Itha Yusuf dan Garis Tangan Penenun

Ita Yusuf Penenun Flores

Ita Yusuf, pemegang kearifan tenun lokal Flores. (Foto: FCB/Ian Bala)

Mulai belajar menenun sejak berusia 10 tahun, Itha Yusuf (54) meyakini garis tangan yang diberikan Tuhan memang mengarahkan dirinya menjadi seorang penenun, terutama tenun ikat khas Ndona, Kabupaten Ende. Seperti apa kisahnya?

[FLORESBANGKIT.COM] – Belajar menenum bukan suatu hal yang mudah, butuh waktu dan proses yang cukup lama. Beberapa tahapan menenun mesti dipelajari secara berkala sehingga menghasilkan ketrampilan menenun yang digerakkan oleh ‘rasa’ bukan lagi tangan belaka. Jalan menjadi penenun ini bisa dilakukan lewat pelatihan secara formal maupun non formal. Tetapi kebanyakan menempuh pembelajaran secara otodidak.

Ia mahir menenun bukan karena ia belajar ataupun mengikuti pelatihan, namun ia mahir menenun berkat pengasuhan orang tuanya yang dahulunya juga penenun. Satu hal yang menakjubkan, sudah seusia itu, Itha Yusuf mampu menghasilkan puluhan kain tenun dengan berbagai jenis motif khas etnis Lio.

Bukan suatu hal yang tidak mungkin, tetapi memang garis keturunannya sebagai pengrajin tenun ikat. Ia mengakui tak menyangka dirinya secara tiba-tiba mengendalikan peralatan tenun dan mulai menenun. “Saya secara tiba-tiba bisa menenun. Saya tidak pernah belajar secara khusus, saya hanya setiap hari memperhatikan ibu saya menenun,” ujar Itha lagi.

Sebelum mahir menenun, ia selalu membantu ibunya selama proses menenun. Bantuan itu bukan dalam wujud menenun, tetapi memindahkan alat tenun bukan mesin (ATBM) serta benang-benang, dan keperluan lain ke tempat ibunya biasa menenun. Hanya karena sering mengamati ibunya menenun, tiba-tiba dirinya langsung mengendalikan semua proses menenun hingga menghasilkan kain motif Lio yang sempurna. Almarhum ibunya pun terkejut melihat ia menenun dan menghasilkan sebuah kain motif Lio. “Waktu itu, almarhum ibu saya kaget, tiba-tiba saya bisa menenun satu kain,”kisahnya.

Itha Yusuf saat membuat motif tenun Lio dengan mengikat benang yang akan dia tenun. (Foto: FBC/Ian Bala) Itha Yusuf saat membuat motif tenun Lio dengan mengikat benang yang akan dia tenun. (Foto: FBC/Ian Bala) Perempuan asal Kampung Sokomaki, kelahiran tahun 1961 ini mengakui dirinya mahir menenun berkat leluhurnya yang juga menjadi pengrajin tenun ikat. Saat usia 4 tahun, Itha mengisahkan, ia keseringan bermain tenun-tenunan bersama teman sebayanya. Saat almarhum ibunya menenun, ia bersama teman-temannya duduk di samping sang ibu lalu meniru ibunya menenun.

Hingga berusia 10 tahun, tepatnya saat duduk di bangku kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Lokoboko, Itha kecil masih suka main tenun-tenunan. Saking tertarik untuk menenun, dirinya lantas menenun dengan menggunakan peralatan tenun orang dewasa hingga menghasilkan selembar kain motif Lio dengan jenis motif nggaja.

Hal yang mustahil bisa menjadi sebuah kenyataan. Selain bakat dan minat yang dimiliki, garis tangan leluhurnya seolah mengarahkan dirinya menjadi penenun. Banyak orang berlatih bertahun-tahun hingga trampil menenun, namun Itha secara spontan bisa menenun pada usia kanak-kanak. Teman-teman sebayanya pun heran dan kagum melihat dirinya menenun.

“Teman-teman saya juga heran saat saya menenun dan menghasilkan selembar kain. Memang garis keturunan saya sudah begitu. Dulu kehidupan kami sehari-hari hanya menenun dan almarhum ibu saya bekerja sebagai penenun,”tambah Itha.

Setelah tamat Madrasah, istri dari Jailani Aksa ini, kembali berkonsentrasi pada profesi menenun. Ia mulai berlatih pada setiap proses, mulai dari tahap pete (ikat) bentuk motif, celupan, perminyakan sampai pada tahap menenun. Selain itu, ia mulai mengolah pewarna dasar dari daun mengkudu dan daun tarum untuk memperoleh warna tenunan sesuai dengan jenis motif.

Meskipun demikian, Itha kecil tetap didampingi oleh almarhum ibunya saat menenun. Sebagai orang tua, wajib hukumnya untuk mendidik dan melatih anaknya hingga memiliki ketrampilan agar bisa menjadi bekal hidupnya kelak kemudian hari. Almarhum ibunya terus menjelaskan cara membuat ramuan pewarna alam, cara menyusun benang sesuai dengan rumusan menenun, hingga menjelaskan pemaknaan dari berbagai jenis motif.

“Saya diajarkan semua oleh ibu saya. Mulai dari tahap pertama sampai pada proses menenun. Selain itu saya dijelaskan tentang makna-makna tenun sesuai dengan jenis motif. Saya pelajari semua,”katanya dengan sangat meyakinkan.

Pendidikan Anak

Dari ketrampilan menenun ibu tiga anak: Adi (25), Nur (22) dan Afdan (15) ini mampu membiayai pendidikan anak-anaknya. Saat ini ketiga anaknya sedang menempuh dunia pendidikan dan ia bertekad membiayai pendidikan hingga meraih gelar serjana. Adi, saat ini menempuh pendidikan di Universitas Flores jurusan Hukum, Nur mengambil jurusan Sejarah di perguruan tinggi yang sama. Sedangkan si bungsu, Afdan masih di bangku SMP.

Dalam setahun dirinya harus mengeluarkan uang kurang lebih Rp 13 juta untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Dengan pengeluaran sebesar itu, Itha cukup menjual tujuh lembar kain tenun dengan harga masing-masing Rp 2 juta per lembarnya. Sementara dalam waktu satu tahun, ia mampu menghasilkan sekitar 20 lembar kain tenun motif Lio.

“Saya biayai pendidikan anak saya dari hasil tenun. Ya bersyukur, dengan tenun saya bisa menghasilkan uang dan biayai anak-anak saya,”ujarnya sambil memelintir benang yang ada di tangannya.

Ketika mengisahkan hidupnya, Nur anak kedua Itha, selalu menemani dirinya. Duduk bersandar di tiang persis di teras rumahnya. Tak disadarinya matanya basah tak tahan mendengar kisah perjuangan ibunya. Meski ibunya yang hanya tamat MI (setingkat sekolah dasar), tekad begitu kuat untuk mengantar anak-anaknya meraih gelar sarjana.

“Saya kasihan mama, karena mama berjuang keras untuk biaya kami sampai kuliah,”ujar Nur dengan wajah sedih.

Ungkapan kesedihan Nur, kemudian ditanggapi senyuman ibunya. Perempuan paruh baya ini bertekad membiayai pendidikan anaknya hingga tamat perguruan tinggi. Selain itu, ia akan mengajarkan kepada anak-anaknya untuk berlatih menenun.

“Meskipun mereka (anaknya, red) sekolah tinggi tapi saya akan tetap ajarkan mereka untuk menenun. Karena tenun ini adalah warisan dari nenek moyang dan tugas saya juga untuk mewariskan kepada anak-anak saya. Nenek moyang sudah wariskan ke saya dan saya harus wariskan ke anak-anak saya,”tambah Itha Yusuf.

Kelompok Tenun

Itha Yusuf bukan tipe orang yang mementingkan diri sendiri. Dengan pengalamannya menenun, ia membentuk kelompok tenun bersama ibu-ibu muda di Ndona. Tahun 2004 kelompok itu dibentuk dan diberi nama kelompok “Bou Sama-Sama” yang artinya duduk bersama-sama.

Kelompok tenun ‘Bou Sama-Sama’ ini pernah mengikuti studi banding dan pelatihan tenun ikat, baik skala nasional maupun regional. Tahun 2006, tepatnya di bulan Juli, kelompok ini mengikuti Festival Tenun Ikat di Amarazi-Kupang dan mengikuti pelatihan tenun ikat di Pontianak, Kalimantan Barat. Setelah itu mengikuti studi banding cara panen mengkudu di Sumba yang difasilitasi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ende.

Masih di tahun 2006 juga, studi banding ke Watublapi-Maumere, tentang tenun dan cara membudidayakan tanaman mengkudu. Sementara tahun 2011, studi banding Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di Jepara, Jawa Tengah.

Maksud dari pembentukan kelompok ini, menurut Itha, bertujuan untuk mengembangkan bakat dan minat ibu-ibu dalam menenun. Selain itu, menjaga agar tradisi menenun yang telah diwariskan leluhur tidak punah dan pudar ditelan zaman.

“Di sini ibu-ibu dapat belajar menenun. Warisan nenek moyang ini harus terus dijaga dan diwariskan ke anak cucu. Kelompok ini dibentuk bukan hanya untuk mengikuti pelatihan-pelatihan di daerah lain, tetapi upaya kami agar tenun ini tetap lestari,”ujar Itha, yang menjabat Ketua Kelompok Tenun ‘Bou Sama-Sama’ mengakhiri perbincangan.

:: FLORESBANGKIT.COM/Ian Bala + EC. Pudjiachirusanto/27mar2015

Source: Itha Yusuf dan Garis Tangan Penenun – Flores Bangkit!!!Flores Bangkit!!!

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: