Ibu dan Anak Pegangi Nasib Batik Tulis Banyumasan

[AGUNGPAMBUDHY] ~ Pagi yang cerah dan sinar matahari yang hangat menyelimuti Desa Pekeringan, Karang Moncol, Purbalingga, Jawa Tengah. Kala itu waktu menunjukkan pukul 07.30 WIB dan Mbah Nami terlihat sudah melakukan pekerjaan membatik, keahlian yang telah ia tekuni selama puluhan tahun. Tangan perempuan usia 80 tahun itu seperti tidak kenal lelah, menggoreskan canting segaris demi segaris di atas kain mori. Perubahan zaman seakan tidak mampu melunturkan kecintaannya pada seni batik. Anak perempuannya, Sayiti (46 tahun), mengikuti jejaknya sebagai pembatik dan mendampingi dalam mencipta karya-karya batik tulis Banyumasan yang sudah nyaris punah. “Membatik memang sudah tradisi keluarga kami…turun-temurun,” tutur Sayiti dengan Bahasa Jawa Banyumasan halus. “Saya sudah 25 tahun membatik, ibu saya itu malah sudah 65 tahun.”

Setiap hari, pasangan pembatik ibu dan anak ini berkarya mulai pukul 07.00 WIB hingga senja menjelang pukul 17.00 WIB. Ternyata keahlian membatik ada pada garis keturunan perempuan keluarga ini, seperti yang diutarakan oleh Mbah Nami: “Saya membatik sejak umur 15 tahun, diajari ibuku.”

Seni batik merupakan suatu kearifan tradisional yang menuntut penanganan apik dari mula hingga akhir. Tahap pertama dari proses membatik adalah ngateli, yaitu merendam kain mori dengan air kacang selama semalaman. Esoknya, kain diembunkan satu malam lagi untuk kemudian disiram air panas. Dalam keadaan panas, kain mori dipukul-pukuli hingga lemas di tangan. Setelah dikeringkan secara saksama, barulah lembaran kain mori itu siap untuk dilukis.

“Supaya garisan canting tidak melantur dan berantakan, dibuatkan pola untuk menata motif-motif pada kain,” demikian jelas Sayiti. Untuk melukis di atas kain mori tersebut digunakan apa yang disebut malam, yaitu cairan lilin dari campuran getah damar. Dituntut kesempurnaan pada tiap goresan karena sedikit saja kekeliruan akan menghasilkan cacat tampilan batik secara keseluruhan, mengingat satu motif ke motif lain adalah kesinambungan yang menyatu pada suatu lembaran disain batik. Selesai pelukisan tahap pertama, kain menjalani proses yang disebut wedel di mana kain dicelup warna hitam. Yang memprihatinkan, proses wedel batik Banyumasan berada di ambang kelenyapan.

“Proses wedel dan babaran sekarang ini hanya bisa dilakukan di tempat Pak Slamet di Sokaraja karena tinggal beliau yang tahu ramuan asli untuk pewarnaannya, dan biayanya Rp 20.000,- per lembar,” kata Sayiti. Setelah pencelupan warna hitam, motif-motif yang ingin dipertahankan pada warna terang ditimpa ulang dengan lilin dan kain dicelup untuk kedua kalinya, kini ke warna coklat. Warna hitam dan coklat keemasan adalah khas batik Banyumasan dan pernah populer di tahun 1960an-1970an. Motif-motif yang ditampilkan antara lain: naga tapa, kembang goyang, pring sedapur, tambal miring dan sawung galing.

Nilai Jual yang Dimatikan Oleh Penjiplakan

Mbah Nami maupun Sayiti masing-masing membutuhkan waktu dua minggu untuk meyelesaikan satu lembar kain batik tulis.  Harga jual yang kini berlaku sangat tidak berimbang dengan kearifan yang tercurahkan ke setiap lembar kain batik tulis itu. Selembar kain batik mereka hanya mampu dihargai Rp 110.000,- saja per lembar. Dalam sebulan, seorang pembatik hanya bisa mengantungi paling banyak Rp 260 ribu. “Tentu saja jumlah itu tidak cukup membiayai kebutuhan hidup kami,” kata Sayiti, yang berperan sebagai kepala rumahtangga. Suaminya meninggal dunia beberapa tahun silam sehingga seorang diri ia menghidupi dua orang anak dan ibunya. “Sangat berat, Mas. Kadang saya harus hutang ke tetangga atau ke pengapul batik untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Tapi apa mau dikata, hanya ini yang kami bisa,” ungkap Sayiti.

Bagi Sayiti dan Mbah Nami keahlian menciptakan batik Banyumasan mungkin sekadar pegangan hidup apa adanya. Di lingkup yang lebih luas dari kelestarian budaya, mereka sesungguhnya adalah pewaris kearifan budaya yang pelan-pelan lenyap di depan mata.  Seperti api yang ikut hilang dengan habisnya minyak, kearifan batik tulis Banyumasan dipastikan akan habis dari permukaan Bumi dengan lenyapnya pembatik-pembatik tradisional seperti mereka berdua.

Bertahun-tahun silam, sekitar tahun 70-an, batik tulis Banyumasan menggapai masa kejayaannya. Batik Banyumas kala itu melanglang buana ke seantero negeri. Tidak kalah dengan pamor batik Pekalongan dan Yogyakarta yang telah lebih dahulu mendunia. Data Pemerintah Kabupaten Banyumas dan Purbalingga menyebut, kala itu sedikitnya enam ribu pengobeng (sebutan untuk pengrajin batik) hidup dari pekerjaan ini. Mendung mulai menghampiri hidup para pengobeng ketika batik cetak/cap mulai menjalari pasar dengan harga jauh lebih murah. Penjiplakan motif-motif tradisional asli yang bebas adalah masalah lain yang mempercepat hilangnya nilai lebih dari batik-batik tulis Banyumasan. Pengobeng yang dahulu ribuan, kini tinggal segelintir.

Terus Kehilangan Generasi Penerus

Menjadi pembatik seperti Sayiti bukanlah pilihan pekerjaan yang menjanjikan saat ini, apabila bagi orangtua yang harus membiayai dua anak remaja. “Alhamdulillah saya bisa mebiayai sampai mereka lulus SMA,” kata Sayiti dengan rendah hati. “Untunglah anak saya yang besar sudah bekerja.”  Kecintaan pada membatiklah yang rupanya membuat ia teguh dan tekun berkreasi setiap hari. Orang pun bisa menilai kecintaannya ini, terbukti pada tahun 2005 ia muncul sebagai pemenang kedua pada pameran batik di Pendopo Cipto Kusumo Kabupaten Purbalingga.

Setiap hari Mbah Nami dan Sayiti sama-sama gundah. Bukan karena hidup mereka yang pas-pasan sebagai pembatik yang sudah langka, melainkan lebih karena kedua anak gadis Sayiti tidak ada yang berminat meneruskan tradisi membatik sebagai profesi. “Bocah-bocah seniki mboten gelem mbatik lagi, kulo dadi sedih. Pancen gawean niki mboten nguripi, tapi keluarga kulo sampun turun-temurun, sampun tradisi (Anak-anak sekarang sudah tidak mau menjadi pembatik lagi. Memang ini bukan pekerjaan yang bisa menghidupi, tapi keluarga saya sudah turun-temurun melakukannya, sudah tradisi),” keluh Sayiti.

Dalam perkembangannya, belakangan ini batik tulis Banyumasan menjadi kurang dikenal oleh masyarakat awam di Banyumas khususnya dan Indonesia umumnya. Menyaksikan nasib batik tradisional Banyumasan yang kian tahun kian mencemaskan kelangsungannya, pada tahun 2003 Bupati Banyumas mengeluarkan surat edaran yang mewajibkan seluruh pegawai negeri sipil (PNS) mengenakan batik Banyumasan sebagai seragam kerja. Kebijakan ini beritikad menggairahkan pasar batik Banyumasan setempat, akan tetapi pada prakteknya tidak memenuhi harapan.  Harga batik tulis Banyumasan yang isa mencapai Rp 350.000,- per lembar berada jauh di luar jangkauan gaji pegawai negeri.

Kini Sayiti hanya bisa berharap pemerintah dapat memberikan pinjaman modal dan dukungan jaringan pemasaran bagi para penghasil batik tulis Banyumasan yang jumlahnya tinggal sedikit dewasa ini. Ibu dan anak pembatik itu tidak tahu bagaimana nasib batik Banyumasan di masa mendatang. Mereka hanya tahu bahwa tiap goresan yang mereka lukiskan pada kain-kain mori itu membawa kebahagiaan tersendiri, dan mungkin juga kemenangan melawan masa yang ingin memaksanya punah.

Disarikan dari naskah asli “Profil Pelestari Batik Tulis Banyumasan” Oleh Agung Pambudhy, Juni 2008 >> http://agungpambudhy.multiply.com/journal/item/3

 

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: