Irawati, Perintis “1.000 Bintang” Untuk Anak Korban Tsunami

[OKEZONE.COM] – Berangkat dari keprihatinan, seorang ibu berhasil merintis pendidikan anak usia dini (PAUD) untuk anak-anak nelayan dan korban tsunami. Teras rumahnya di Gampong (Desa) Lampageu, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, disulap menjadi tempat belajar.

Dialah Irawati (30), ibu rumah tangga yang saban hari bergelut dengan anak-anak pesisir. Kecintaan pada anak-anak mendorongnya mendirikan PAUD “1.000 Bintang” di Lampageu, desa paling ujung utara di daratan Pulau Sumatera yang pernah disapu tsunami delapan tahun silam.

“Mereka sudah saya anggap seperti anak saya sendiri. Jadi saya ikhlas saja mendidik mereka sambil mendidik anak saya juga,” tuturnya kepada Okezone, Selasa (25/12/2012).

Pengabdian berawal dari rasa iba melihat anak-anak yang telantar di tengah kesibukan orangtua mencari nafkah menutupi kebutuhan sehari-hari. Bagi Irawati, pendidikan usia dini dianggap penting untuk membentuk karakter mereka.

“Terbuka pikiran saya, seandainya ada TK di sini mungkin mereka bisa bermain sambil belajar. Dengan begitu mereka bisa lebih terarah,” ujarnya.

Mulailah dia mendata anak-anak usia satu hingga lima tahun. Ada 35 balita saat itu, semuanya berasal dari Lampague. Sejak November 2011, teras berukuran sekira 3×6 meter persegi tersebut disulap menjadi PAUD 1.000 Bintang, arena anak-anak pesisir bermain sambil belajar.

Perempuan lulusan Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh, itu mengurus sendiri anak didiknya. Pernah berpengalaman menjadi relawan kemanusiaan bagi anak-anak korban konflik Aceh dulu, membuatnya sama sekali tak canggung berada di antara siswa.

Agar PAUD berjalan, Suci Ananda (19), putri sulungnya, ditugaskan mengurus administrasi para siswa. Jangan bayangkan ada komputer atau komputer jinjing. Untuk keperluan surat-surat atau dokumen, Irawati harus ke jasa rental di Simpang Ajun, sekira enam kilometer dari desanya.

Mula-mula Irawati harus putar otak meyakinkan para orangtua murid agar bersedia membawa anaknya ke PAUD. Terbatasnya pengetahuan warga, membuat mereka kurang paham pentingnya pendidikan bagi anak-anak.

Lampague atau biasa disebut Ujong Pancu berpenduduk sekira 350 jiwa dari 90 kepala keluarga. Saat tsunami menerjang pada Minggu, 26 Desember 2004 lalu, belasan warganya jadi korban. Sebagian besar penduduk kehilangan mata pencaharian. Mayoritas warga Ujong Pancu berkerja sebagai nelayan, sebagian mencari rotan ke hutan.

“Bayangkan orang yang tamat SMA saja di sini cuma tiga orang, termasuk saya. Itu pun dua orang lagi sudah tidak tinggal di sini lagi. Jadi wajar. Tapi akhirnya mereka memahaminya,” ungkap ibu lima anak (dua di antaranya anak tiri) itu.

Karena terpengaruh lingkungan, tentu saja sulit mengajak mereka bersekolah. Irawati tak hilang akal. Tiap pagi, dia menjemput mereka satu per satu ke rumah masing-masing.

“Alhamdulillah sekarang tidak perlu lagi, anak-anak sudah mau datang sendiri, sudah semakin suka belajar,” sebutnya.

Jadwal belajar ditetapkan pada Senin, Rabu, Kamis, dan Jumat, mulai pukul 09.00 sampai 11.00 WIB. Agar para siswa betah belajar, Irawati merelakan mainan anak-anaknya digunakan. Dia punya tiga buah hati yang masih kecil yaitu Rahmad Fadil Rayani (10), Rahmad Maulana Rayani (3) dan Jihan Putri Rayani yang barusia dua bulan.

Agar ruang belajar lebih berwarna, dia menempel gambar-gambar kartun edukasi dan menambahkan umbul-umbul yang dibuatnya sendiri. “Kalau punya uang, saya juga membeli beberapa mainan agar koleksi PAUD bertambah,” sebut dia.

Tak ada bangku dan meja. Mereka belajar sambil lesehan di atas spanduk bekas yang digelar di lantai. Juga tak ada halaman yang diisi fasilitas bermain seperti PAUD lainnya.

Irawati memaksimalkan fungsi teras, untuk mengajar siswa mengenal diri dan lingkungannya.

Yayasan Bintang Kecil ikut menyumbang dua lemari belajar dan dua pak mainan anak-anak sewaktu PAUD baru berdiri. Yayasan juga mengerahkan dua relawan untuk membantu Irawati. Dari modal ini PAUD eksis sampai sekarang.

Ulah anak-anak kadang bikin jengel. Ya, Irawati sering merasakannya. Pernah sekali waktu, para siswa ditinggalkan sebentar di ruangan. Ketika kembali ternyata ruangan kosong. Ternyata mereka sudah bermandi ria di laut yang jarak hanya sekira 20 meter dari rumah Irawati.

“Kemudian saya datang dan meminta mereka untuk berpakaian dan naik ke teras lagi. Begitulah anak-anak, jadi memang kita harus sabar menghadapi mereka,” kata Irawati.

Supaya anak didiknya senantiasa sehat, Irawati membuat program makanan tambahan. Setiap anak dipungut Rp1.000 per hari, namun sifatnya sukarela. Inilah satu-satunya biaya yang dikenakan kepada murid PAUD ini, selebihnya tidak ada pungutan lain.

“Kalau ada telur atau tempe di rumah, saya masak buat mereka. Kalau tidak cukup satu orang satu, saya belah agar cukup untuk semua,” katanya sambil tertawa.

Nama ‘1.000 Bintang’ menurut Irawati, berasal dari biaya harian tadi. Sedangkan “Bintang” diartikan sebagai anak-anak yang memiliki cita-cita tinggi.

“Jadi dengan seribu ini, saya bercita-cita ingin melahirkan bintang-bintang masa depan di desa ini,” tukasnya.

PAUD 1.000 Bintang kini sudah memiliki 45 murid. Tak seperti sebelumnya, dalam empat bulan terakhir, para siswa mulai mengenakan seragam seperti PAUD lain.

Proses belajar mengajar, sejak dua bulan silam juga sudah pindah dari teras rumah Irawati ke Poliklinik Desa (Polndes) Lampageu yang letaknya bersebelahan pagar.

Perangkat desa mengizinkan Polindes dipakai karena bidan yang ditugaskan di sana hanya datang sebulan sekali.

Sejak hamil tua dan melahirkan anak bungsunya, Irawati praktis absen mengajar. Namun, dia tetap memantau jalannya PAUD. Sekarang anak-anak ditangani relawan dari mahasiswa program psikologi yang bergantian mengabdi.

Sejak PAUD Seribu Bintang berdiri kehidupan anak-anak pesisir semakin terdidik. Jika pagi belajar di PAUD, sore nya mereka belajar membaca Alquran di Meunasah (surau).

“Mereka tidak seperti dulu lagi. Kalau dulu sering berbicara kasar. Alhamdulillah sekarang sudah mulai berubah. Sudah ada sopan santun. Kebiasaan mereka mengambil buah-buahan di kebun orang juga sudah tidak ada lagi, sekarang sudah tau kalau ambil punya orang harus minta izin,” ungkapnya.

Irawati berharap PAUD yang sudah dirintisnya mendapat perhatian dari pemerintah, agar proses pendidikan bisa dimaksimalkan lagi. Selain belum memiliki legalisasi, PAUD Seribu Bintang kini membutuhkan gedung yang layak dengan halaman bermain representatif.

“Proses legalisasi sudah saya urus semua, dari tingkat desa sudah, kecamatan juga sudah. Sekarang keputusannya tinggal di Dinas Pendidikan,” kata Irawati.

Keberhasilan Irawati bukan hanya pada merintis PAUD, dia juga sukses menggerakkan masyarakat di desanya aktif dalam kegiatan keagamaan, sosial dan ekonomi pascatsunami. Karena dianggap berjasa terhadap perempuan dan anak-anak, dia terpilih sebagai salh satu calon dalam seleksi  Anugerah Perempuan Aceh Award 2012 pada November 2012.

Irawati, Perintis “1.000 Bintang” Untuk Anak Korban Tsunami.

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: