Mbak Eni, Penjaja Kue Kecil Berhati Besar

[DENMASDENI.WORDPRESS] – Kue, kue, kue! Teriakan melengking seorang penjual kue memecah kebekuan dan keheningan suatu pagi di tahun 2008. Ya, setiap pagi mbak Eni berkeliling kampung, dari satu RT ke RT lain sambil menjunjung barang dagangannya untuk dijajakan ke setiap rumah. Ya, setiap pagi mbak Eni menghantarkan energi dengan kuenya ke setiap rumah. 

Jangan dikira pekerjaan yang dilakoni mbak Eni merupakan pekerjaan biasa, jangan dikira bahwa pekerjaan yang ditekuni mbak Eni merupakan pekerjaan ringan. Pekerjaan mbak Eni adalah pekerjaan yang luar biasa, pekerjaan Mbak Eni juga pekerjaan yang berat, karena pekerjaan setiap pagi ia bersilaturahim sambil menghantarkan kue ke rumah-rumah.

Setiap pagi dari jam 05.30 sampai jam 11 mbak Eni berkeliling kampung yang terdiri dari 7 RT, mendatangi setiap rumah dengan membawa kue. Tidak tanggung-tanggung kue yang dibawanya sebanyak 600 potong dan diperkirakan beratnya sekitar 20-30 kg. Beban tersebut mbak Eni bawa sendiri dengan ditaruh di atas kepalanya. 

Kue-kue yang dijajakan mbak Eni sangat bervariasi dan semuanya bernuansa tradisional atau kue rakyat. Ada Kue dadar gulung yang manis, martabak tahu, risol, pisang goreng, kue cucur, kue nagasari, kue unti, kue gemblong dan masih banyak lagi. Kue-kue tersebut dipatok harganya Rp. 500,- per potong. Ada juga yang harganya Rp 1.000,- tapi hanya kue piscok (pisang coklat).

Menurut mbak Eni, keuntungan berjualan kue keliling tidaklah seberapa besar. Dari 600 kue yang dibawa keuntungan yang didapat hanya sekitar Rp 35.000 sampai Rp 45.000. itu artinya keuntungan yang diambil setiap satu kue hanya Rp 50-Rp 75 saja. “Kalau saya ngambil untung yang gede nanti pelanggan saya kabur semua, apalagi sekarang ini hidup semakin susah. Barang-barang mahal, kasihan orang-orang kecil,” kata mbak Eni.

Biayai Dua Anak dan Rumah Kontrakan

Berdagang kue dengan keuntungan yang kecil bagi mbak Eni harus tetap disyukuri karena dengan berdagang kue seperti itu mbak Eni masih bisa menyekolahkan kedua anaknya dan mengontrak rumah. “Meskipun berjualan kue untungnya kecil tapi Alhamdulillah bisa buat biaya sekolah dan ngontrak rumah. Keuntungan yang tidak seberapa itu juga bisa untuk bertahan hidup,” katanya.

Semenjak suaminya meninggal dunia beberapa tahun lalu, berjualan kue menjadi tumpuan untuk menyambung hidup mbak Eni dan kedua anaknya. Karena, menurut mbak Eni berjualan kue sudah dilakoninya semenjak tahun 1997 dan pada tahun tersebut suaminya masih hidup.”Saya berjualan sejak tahun 1997 hingga saat ini. Dulu motivasi berjualan adalah untuk membantu ekonomi keluarga tapi semenjak suami saya meninggal beberapa tahun lalu berjualan kue menjadi penopang ekonomi keluarga,” jelas mbak Eni.

Berjualan kue keliling, lanjut mbak Eni merupakan pekerjaan yang mulia karena diperintahkan agama karena dalam berjualan kue keliling mbak Eni pasti singgah di rumah-rumah sehingga itu bisa dianggap bersilaturahim.”Selain bisa silaturahim, berjualan keliling merupakan salah satu cara agar bisa menjual kue,” jelas mbak Eni.

Menurut mbak Eni, berjualan kue keliling lebih menguntungkan daripada harus menjadi pembantu atau kuli cuci karena dari hasil berjualan kue keliling uangnya bisa diputar lagi. Atau bisa buat gali lobang tutup lobang. Yang pasti berjualan kue itu halal,” tegas mbak Eni.

Membantu Ekonomi Keluarga

Menurut perempuan asal Slawi, Jawa Tengah ini, niat awal dia berjualan kue karena ingin meningkatkan ekonomi keluarga. Sebelumnya, sebagaimana kebanyakan orang-orang pendatang, mbak Eni bekerja sebagai buruh kontrak di salahsatu  pabrik di Bekasi. Sedangkan suaminya hanyalah sebagai supir angkot.

Kebutuhan ekonomi terasa semakin berat takkala terjadi krisis ekonomi 1997. Pada tahun itupula mbak Eni terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di tempat ia berkerja. “Setelah terkena PHK kehidupan keluarga saya semakin sulit. Penghasilan suami sebagai  supir angkot tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga karena itulah saya bertekad untuk membantu ekonomi keluarga dengan cara berjualan kue,” kenang mbak Eni.

Menurut mbak Eni hasil dari berjualan kue lumayan cukup untuk membantu ekonomi keluarga, bahkan dari hasil penjualan kue, mbak Eni bisa menyekolahkan putranya. “Tapi sayang putra saya hanya mampu sekolah hingga tamat SMP karena biaya sekolah mahal, apalagi sebelum putra saya lulus SMP, bapaknya sudah meninggal terlebih dahulu,” ungkapnya.

Semenjak suaminya meninggal dunia, mbak Eni menjadi orang tua tunggal bagi kedua anaknya. Mbak Eni selain sebagai seorang ibu yang merawat anaknya dia juga berposisi sebagai seorang ayah yang mencari nafkah bagi kedua anaknya. Kedua peran ini dijalani mbak Eni dengan ikhlas dan sabar.”Saya yakin kalau kita ikhlas merawat anak yatim pasti kehidupan kita berkah,” kata mbak Eni.

Menurut mbak Eni, saat ini anak keduanya baru kelas satu sekolah dasar, sedangkan anak keduanya sudah dua tahun lulus SMP dan tidak melanjutkan ke SMA tapi belum dapat pekerjaan. “ingin sebenarnya menyekolahkan anak-anak sampai tinggi tapi tidak ada biaya. Bagi saya anak-anak sudah bisa baca semua saya sudah bersyukur,” ungkap mbak Eni.

Modal Tenaga dan Kepercayaan Orang Saja

Ketika ditanya mengapa sampai saat ini masih berjualan kue keliling, menurut mbak Eni karena berjualan kue keliling tidak memerlukan modal besar hanya modal kemauan, kepercayaan dan tenaga. “Kue-kue yang saya jual tiap hari itu semuanya adalah bikinan orang yang dititipkan ke saya untuk dijual, jadi saya hanya modal tenaga untuk berkeliling dan kepercayaan dari yang menitipkan kue,” jelas mbak Eni.

Menurut mbak Eni, dirinya memang ada keinginan untuk menjual kue hasil buatan sendiri, tapi apa dikata modalnya tidak ada. Dia juga sudah berusaha untuk mencari pinjaman modal dari tentangga tapi tidak dapat. “Memang susah cari modal kalau tidak punya jaminan, jangankan pinjam ke bank, ke tetangga saja kalau tidak ada jaminan susahnya minta ampun,” ungkap mbak Eni.

Sedangkan mengenai bantuan dari Pemerintah, menurut mbak Eni dia tidak tahu samasekali kalau Pemerintah menyalurkan bantuan berupa kredit lunak atau pinjaman bergulir buat usaha atau apa yang namanya kredit usaha rakyat. Setahu mbak Eni, Pemerintah tugasnya hanya bikin KTP di kelurahan.

Ternyata masih ada orang seperti mbak Eni degan kegigihannya berusaha memberdayakan keluarganya seorang diri tanpa ada bantuan dari tetangga atau Pemerintah. Mbak Eni pantas disejajarkan dengan perempuan-perempuan dengan kegigihanya merubah dunia dengan harapan hari esok pasti lebih baik dari hari ini. :: GORETAN KATA / DenMasDeni/http://denmasdeni.wordpress.com

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: