung dan akhirnya mendaftar ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Akan tetapi ketertarikannya pada bidang interior masih tampak dari caranya menata ruang kerjanya di Lembaga Biologi Molekul Eijkman.

Hera, demikian nama kecilnya, menata ruang kantornya dengan gaya kolonial klasik yang memberikan kesan hangat dan nyaman. Ia tak pernah membayangkan jadi peneliti sebelumnya. Ayahnya adalah seorang tentara dan ibunya adalah mahasiswi jurusan hukum ketika menikah dengan ayahnya. Ayahnya adalah pria yang disiplin. Beliau juga selalu berusaha memotivasi Hera untuk belajar dengan memberikan hadiah bila ia meraih prestasi. Selain sebagai dokter dan peneliti yang berprestasi Hera adalah seorang ibu yang sangat perhatian pada anak-anaknya. Hal ini tampak dari keputusannya untuk memboyong kedua anaknya yang berusia 9 dan 6 tahun ketika melanjutkan studi doktoralnya di Australia. Sang suami tetap tinggal di Indonesia karena saat itu ia juga tengah menyelesaikan studinya. Saat itu setiap pagi, seusai mengantar anak-anak ke sekolah ia berangkat ke laboratorium. Sore harinya ia menjemput anak-anaknya, memasak, kemudian kembali ke laboratorium. Kerja kerasnya tidak sia-sia. Ia akhirnya berhasil meraih S3-nya dari Departemen Biochemistry , Monash University.

 

Ahli Di Balik Pelacakan Forensik “Bom Kedubes Australia 2004”

 

Ketika terjadi musibah ledakan bom bunuh diri di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada tanggal 9 September 2004, Hera bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk mengidentifikasi pelaku bom bunuh diri tersebut. Hera bersama Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri berhasil mengumpulkan sampel DNA pelaku bom bunuh diri dan mencocokkannya dengan DNA keluarga tersangka. Dalam waktu kurang dari 2 minggu, mereka berhasil mengidentifikasi pelakunya. Karena keberhasilannya ini ia memperoleh Habibie Award pada tahun 2008 sebagai peletak dasar pemeriksaan DNA forensik untuk identifikasi pelaku bom bunuh diri.

Peristiwa inilah yang menjadi awal diakuinya “Teknik Analisis DNA Metode Hera”. Saat itu pihak Polri ditantang untuk segera mengidentifikasi pelaku dan mengungkap kelompok di baliknya. Kejadian itu menewaskan 10 korban dan mencederai lebih dari 180 orang. Mobil boks yang mengangkut bom hancur total dan tak ada bagian tubuh yang memungkinkan untuk diidentifikasi dengan metode konvensional, seperti sidik jari, profil gigi, apalagi pengenalan wajah. Persoalan berikutnya, bagaimana menentukan mana pelaku dan mana korban? Solusi persoalan pertama adalah identifikasi DNA. Singkatan dari deoxyribonucleic acid, DNA adalah rantai informasi genetik yang diturunkan. DNA inti mengandung informasi dari orangtua: ayah dan ibu. Persoalan kedua diatasi dengan mengembangkan strategi pengumpulan dan pemeriksaan serpihan tubuh berbasis prediksi trajektori ledakan bom dan posisi pelaku. Sebagai orang yang paling dekat dengan bom, serpihan pelaku akan terlontar lebih jauh dibanding serpihan korban. Teori yang dikembangkan tim Hera bersama Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri ternyata betul. Jaringan tubuh yang berasal dari tempat-tempat terjauh memiliki profil DNA yang sama. Hasil ini kemudian dibandingkan dengan profil DNA keluarga dekat yang dicurigai. Kurang dari dua minggu, tim gabungan Eijkman-Polri berhasil mengidentifikasi pelakunya. Disebut Disaster Perpetrator Identification (DPI), teknik ini melengkapi Disaster Victim Identification (DVI) yang biasa digunakan untuk identifikasi korban bencana massal.

 Penemuan Orang Indonesia Sebagai Nenek Moyang Orang Madagaskar

Penelitian mengenai genetika manusia Indonesia dengan fokus keragaman genetik terkait dengan penyebaran penyakit memang salah satu kegiatan Lembaga Eijkman. Demikianlah, suatu penelitian dasar telah menunjukkan fungsinya sebagai penunjang kepentingan terapan. Database genom populasi tidak sekadar menguak kejahatan. Variasi DNA bisa menunjukkan struktur kekerabatan populasi, pola migrasi, hingga penyakitnya. Penelitian DNA Madagascar dan Indonesia Dr. Herawati Sudoyo beserta dengan Murray P. Cox, Michael G. Nelson (Selandia Baru), Meryanne K. Tumonggor (Arizona), Francois-X. Ricaut (Prancis) menyimpulkan bahwa nenek moyang penduduk Madagaskar adalah orang Indonesia. Studi yang dilakukan sejak tahun 2005 tersebut, dilakukan dengan melakukan pencocokan DNA dari 2.745 sampel penduduk Indonesia yang berasal dari 12 pulau yaitu Sumatera, Nias, Mentawai, Jawa, Bali, Sulawesi, Sumba, Flores, Lembata, Alor, Pantar dan Timor, dicocokkan dengan 266 sampel penduduk Madagaskar. Sampel DNA penduduk Madagaskar berasal dari tiga kelompok besar etnik yang dibedakan berdasarkan budaya dan tempat tinggal, yaitu: Mikea (pemburu), Vezo (nelayan), dan Merina (dataran tinggi). Marka genetik yang digunakan adalah DNA mitokondria, kromosom Y. “Kami mengambil sampel darah dari penduduk Indonesia dan Madagaskar.”

Hasil penelitian tersebut menunjukkan, dari 2.745 sampel DNA Indonesia, 45 orang membawa motif Malagasi. Di mana motif tersebut terdapat pada 58 sampel dari 226 total sampel penduduk Madagaskar. Hasil uji DNA ini membuktikan adanya hubungan darah antara penduduk Madagaskar dan Indonesia. Hasil pemetaan genetik di Indonesia terdahulu memperlihatkan gambaran sejajar antara penyebaran bahasa dengan penyebaran variasi genetik.

Herawati Sudoyo menjabat Wakil Direktur Lembaga Biologi Molekul Eijkman. Lembaga ini secara konsisten menghasilkan temuan mutakhir, riset kelas dunia, tetapi Sudoyo sadar di Indonesia output ilmiahnya cenderung lebih kecil dibandingkan di negara-negara lain di Asia Tenggara. Kiranya cukup lama Sudoyo bekerja di Institut Eijkman. Sedari awal 1990-an. Setelah gelar medis di Universitas Indonesia, Sudoyo melanjutkan studi ke Monash University di Melbourne, Australia, belajar keilmuan Mitokondria. B.J. Habibie menggambarkan sosok Sudoyo sebagai “seorang individu, revolusioner berpikiran maju”. Akhirnya Habibie meminta Marzuki, saat ini menjadi Direktur Eijkman, untuk mendirikan lembaga biologi di Jakarta. Marzuki segera meminta Sudoyo untuk bergabung dengannya, dan mereka pun bertugas menggawangi reputasi tinggi lembaga tersebut.

PRESTASI/ANUGERAH: Anugerah Sekar Bangsa 2013 untuk Sains dan Teknologi, Penghargaan Kartini 2009 untuk wanita inspiratif dalam ilmu pengetahuan. Habibie Award 2008, Australian Alumni Award of Scientific and Research Inovation (2008), Wing Kehormatan Kedokteran Kepolisian (2007), Penerima Riset Unggulan Terpadu (1993-1996), Third World Academy of Science Award (1992), Toray Foundation Research Award (1991-1992)

BENTUK KONTRIBUSI: Meletakkan dasar pemeriksaan DNA forensik untuk identifikasi pelaku bom bunuh diri. Membuat penemuan berharga dalam genetika populasi. Mengidentifikasi variasi geografis dalam mutasi genetik yang menyebabkan thalassemia untuk membantu dengan diagnosis prenatal.

KREATIF & INOVATIF: Berkolaborasi peneliti internasional dan menemukan bahwa sekelompok kecil perempuan Indonesia merupakan nenek moyang etnis dari orang Malagasi, pantai timur Afrika.

KONSISTENSI: 1990 – 2014 (sekarang)

DIGITAL USAGE:
FB : https://www. facebook. com/herawati. supolosudoyo? ref=ts&fref=ts
LinkedIn : http://www.linkedin.com/pub/herawati-sudoyo/82/552/453

REFERENSI:

http://id. wikipedia. org/wiki/Herawati_Sudoyo http://www. tokohindonesia. com/tokoh/article/283-direktori/1318-herawati-sudoyo
http://www. thelancet. com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736%2812%2961437-8/fulltext
http://www. politikindonesia. com/index. php? k=wawancara&i=33304-Prof.-dr.-Herawati-Sudoyo:-Perempuan-Indonesia-Nenek-Moyang-Bangsa-Madagaskar
http://profil. merdeka. com/indonesia/h/herawati-sudoyo/ http://www. youtube. com/watch? v=fXqYRD_PsLo
http://rustikaherlambang. com/2009/04/02/herawati-sudoyo/
http://rustikaherlambang. com/2009/04/02/herawati-sudoyo/
http://wwwinfonusantara. blogspot. com/2010/07/herawati-sudoyo-peletak-dasar. html
http://www. tokohindonesia. com/biografi/article/286-direktori/1319-peletak-dasar-pemeriksaan-dna-forensik
http://www. youtube. com/watch? v=fXqYRD_PsLo

 

sumber >> http://indihomewomenawards.com/herawati-sudoyo

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: