Karena Kasnati, Orang Timor Leste Jadi Suka Tahu-Tempe

Awalnya adalah seorang pedagang kecil bernama Kasnati (lahir 1964), asal Lamongan, Jawa Timur, yang giat mempromosikan dan memperdagangkan tahu dan tempe di Timor Leste sejak belasan tahun silam. Kini, setiap pukul 03.00 Wita, ia harus melayani sekitar 50 pedagang sayur keliling yang antre membeli tahu dan tempe di depan rumahnya. Saking besarnya minat penduduk setempat makan tahu dan tempe, sekitar 20 perajin di daerah itu sering kesulitan bahan baku.

“Ketika bulan Februari-Maret (2007) kami tidak produksi, masyarakat terus mencari di pasar dan memesan melalui pedagang sayur keliling. Tetapi di Timtim, kedelai tidak ada. Harus didatangkan dari Jawa. Para transmigran dari Jawa sebenarnya mencoba menanam kedelai, namun produksinya tidak memnuhi standar mutu tahu dan tempe”, kata Kasnati di rumahnya di Dili, pada suatu hari di akhir tahun 2007.

Kasnati, yang kini bertindak sebagai Bendahara Kopti Timor Leste, berkisah, dia telah 15 tahun menjual tahu tempe di sana. Tetapi dia tidak mau sesumbar. Rumahnya berdampingan dengan tempat usahanya yang sudah dilengkapi dengan sertifikat segala.

KASNATI masuk Timor Leste tahun 1983 dengan usaha pertama menjual tahu dan tempe goreng di Pasar Becora, Dili. Saat itu ia mati-matian memperkenalkan manfaat tahu tempe. Waktu itu peminatnya cuma anggota ABRI sehingga sebagian tahu dan tempe yang sudah digoreng tak habis terjual, menjadi rusak.

“Masyarakat Timtim waktu itu belum tahu makan tahu-tempe. Mereka mengatakan muntah dan mual-mual setelah mencicipinya. Saya berusaha bagaimana caranya supaya tahu dan tempe digemari di kalangan masyarakat. Kadang-kadang tahu-tempe diberi bumbu bawang merah dan bawang putih, ketumbar, garam dan sebagainya agar mereka tertarik. Toh mereka tetap tidak berminat. Pernah saya sendiri mengalami kerugian sampai RP. 500.000,- per bulan. Tetapi saya tidak putus asa. Satu tahun kemudian, yakni tahun 1984, tahu dan tempe perlahan-lahan diminati masyarakat Timtim”, kisah Kasnati.

Dengan pengetahuannya yang sedikit, Kasnati tak bosan-bosannya menjelaskan manfaat makanan tahu- tempe yang mengandung gizi tinggi. “Waktu itu makanan tahu-tempe juga kena isu politik, yakni sebagai cara pendatang meracun masyarakat Timtim dengan menjual makan tahu dan tempe di pasar. Karena itu, setiap pengunjung ke tempat jualan, saya selalu mencicipi tahu dan tempe goreng satu dua potong”, tutur Kasnati lagi.

Kini sudah sekitar 20 pengikut Kasnati mengusahakan tahu-tempe, mereka menyebar sampai ke Kabupaten Lautem dan Ambeno. Mereka tergabung dalam Koperasi Perajin Tahu Tempe (Kopti) dengan modal Rp. 400 juta. Simpanan wajib Rp. 25.000,-/bulan. Bahan baku tahu-tempe berupa kedelai selama ini didatangkan dari Surabaya, dengan harga Rp. 2.900,- per kg.

Seorang perajin rata-rata membutuhkan tiga ton kacang kedelai tiap bulan sebagai bahan baku. Jadi untuk Timtim dibutuhkan paling tidak 60 ton kedelai tiap bulan. Kasnati – dengan dua orang pembantu – menjual 350 potong tahu dan tempe, dengan bahan baku 100 kg. setiap hari. Tahu dijualnya RP. 100,- per potong, sedang tempe Rp. 1000,- per tiga potong.

Dari pencariannya itu, Kasnati bisa mengumpulkan uang untuk biaya anaknya sekolah di SLTP Lamongan dan membantu dua keponakannya yang kuliah di Universitas Brawijaya Malang. Sisanya untuk biaya hidup dan modal usaha. Sebulan ia bisa memperoleh pendapatan kotor Rp. 30 juta.

“Kami sedang cari pemodal untuk mendatangkan bahan baku dari Jawa”, ujarnya. (kor/www.gracerindo.com/nov2007)

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: