Kejayaan Petualang-Alam Putri Indonesia 1987-1997

(SINARHARAPAN/SUARAPEMBARUAN) ~ Sebelum badai krisis menerpa Indonesia, dunia petualangan puteri kita sempat ramai. Pertengahan delapan puluhan sampai pertengahan 90-an menjadi masa emas ekspedisi khusus puteri Indonesia. Pemberitaan yang cukup sering di masa itu mengangkat nama-nama figur petualang-alam puteri dalam beragam kisah fenomenal. Antara lain, Karina Arifin, Ita Budi, Dwi Astuti, Aryati, Jonetje Wambaruw, Diah Bisono, Clara Sumarwati, Lala, Amalia Yunita, Heni Juhaeni, dan Vreytha C. Ilvia.

Pada 1987, para petualang puteri Indonesia berhasil menjejak Puncak Imja Tse (Island Peak) setinggi 6169 meter di Himalaya, Nepal. Boleh dibilang inilah tim petualang puteri Indonesia pertama yang go international.

Berikutnya, 17 Maret 1988, tim puteri Aranyacala Trisakti Jakarta bikin kejutan. Mereka sukses memanjat Tower III Gunung Parang, Purwakarta. Waktu itu, terpilih tujuh pemanjat puteri yang memenuhi syarat sebagai anggota inti ekspedisi. Sebut saja, Teja Sari, Amalia Yunita, Vreytha C. Ilvia, Elisa, Rinto Widya Prasti, Laksmiana S dan Emma Alvita Bukit. Dalam waktu 18 hari mereka berhasil menuntaskan ”Ekspedisi puteri Parang Aranyacala 1988”.

Usai sukses meraih puncak Imja Tse, pendaki puteri Indonesia kembali menggeliat. Kali ini sasarannya tak tanggung-tanggung: 5 puncak tertinggi di 5 negara Eropa. Bila dirinci: Mont Blanc (4.807m, Perancis), Grand Paradiso (4.601 m, Italia), Monterosa (4.634 m, Swiss), Grossgiockner (3.978 m, Austria) dan Zugsptee (2.964 m, Jerman Barat). Ekspedisi yang digelar pada 1.989 itu diberi tajuk ”Ekspedisi perempuan Alpen Indonesia”. Tim pendaki dibagi menjadi dua kelompok. Regu I bertugas meraih puncak Grossgiockner dan Grand Paradiso. Regu II mendaki Zugsptee dan puncak Dufourspitz – titik tertinggi dari sepuluh puncak Monterosa. Lalu kedua regu bersama-sama mendaki Mont Blanc.

Di tahun yang sama, ada Ekspedisi puteri Lipstick Aranyacala di Bambapuang, Sulawesi Selatan. Sayang, sebelum puncak tergapai telah terjadi musibah – Ali Irfan Batubara, fotografer tim, tewas tergelincir dari ketinggian.

“Tahun 1990 ada dua ekspedisi yang berdekatan, pertama Ekspedisi Chulu West puteri Patria Indonesia dan Ekspedisi Annapurna puteri Patria Indonesia,” ujar Dwi Astuti – petualang puteri senior yang menjadi anggota Trupala dan Pataga Universitas 17 Agustus Jakarta. Ekspedisi ke Annapurna berhasil mengantarkan Aryati menjadi perempuan Asia pertama yang berhasil meraih Puncak Annapurna IV, Himalaya (7525 meter).

Ekspedisi puteri terus bergulir. Pada 1991, Tim Srikandi dari Tim Panjat Tebing Yogyakarta (6 orang) membuat jalur di Bukit Tanggul, Tulung Agung, Jawa Timur. Prestasi luar negeri ditorehkan di Puncak Tebing Cima Ovest, Lavaredo, Italia. Ekspedisi Pemanjat puteri Indonesia itu berhasil membuat rute baru yang dinamai Jalur puteri Indonesia. Dalam tim ini ada delapan pemanjat: Aik, Erna, Endang, Henny, Wiona, Rina, Itut dan Nonie. Ketua ekpedisi berada di tangan Lisa (FE- USAKTI Jakarta) dan Iyel sebagai technical advisor (Aranyacala USAKTI Jakarta).

Tahun 1992, puteri-puteri dari Aranyacala USAKTI Jakarta kembali buat ekspedisi. Dengan bendera Ekspedisi Wanita Trisakti-Indonesia, mereka sukses di bumi Amerika. Hebatnya, ekspedisi ini merupakan gabungan dari empat kegiatan: arung jeram, penelusuran gua, pendakian gua dan panjat tebing. Ada juga ekspedisi puteri Khatulistiwa Tim Panjat Tebing Yogyakarta memanjat dinding utara Bukit Kelam, Sintang, Kalimantan Barat.

Jonetje Wambaruw tersenyum lega saat menjejakkan kaki di puncak Aconcagua, Argentina (6.960 meter). Bersama Aryati, Lala dan Clara Sumarwati, ia mendaki titik tertinggi di Amerika Selatan itu pada Januari 1993.

Tahun selanjutnya, ada Ekspedisi puteri Trisakti ke Afrika. Format petualangan Kartini-kartini muda asal Aranyacala itu sama dengan ekspedisi ke Amerika. Amalia Yunita bergabung bersama Herawati Rambe, Dini Pusianawati, Tejasari, Daisy Harsa dan Nova Novianti dalam tim Arung Jeram di Sungai Zambezi, yang melintang di dua negara Zimbabwe dan Zaire.

Pada tim penelusuran gua, ada Lis Isniati, Eva Sophia Asmara dan Lyra Ramdhoni. Sedang panjat tebing: Maya Sari Arienty, Eva Maria dan Susi Susilowati dan terakhir tim pendakian gunung: Dewi Ratnasari. Konon, ekspedisi ini menelan biaya sekitar 400 juta rupiah.

Sempat vakum beberapa tahun, dunia petualangan dikejutkan dengan keberhasilan Clara Sumarwati meraih Puncak Everest pada 1996. Sayangnya, keberhasilan Clara menjadi kontroversi lantaran ia gagal menunjukkan foto di puncak tertinggi dunia itu.

Pada 1997, Ekspedisi puteri Mapala UI merampungkan pemanjatan Bambapuang di Sulawesi Selatan. Tercatat lima pemanjat dalam tim ini: Andi Purnomowati, Maya, Nadira, Dian, dan Ita.

Badai krisis datang, kisah petualangan puteri kita makin meredup. Mereka tak dapat membuat tim khusus puteri gara-gara harus terbentur segepok perkara. Ujung-ujungnya, memang masalah dana. Kapan ya semangat Kartini berkobar lagi di arena petualangan kita? (bay)

Sumber: Sinar Harapan / Suara Pembaruan / 2004

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: