Katrina Koni Kii 30 Tahun Hijaukan Perbukitan Gersang Sumba

[INDOSIAR] ~ Perempuan sederhana yang sehari-hari tinggal di sebuah rumah kayu di lereng perbukitan sebuah kampung Pulau Sumba, NTT, datang ke Istana Bogor untuk menerima Penghargaan Kalpataru 2005 atas jasanya kepada kelestarian lingkungan. Katrina Koni Kii, yang berusia 60an tahun, tidak pernah membayangkan bahwa kesenangannya bercocok-tanam akan mengangkatnya setinggi ini.

Dusun Pokapaka, Desa Malimada, Kecamatan Wewewa Utara, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, didiami sekitar 100 kepala keluarga. Namun kondisi geografis yang berbukit-bukit, menyebabkan jarak satu rumah dengan rumah lainnya agak berjauhan.

Segar alami yang ditemani semilir angin tak sedikit pun membuat seorang pengunjung menduga, bahwa daerah di sekeliling kampung halaman Katrina itu dulunya adalah perbukitan kapur yang kering gersang. Ribuan pohon tumbuh di daearah itu, rimbun dan menyejukkan.

Seperti juga warga kampung lainnya di lereng perbukitan itu, Katrina memiliki tanah yang luas. Karena gersang, itu samasekali tidak ada artinya. Tak ada yang bisa diharapkan. Lahan perbukitan yang tandus tidak mungkin bisa ditanami. Jika musim kemarau datang, hanya singkong yang ada.

Katrina Koni Kii, peraih penghargaan Kalpataru dari Suba, Nusa Tenggara Timur.

Pulau Sumba, yang konon terbentuk dari karang yang timbul dan menjadi daratan ini, sebagian permukaannya adalah hamparan batu karang. Namun kerasnya alam mengajarkan Katrina untuk tangguh dan ulet. Saat ia mengambil keputusan untuk mulai menanam pohon, ia tahu akan butuh waktu lama dan kesabaran. Ia mulai dengan areal seluas 5 hektar di lereng perbukitan Malimada. Tanah itu begitu bernilai baginya karena pemberian suami terkasih yang meninggal dunia pada tahun 1976.

Mulai dari Cendana, KIni Sampai Jambu Mete

Pohon pertama yang ditanam adalah ibi cendana. Lima bibit pohon cendana itu diperolehnya dari proyek penghijauan nasional pada tahun 1976. Dari induk pohon cendana inilah ia mendapatkan bibit-bibit cendana baru yang kemudian ditanamnya di sekitar rumahnya. Kini pohon elo, mahoni, johar, kemiri, jambu mete, sirih, pisang, nanas dan kelapa, menghijaukan areal perbukitan yang dimilikinya.

Katrina memanfaatkan tanah di antara pepohonan ini dengan tanaman ladang seperti ubi, keladi dan jagung. Keberhasilan Katrina, orangtua tunggal dari 5 orang anak, dalam mengelola tanah gersang menjadi lahan subur, telah menginspirasi warga lain di dusunnya untuk merintis ketekunan yang sama pada lahan mereka masing-masing. Ketuk-tular ini dalam waktu lebih dari 20 tahun secara berangsur-angsur bagai menggelar permadani hijau pada permukaan bukit-bukit yang dulunya gundul.

Sebagian besar waktu Mama Koni, demikian panggilan sehari-harinya, dihabiskan untuk berkebun dan menanam bibit pepohonan. Sekali lagi terbukti melalui kisah ini bahwa persahabatan tulus hati manusia  dengan alam mendatangkan berkah yang seakan berupa mujizat. Sangatlah layak bila akhirnya negara menghormati Mama Koni sebagai seorang perintis lingkungan pada penganugerahan Kalpataru 2005.

Mama Koni bukan pertama kali itu mendapat penghargaan. Piala-piala tersusun rapi di ruang tamu, mengingatkan bahwa tiada yang sia-sia dari sesuatu yang manusia lakukan dengan penuh cinta.  Dari hadiah-hadiah uang yang ia peroleh, Mama Koni membetulkan bangunan rumah dan menjadikannya lebih nyaman bagi orang-orang paling dekat dengannya, yaitu anak-anak dan cucu-cucunya.

Katrina Koni Kii, kini tak hanya pengayom bagi anak-cucunya. Kecintaannya kepada alam telah menjadikannya pengayom ribuan pohon yang menghijaukan perbukitan cadas di Sumba Barat.

sumber >> reportase Indosiar oleh Yulia Hendrika Bulo/Nyoman Ifrozin/2006
foto besar >> evimariani’s photostream, flickr.com

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: