Kasmi Berteman 100 Itik Atasi Kesulitan Uang

Kasmi, peternak itik di Aceh.

Usaha peternakakan itik sering kali dijauhi banyak orang. Perbankan pun masih belum tertarik mengucurkan kredit usaha karena usaha tersebut dianggap berisiko tinggi dan kurang prospektif. Akan tetapi, kenyataannya dari hari ke hari dugaan itu makin keliru. Terbukti sedikit masyarakat mendulang sukses dari pergulatan mereka dengan usaha peternakan itik ini. Hal tersebut dibuktikan Ny. kasmi (40), keseriusannya beternak itik petelur di Desa Jamboo Mesjid, Kota Lhokseumawe, mampu memberikan pendapatan bersih Rp 2 juta per bulan.

Saya tak pernah membayangkan hidup saya dan keluarga akan menjadi lebih baik. Beruntung, ada telur setiap hari yang bisa saya asinkan dan diminati masyarakat, kata kasmi.

Ibu tiga anak itu dilahirkan di Desa Jamboo Mesjid. Mulanya Kasmi sebagaimana ibu-ibu lainnya di desanya tidak bekerja dan kebutuhan ekonomi keluarga sepenuhnya ditopang oleh suami yang bekerja sebagai
nelayan. Penghasilan rata-rata suami dari hasil menjadi buruh tambak Rp 35.000 per hari. Akan tetapi, pasca tsunami lahan usaha suaminya hancur dan menyebabkan suaminya banting setir menjadi buruh bangunan dengan penghasilan rata-rata Rp. 25.000 per hari dan itu pun tidak menentu.

Kebetulan saat itu Yayasan Keumala melaksanakan program pemberdayaan perempuan korban tsunami melalui usaha peternakan. “Tanpa pengetahuan yang cukup, saya nekad masuk ke sektor usaha peternakan itik,” kata Kasmi.

Saat memulai usaha ini, dirinya mendapat bantuan satu unit kandang seluas 5 X 10 meter-persegi. Bibit itik yang diberikan lebih kurang 100 ekor. Lima bulan berikutnya itik-itik tersebut mulai bertelur dan hasil panennya itu langsung dibeli pedagang di lokasi peternakan.

Sukses itu mendorong semangat yang makin besar untuk membantu keuangan keluarga. Kasmi melakukan ekspansi. Peluang itu semakin terbuka lebar karena luas kandang masih terbuka lebar. Pada saat ini, Kasmi sudah meningkatkan jumlah itik petelurnya hingga menjadi 250 ekor.

Melihat potensi yang besar, Kasmi berambisi ingin meraih sukses yang lebih besar dari usaha peternakan itik ini. “Terus terang, saya ingin setiap bulan dapat meraih pendapatan,” katanya.

Yayasan Keumala adalah satu organisasi non-pemerintah yang yang didirikan dan dikelola oleh beberapa orang yang berjiwa sosial. Organisasi ini merupakan sebuah organisasi nirlaba yang ditubuhkan sebagai sebuah forum untuk mengartikulasikan isu-isu demokrasi, keadilan, perempuan dan pemberdayaan masyarakat di Indonesia, khususnya di Nanggroe Aceh Darussalam.

sumber>> keumala.org / Januari2008

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: