Mama Hana Buka Pintu Kasih Bagi yang Tersisih

Mama Hana - Yayasan Pondo Kasih - collage_langitperempuanRADAR SURABAYA – Usai mengikuti kebaktian bersama 50-an stafnya di Kendangsari I/82 Surabaya, Sabtu (18/9/2010), Hana Amalia Vandayani Ananda langsung bergerak ke kawasan Gayungan PTT/66 Surabaya. Di situlah 41 penghuni Panti Asuhan Pondok Kasih tengah mempersiapkan makan siang. 

Meski kelelahan, Mama Hana, sapaan akrabnya, menyapa anak-anak asuhnya dengan ramah. Lulusan Universitas Widya Mandala Surabaya ini kontan menundukkan kepala ketika seorang bocah memimpin doa sebelum makan. Kemudian, Mama Hana mempersilakan anak-anaknya yang puluhan orang itu menikmati makan siang.

“Hari ini lauknya tempe, pakai sayur kangkung. Tempe itu makanan bergizi lho. Silakan dimakan,” kata Mama Hana sambil tersenyum ramah. Perempuan berusia 66 tahun ini juga sempat meminta seorang bocah cilik menunjukkan bagaimana cara memegang garpu.

Dari ruang makan, Mama Hana mengajak Radar Surabaya dan beberapa kru televisi lokal untuk meninjau lantai dua. Ruangan balita. Saat ini ada lima bayi yang diasuh oleh lima baby sitter. Sebagai oma para unwanted children ini, Mama Hana menggendong satu per satu bayi dengan penuh kasih, layaknya cucu sendiri.

“Yang ini anaknya TKW dari Malaysia,” ujar Mama Hana memperkenalkan bayi yang usianya kurang dari dua tahun.

“Yang ini juga anaknya TKW yang kerja di Singapura. Bapaknya keturunan Tamil, India,” tambahnya.

Dari Satu Pengemis Tua Jadi Membeludak

HANA Amalia Vandayani Ananda, penerima Satya Lencana dari Presiden RI pada 2004 dan 2005, mulai merintis Pondok Kasih pada 1990. Saat itu Hana tergerak hatinya saat melihat seorang perempuan pengemis yang biasa meminta-minta sedekah di depan gerejanya. Perempuan itu setiap malam tidur di pinggir jalan.

Hana tak sampai hati melihat pengemis tua itu. Maka, dicarikanlah sebuah shelter untuk tumpangan. Suatu ketika, Hana membawa si pengemis itu ke gereja, kemudian diperkenalkan pada Ruth, sahabatnya. Hana menyatakan niatnya menyewa rumah untuk menampung para pengemis dan gelandangan di Surabaya dan sekitarnya.

120119ckunjungan“Puji Tuhan, Ruth tergerak hatinya dan memberikan cek senilai Rp 1 juta,” kenang Hana. Dengan modal awal itu, ditambah tabungannya, Hana Amalia Vandayani memulai pelayanan sosial di bawah bendera Pondok Kasih.

Bermula dari seorang perempuan pengemis, pelan tapi pasti, Hana kedatangan pengemis-pengemis lain, gelandangan, orang cacat, perempuan hamil di luar nikah, bahkan pekerja seks komersial (PSK). “Jumlahnya sampai 12 orang dan saya tampung di rumah saya di Kendangsari,” tuturnya.

Kalau tren ini berlanjut, niscaya kediaman Hana yang tak seberapa luas itu penuh sesak. Apalagi, informasi gethuk tular dari mulut ke mulut di kalangan para pengemis dan sejenisnya ini sangat efektif. Toh, Hana tak kehilangan akal. Dia sangat yakin bahwa Tuhan akan memberikan solusi untuk mengatasi membeludaknya ‘klien’ baru.

Benar saja. Dua tahun kemudian, 1993, Hana yang mulai dikenal sebagai pendiri dan pemimpin Yayasan Pondok Kasih mendapat lahan yang cukup luas di kawasan sedati, Sidoarjo. “Tanah itu Tuhan yang beri,” kata Hana setiap kali ditanya siapa donatur atau pemodal di balik sukses yayasannya.

Akhirnya, Pondok Kasih punya rumah penampungan anak-anak yatim dan lansia berlantai dua dengan 22 kamar di Sedati. Sejumlah perempuan yang hamil di luar nikah, juga bayi-bayi yang tak dikehendaki ibunya, dipelihara di situ. Ketika jumlah penghuni bertambah, Pondok Kasih menyewa sebuah rumah sebagai tempat ‘rehabilitasi dan restorasi’.

Pelayanan sosial Hana terus berbuah. Pada 1996, Harry Ananda, suami Hana, menawarkan kantornya di Gayungan PTT/66 untuk dipakai Pondok Kasih. “Jadi, tempat ini dulunya memang kantor suami saya. Sekarang kita pakai untuk pelayanan, termasuk membuka klinik untuk warga yang tidak mampu,” katanya.

lingkup-kegiatan-pondok-asih-surabayaAsuh Bayi-bayi yang Tak Diinginkan

BAGI Hana Amalia Vandayani, hidup merupakan anugerah terindah yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Maka, si jabang bayi yang masih berada di dalam kandungan ibu wajib dipelihara agar tetap hidup. Pengguguran kandungan (aborsi) sama artinya dengan pembunuhan anak manusia. Itu sebabnya, Hana selalu bersedia menampung para ibu atau perempuan yang tak menginginkan kelahiran anaknya.

“Kami dari Pondok Kasih siap mengurus hingga si bayi lahir. Biaya pengobatan, persalinan, dan sebagainya kami tanggung,” tegasnya.

Ketika si bayi lahir, dilakukan acara serah terima bayi yang disaksikan pihak kepolisian dan pihak berwajib. Dengan begitu, yayasan punya legalitas hukum untuk merawat dan membesarkan anak-anak itu.

“Di sini kami memperlakukan mereka layaknya keluarga sendiri. Jadi, bentuk rumah, kamar-kamar, fasilitas lain, berbeda dengan panti asuhan pada umumnya,” kata Hana. 

Mama-Hana-sejarahMujizat Selamat dari Kelumpuhan

LAHIR dari keluarga sederhana, sejak kecil Hana Amalia Vandayani dikenal sebagai anak yang ringkih. Kondisi fisiknya tidak sesehat anak-anak sebayanya. Orangtuanya cenderung hidup pas-pasan.

Meski begitu, sang ayah yang bekerja sebagai pegawai rumah sakit menyediakan tempat penampungan anak-anak yatim dan pengungsi di rumahnya. Maklum, pada tahun 1950-an, tak lama setelah proklamasi, terjadi perang untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Kondisi yang sangat sulit itu memaksa ayah dan ibu Hana untuk bekerja keras mencukupi kebutuhan keluarga. Termasuk memberi makan para pengungsi dan anak-anak yatim piatu. Di usia 14 tahun, tepatnya pada 1958, Hana yang masih gadis remaja sudah terjun ke pelayanan sosial bersama teman-teman gerejanya.

Di 17 tahun, ketika Hana menjadi mahasiswa Universitas Widya Mandala Surabaya, dokter menemukan penyakit bawaan dalam diri Hana yang berpotensi menyebabkan kelumpuhan total pada usia 25 tahun. Namun, Hana mengaku mendapatkan mukjizat dari Tuhan. Tubuhnya dinyatakan sembuh setelah dia aktif melayani orang-orang sakit di rumah sakit.

“Sejak itu saya berjanji untuk terus melayani Tuhan dengan menolong orang sakit, anak yatim, para lansia, bayi-bayi yang tidak dikehendaki, para perempuan yang hamil di luar nikah, serta warga yang berkekurangan,” katanya.

Didukung penuh oleh sang suami, Harry Ananda, yang dinikahinya pada 1972, keinginan Hana untuk secara total melayani sesama akhirnya terkabul. Bersama Yayasan Pondok Kasih yang didirikannya pada 1991, Hana semakin berkibar sebagai ibu yang penuh kasih bagi warga marginal.

“Saya juga aktif di kegiatan-kegiatan yang bersifat lintas etnis dan agama,” katanya. :: RADARSURABAYA/Lambertus. L. Hurek/19sep2010

Biodata Mama Hana

Nama: Hana Amalia Vandayani Ananda

Lahir: Surabaya, 10 November 1944

Suami: Harry Ananda

Anak: Stephen Ananda

Visi: Menggembalakan dengan belas kasih.

Misi: Tampung, bimbing, utus.

Pendidikan
* Universitas Widya Mandala Surabaya (Bahasa Inggris), 1964.
* Institute of Church Management, Singapura, 2002.

Penghargaan
Gubernur Jawa Timur, 2003
Women in Humanitarian Award, 2004 
Satya Lencana dari Presiden RI, 2004
Satya Lencana dari Presiden RI, 2005

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: