Mengingat Perempuan-perempuan Wirausaha Sosial Indonesia

Global Ashoka Award 2007

Pada bulan Nopember 2007, lima perempuan Indonesia meraih Global Ashoka Award dari Yayasan Ashoka atas pengabdian mereka sebagai wirausahawan sosial sejati. Penghargaan ini diberikan kepada mereka yang telah memberdayakan perempuan untuk mampu membela hak asasinya dan berperan di masyarakat, baik dalam ranah domestik maupun publik.

Septi Peni Wulandari (Yayasan Jarimatika) telah menciptakan metode pendidikan yang telah tersebar luas ke seluruh Indonesia untuk mengembangkan pendidikan anak-anak sekaligus memperkaya peran ibu rumah tangga di masyarakat.

Nani Zulminarni (Pekka) berjuang untuk mengubah pola diskriminasi dan “stereotyping” yang dialami perempuan kepala keluarga (contohnya janda), antara lain dengan mengenalkan kegiatan simpan pinjam agar perempuan dapat memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Farha Ciciek (Rahima) dianggap berhasil dalam memperkenalkan interpretasi teks keagamaan yang menghargai kesetaraan jender di dalam pesantren dan komunitasnya.

Lita Anggraeni (Rumpun dan Jala Pekerja Rumah Tangga) berupaya untuk mengubah sikap dan kebijakan para pekerja rumah tangga yang hak-haknya diabaikan oleh sistem sosial yang patriarkis antara lain dengan menyiapkan seperangkat sistem pendidikan yang menggabungkan pelatihan keterampilan profesi dengan penyadaran hak-hak.

Samsidar (Relawan Perempuan Untuk Kemanusiaan/RPUK Aceh) berusaha untuk membangun serta merajut kembali rasa berkomunitas (sense of community) kepada masyarakat di Serambi Makkah, Aceh, yang traumatis akibat tragedi tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004.

 Ashoka adalah asosiasi internasional yang memperkenalkan dan mendukung wirausaha sosial yang beroperasi di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa Tengah. Dalam definisi Ashoka, wirausaha sosial adalah seseorang yang memiliki gagasan baru, keahlian, dan visi mengimplementasikan pembaruan sosial yang luas di bidang kepedulian sosial. Seperti halnya wirausaha bisnis yang menghasilkan inovasi di sektor perniagaan, wirausaha sosial menghasilkan inovasi di sektor sosial. Ashoka didirikan oleh William Drayton serta beberapa rekannya pada tahun 1980 sebagai sarana bantu dalam menyelesaikan permasalahan sosial di seluruh dunia. Dalam bahasa Sansekerta, Ashoka berarti “tanpa penderitaan” dan adalah nama dari raja India ‘pembaharu sosial’ yang hidup pada abad ke-3 SM. Sejak tahun 1998, Ashoka memiliki program-program di 33 negara-negara di Afrika, Asia, Eropa Tengah dan Amerika Latin. Pada awalnya, Ashoka-Indonesia berkedudukan di Jakarta, kemudian pindah ke Bandung. Kunjungi situs web Ashoka-Indonesia jika ingin informasi lanjut >> klik sini.

Mulai tahun 1984 hingga 2008, Ashoka telah mengakui 130 individu dari berbagai wilayah Indonesia sebagai Ashoka Fellows, yaitu mereka yang dinilai mengabdi utuh sebagai wirausahawan sosial di ranahnya masing-masing. Seorang perempuan baru muncul di daftar Ashoka Fellows pada tahun 1986, ketika aktivis Sri Kusyuniati dihargai atas pengabdiannya dalam penguatan hak dan akses perempuan. Berikut ini daftar perempuan Indonesia yang dihargai sebagai Ashoka Fellow.

1986

Sri Kusyuniati ~ penguatan hak dan akses perempuan
Lahir di Yogyakarta, 20 Juni 1958. Lulus sebagai Sarjana pada Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, IKIP. Fokus perhatiannya adalah masalah buruh perempuan, dan mendirikan Yayasan Annisa Swasti (YASANTI, yang artinya perempuan mandiri), sebagai organisasi swadaya masyarakat. Sasaran kualitatifnya adalah peningkatan wawasan dan pengembangan keterampilan untuk menaikan posisi tawar buruh perempuan dalam pekerjaannya, antara lain melalui keterampilan-keterampilan dalam kelompok-kelompok perempuan pekerja (buruh). Pendidikan bagi buruh tersebut diharapkan dapat membuat mereka lebih berani untuk mengubah jalan hidup mereka dan dapat meningkatkan tingkat ekonomi dan sosial. Semuanya itu ditempuh dengan cara-cara membangun “kekuatan di bawah” dengan penyadaran di antara para buruh perempuan. Aksi-aksi program perempuannya dimulai sejak tahun 1982 antara lain dengan membina dan mengorganisir buruh tani perempuan, pelayan toko perempuan, buruh pabrik, pengrajin batik dan buruh perempuan pengrajin kulit. Penggagas Riffka Annisa ini pernah menduduki berbagai jabatan di berbagai organisasi antara lain: National Women Coordinator of Asian Cultural Forum On Development (ACFOD), National Coordinator of Partisipatory Research in Asia (PRIA), dan anggota Women International League for Peace and Freedom (WILPF). Kusyuniati menyelesaikan studi S3 di Swinburne University, Mealborne, Australia, dengan disertasi “An Evaluation of the Dynamics of the Indonesian Workers Movement: Strikes 1990-1996”.

Enny Soekoer – perumahan sederhana
Semasa masih menjadi mahasiswa arsitektur di Universitas Diponegoro, Semarang, Enny telah aktif di Yayasan Bhakti Karya (Yabaka), sebuah LSM yang memberi perhatian besar pada akses kepemilikan rumah sederhana bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Melalui Yabaka ini pula, secara khusus Enny mengembangkan konsep sekaligus model rumah murah yang memenuhi syarat-syarat dasar perumahan sehat, yakng meliputi aspek sirkulasi udara, cahaya, kebersihan, dan keleluasaan. Teknologi ini diterapkan dalam materi dan rancangan rumah. Enny bergabung sebagai Fellow Ashoka pada tahun 1986.

1987

Sukwan Handali ~ kesehatan masyarakat penduduk asli
Sukwan lahir di Bogor, 19 April 1959. Selulusnya dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1983, motivasi Sukwan untuk menolong penduduk marginal kuat sekali, sehingga ia memilih ditempatkan di Kabupaten Wamena, Irian Jaya. Kepala Puskesmas di Kecamatan Tiom sejak tahun 1984 hingga 1989, kemudian menjadi tangggung jawabnya. Fokus utama perhatian Sukwan di luar tugas-tugasnya selaku pimpinan Puskesmas adalah masalah kesehatan ibu dan anak yang selalu menimbulkan kematian. Berbagai kegiatan yang telah dilakukan untuk merealisir perhatiannya tersebut antara lain: memperbaiki gizi masyarakat serta malnutrisi energi untuk kesehatan anak melalui peternakan lebah, menggerakkan partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan keluarga, serta meningkatkan kemampuan paramedis, mantri dan dokter dalam penanganan kasus-kasus yang dapat menurunkan kematian bayi. Pendekatan budaya setempat amat diperhatikan oleh Sukwan, seperti penyuluhan dan penggunaan poster dengan keterangan dalam bahasa Dani. Tahun 1989/1990 Sukwan melanjutkan studi di Institute of Child Health, University of London dan mendapat gelar MSc dalam bidang kesehatan ibu dan anak. Sejak tahun 1996, Sukwan melanjutkan studi tingkat doktor — mendalami biologi molekuler — di Tulane University, Louisiana, AS. Agenda utama yang telah mulai dilakukan saat ini oleh Sukwan adalah pada penelitian malaria. Dalam hal ini, pengembangan vaksin lewat pisang/kentang, sehingga akan memungkinkan adanya imunisasi setiap saat tanpa suntikan (teknik memasukkan gen kuman penyakit ke gen kentang).

Ummu Salamah – pendidikan taman kanak-kanak
Lahir di Garut, 4 April 1948. Selain pernah sebagai dosen juga pernah menjadi ketua Lembaga Pengembangan Kesejahteraan Masyarakat Garut. Ummu percaya bahwa seberkas hasrat dan keberhasilah pada seorang anak dapat menyalakan proses pertumbuhan bagi seluruh keluarga. Di kalangan masyarakat pedesaan yang miskin di Garut, Jawa Barat, ia membantu para orang tua membangun harapan baru bagi masa depan anak mereka. Dalam jangka waktu yang cukup lama, memfokuskan perhatian sosialnya pada program penyaluran modal pendidikan dan modal kerja tambahan bagi kelompok keluarga pedagang kecil, buruh, tukang becak, dan buruh tani. Berawal dari membuat taman bermain bagi pra-sekolah dan kelompok belajar bagi anak-anak berusia yang lebih tinggi yang memerlukan bantuan akademik serta kegiatan ekstrakurikuler, Ummu lalu mengembangkan pengaruh kreatif anak-anak tersebut agar bisa memotivasi keluarga masing-masing untuk meningkatkan hidup keluarga. Ide “memberikan bantuan kepada orang tua melalui pintu anak” yang cukup sederhana itu dinilai orisisil oleh Unicef yang memberinya penghargaan, terlebih lagi karena ide tersebut berhasil memicu peningkatan kualitas hidup keluarga kurang mampu di sekitarnya. Ummu telah melatih stafnya untuk melaksanakan program tersebut di daerah lain di Indonesia.

1988

Susiawan ~ pendidikan alternatif untuk anak dan remaja perkampungan
Dia merintis dan mengembangkan konsep/metoda “Pendidikan Anak Merdeka” — suatu proses dialogis pengembangan kreativitas, kemandirian, kemasyarakatan, demokratisasi dan kemerdekaan — melalui pendekatan seni, lingkungan hidup dan kebudayaan lokal. Hasil riset aksi enam tahun itu ditulis dalam skripsi kesarjanaan FSRD-ITB: “Kemungkinan Konsep Senirupa sebagai Alat Pendidikan, Luar Sekolah untuk Anak-anak Perkampungan” (1986).Pada awalnya (1981) mendirikan “Kelompok Olah Seni Anak-anak Merdeka”. Lalu bersama rekan-rekannya melembagakan “Yayasan Anak Merdeka” (1987). Pada tahun kedua “masa fellow Ashoka” (1989) merintis “Bengkel Kreatif” bagi remaja, dan mengawali kegiatan anak jalanan dengan majalah Anak Merdeka “Cakrawala Kecil”.1990-1995 melanjutkan riset aksinya dalam program “Anak Cinta Lingkungan” — membangun kurikulum dan berkegiatan bersama guru — guru SD/MI, anak-anak, remaja dan masyarakat di daerah perkotaan. Sebelumnya telah diujikan di beberapa desa di Sumatera dan Irian Jaya. Berbagai disiplin seni/kesenian dan budaya lokal diangkat sebagai katalisator pengembangan “seluruh potensi” anak. Dalam satu tahapan proses tiga tahun, anak-anak/remaja mampu mempertajam “kemampuan nyata” mereka masing-masing.Sejak pertengahan 1995 tinggal di Kanada, berkeluarga. Mendalami “Integrated Arts” dan “Holistic Education” secara independent dan observasi ke berbagai sekolah alternatif. Ikut membangun “LSM Lingkungan”; bekerja untuk anak-anak golongan bawah sebagai “Integrated Arts Artist Facilitator” di Community Center dan organisasi sosial anak-anak internasional, serta mengadakan lokakarya-lokakarya “Expressive and Healing Art/ Art Therapy/ Integrated Arts” di rumah singgah, kelompok kegiatan pemuda maupun di pusat kegiatan kreatif anak-anak di Toronto.Merencanakan kembali ke tanah-air melanjutkan obsesinya: mengembangkan “Pendidikan Anak Merdeka”, dengan memusatkan energinya pada: — Membangun/mengembangkan kurikulum (kegiatan) pendidikan alternative;

  • Mengadakan pelatihan calon/fasilitator/pendidik anak-anak dan remaja;

  • Merintis/mengembangkan pos-pos kegiatan anak-anak dan remaja bersama para fasilitator;

  • Mengadakan advokasi masalah hak-hak anak-anak dan remaja lewat aksi maupun penyebaran informasi;

  • Mengembangkan jaringan kerja antar LSM lokal,regional,nasional dan internasional, terutama yang berfokus pada masalah anak-anak dan remaja.

Johanna Armgrad Patiasina (alm) – pemberdayaan perempuan pedesaan
Johanna merintis kegiatan sosial tahun 1979 sebagai sekretaris pelaksana pada Badan Kerjasama Penyuluhan Sumatera Utara (BKSP). Kegiatan utamanya adalah mengorganisir pelatihan pengembangan masyarakat di tingkat warga dan petugas lapangan. Karena sistem birokrasi pada BKSP yang dirasakan menghambat kreativitas dan upaya pemberdayaan rakyat, maka Johanna memutuskan untuk ikut mendirikan Yayasan Bina Insani. Peningkatan kesadaran perempuan serta kesejahteraan keluarga pedesaan (melalui kegiatan ekonomi keluarga skala kecil serta peningkatan kualitas sarana kesehatan dan sanitasi) adalah fokus tujuan dari semua aktivitas Johanna, terutama sejak menjadi Fellow tahun 1988. “Menciptakan panutan keluarga pedesaan” adalah target sederhana (tetapi jelas) dari Johanna. Tahun 1989 Johanna terpilih sebagai Pemuda Pelopor Nasional (1988).

Muslikhin Kusma – pengembangan daerah pedesaan bagi perempuan dan anak-anak
Sebagian besar kaum lelaki dari daerah miskin di dataran tinggi Gunung Kidul dekat Yogyakarta bekerja di kota. Kaum perempuannya ditinggalkan dan terperangkap dalam pola mempertahankan hidup yang mendasar, sedangkan anak-anaknya meninggalkan sekolah pada usia dini untuk membantu ibu mereka. Muslikhin mendirikan organisasi Yayasan Pengembangan Desa Terpadu BINA DESA, yang berupaya memngubahkan kecenderungan ini dengan cara membantu kaum perempuan di sana mengembangkan rasa percaya diri dan juga ketrampilan praktis melalui kelompok belajar dan diskusi. Ia juga telah membangun perpustakaan yang inovatif dan program berbasis relawan yang memberikan layanan pendidikan informal kepada anak-anak putus sekolah. Program ini dapat dengan mudah direplikasi dan melibatkan lulusan sekolah menengah di pedesaan untuk membantu anak-anak setiap minggu. Para relawan ini menggunakan bahan dari perpustakaan untuk membantu anak-anak didik mereka dalam menjelajahi dunia di luar desa mereka sendiri. Anak-anak tersebut dapat mencapai tingkat kemampuan membaca yang berarti dan senantiasa ditantang secara intelektual; sedangkan para relawan memperoleh tanggung jawab dan rasa hormat. Kelak, para relawan dapat mengembangkan perpustakaan mereka sendiri sehingga menyebarluaskan proyek ini di daerah lain.

Sita Aripurnami – pembelaan hak-hak perempuan
Sita lahir di Jakarta, 21 Desember 1959. Pendiri dan pernah memimpin Yayasan Kalyanamitra. Perhatiannya adalah masalah komunikasi perempuan yang bermaksud untuk membuka mata masyarakat akan permasalahan perempuan yang sebenarnya. Kepedulian terhadap perempuan ini antara lain dengan menyebarkan kepada masyarakat, akademisi, LSM dan media massa, masalah-masalah yang dihadapi perempuan dan juga mengunjungi langsung kelompok-kelompok perempuan, termasuk mengadakan pertemuan-pertemuan dengan individu atau organisasi perempuan dam umum. Pernah mengikuti konfrensi PBB untuk isu perempuan di Beijing China tahun 1995. Makalahnya yang berjudul “Notes on Media and Violence Against Women: Case Indonesia” dipresentasikan dalam NGO Forum Media and Violence Against Women, United Nation, di New York, Amerika serikat. Melalui Konferensi perempuannya pula, ia aktif memobilisasi peran serta masyarakat melalui penghimpunan makanan bagi para demonstran. Sekarang menjadi Koordinator Divisi Pendampingan Korban Yayasan Kalyanamitra. Sita menyelesaikan studi S2 di The London School of Economic and Political Science, Inggris, tahun 1997, dengan tesis “Between Control and Resistance, Discourse Analysis on Indonesian Population Policy”. Melalui Koperasi Perempuan, Sita aktif memobilisasi peran serta masyarakat melalui penghimpunan makanan bagi para demonstran, di saat gelombang demonstrasi mahasiswa dan massa, Mei 1997.

Chamsiah Djamal Tristian (alm) – pengembangan ekonomi kelompok perempuan
Chamsiah lahir di Takengon, Aceh Utara, 9 Juni 1954. Ikut mendirikan dan menjadi Ketua Pusat Pengembangan Sumberdaya perempuan (PPSW), Jakarta, tahun 1985. Program “Sosialisasi Situasi Perempuan” dengan kegiatan utamanya menerbitkan publikasi serial tentang berbagai pekerjaan perempuan dari lapis ekonomi bawah, adalah fokus aktivitasnya untuk waktu yang cukup lama. Chamsiah kemudian menjadi Direktur Pelaksana PINBUK. Sekarang lebih mencurahkan waktu untuk program pemberdayaan perempuan lapis bawah melalui kegiatan mikro usaha, terutama melalui LSM PALUMA. Chamsiah bergabung sebagai Fellow Ashoka tahun 1988.

1990

Ari Sunarijati – pembelaan buruh perempuan melalui pendidikan penyadaran
Fokus perhatiannya mengenai masalah buruh perempuan, dimulai saat ketertarikannya ketika bekerja di perusahaan tekstil sebagai asisten manajer personalia (1974) yang lebih akrab dengan pekerja dan lebih mudah meluruskan aturan-aturan yang dilanggar oleh pengusaha karena dekat dengan pengambil keputusan. Tahun 1978 dibentuk serikat pekerja di tingkat perusahaan dengan nama BASIS, Ari terpilih sebagai ketua dengan suara aklamasi hingga tahun 1980. Terpilih kembali untuk periode berikutnya 1980-1982, dan juga merangkap sebagai pimpinan daerah SBTS FBSI – DKI Jakarta. Kemudian terpilih pada periode berikutnya menjadi wakil ketua tahun 1982-1985. Tahun 1985 tersebut berubah nama dari FBSI menjadi SPSI. Tahun 1986, Lembaga perempuan Remaja dan Anak dibentuk oleh DPP SPSI, lalu menunjuknya sebagai sekretaris umum. Hasil program dari pemikirannya, terbentuk Women’s Shelter yang kemudian disosialisasikan pada rekan-rekan di lembaga perempuan dan pihak SPSI. Tujuan dari semua masalah ini adalah antara lain penyadaran terhadap buruh perempuan akan hak-hak sebagai perempuan yang banyak dilanggar oleh pengusaha, penyadaran akan kedudukan buruh dalam pembangunan sebagai seorang subjek bukan objek, dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Tahun 1995 pada Kongres Serikat Pekerja Tekstil-Sandang dan Kulit I, terpilih sebagai ketua bidang perempuan Remaja dan Anak. Pada tahun yang sama pula bekerjasama dengan ILO untuk pendidikan buruh perempuan.

1991

Kasmiati – pengembangan sosial-ekonomi kelompok perempuan
Kasmiati lahir di Tolot-tolot Kawo, Lombok, 20 April 1958. Ketika menyelesaikan sarjana muda pendidikan di Fak. Pendidikan IKIP Mataram tahun 1981, Kasmiati langsung aktif di dunia LSM. Bergabung sebagai Fellow Ashoka tahun 1991 dengan program utama: “Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat di Pulau Lombok Melalui Koperasi Serba Usaha Annisa”. Latar sosial dari gagasan dan implementasi program Kasmiati adalah situasi tingkat keterampilan yang rendah sementara angka buta huruf tinggi, meningkatnya jumlah anak-anak terlantar karena tingginya angka perceraian, pendapatan ekonomi rendah dengan akses modal yang sulit sementara rentenir amat berkembang. Dengan latar demikian, Koperasi Annisa memiliki tujuan jangka pendek seperti: peningkatan pendapatan perempuan pedagang kecil (tahun 1991 ditargetkan dari Rp 750,- menjadi Rp 1.500,-), meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perempuan dalam mengembangkan usaha, meningkatkan rasa persaudaraan perempuan melalui berkelompok, serta pengurangan tingkat perempuan buta huruf. Kasmiati tidak hanya memperkuat institusi koperasi secara intern saja, tetapi juga perluasan jaringan. Dari menjadi salah satu pendiri dan kordinator Pusat Koperasi perempuan (Puskowan) NTB, Koperasi Annisa kemudian menjadi anggota Induk Koperasi perempuan (nasional), hingga menjadi salah satu pelaksana program kerja sama dengan Asian Womans Empowerment Project (AWP) Jepang yang dirintis sejak NGO Forum on Woman di Huairo, Cina, 1995. Pendekatan sekaligus metode yang digunakan Kasmiati dalam implementasi programnya adalah metode “pendidikan fungsional/buta huruf” yang kemudian dikomplementerkan dengan metode penyadaran gender. Metode-metode ini diwujudkan melalui program kesehatan dan keluarga berencana serta program peningkatan pendapatan.

Sri Wahyaningsih – pendidikan masyarakat pedesaan
Lahir di Klaten, 19 Desember 1961. Wahya, lulusan Akademi Keuangan & Perbankan memulai pengalaman di dunia LSM sebagai tenaga organisator lapangan di LPM UKDW Yogyakarta, dengan pendampingan kelompok tunawisma sebagai salah satu program lapangannya. Di Indonesia, sistem pendidikan rancangan pemerintah yang terpusat di kota telah mengasingkan para siswa yang tinggal di daerah pedesaan. Kurikulum yang diterapkan yang sering tidak dapat diperoleh di daerah pedesaan, semakin mempertinggi nilai masyarakat dan kehidupan urban dimata mereka yang tinggal di daerah pedesaan. Hal ini menyebabkan nilai-nilai yang mereka pegang teguh jatuh. Wahya melihat fenomena semacam ini di desanya, desa Lawen, Banjarnegara, di Jawa Tengah. Ia kemudian memperkenalkan suatu metoda pendidikan yang sangat berbeda dan bersifat partisipatif dengan menggabungkan ilmu membaca dengan pertistiwa-peristiwa terkini, keahlian, ilmu pengetahuan, dan seni. Tahun 1988 Wahya ikut mendirikan Sanggar Anak Alam (SALAM) dengan basis kegiatan di desa Lawen, Banjarnegara. SALAM adalah salah satu media Wahya dalam mengimplementasi konsep ‘desa’ dan ‘alam semesta’ sebagai media belajar sekaligus sekolahan, dengan kelompok perempuan sebagai pelaku penting bagi pendidikan anak-anak.. Semua bahan pengajarannya berasal dari masalah-masalah dan situasi-situasi nyata ketika berhadapan dengan masyarakat; metode yang digunakannya dalam hal ini tidak hanya relevan melainkan juga menyenangkan. Para siswanya bekerjasama satu sama lain serta dengan para pengajar sukarela mereka. Proyek-proyek kelompok seperti pengembangbiakkan kelinci atau ternak mampu menciptakan penghasilan bagi para siswa sekolah tersebut dan meningkatkan rasa percaya diri mereka sehingga membuat mereka merasa betah dan dihargai oleh masyarakatnya dan memberi sumbangan pada peningkatan ekonomi desanya. Wahya, sebagai ketua RT 04 di kampung Lawen, mengembangkan Koperasi Karya Aji Nastiti yang bergerak di bidang simpan-pinjam. Dengan beranggotakan 60 orang yang 90% anggotanya adalah perempuan, Wahya mengembangkan pelatihan kompos organik yang bekerjasama dengan Yayasan Dian Desa (Yogyakarta). Dengan program ini diharapkan adanya peningkatan kualitas kebersihan lingkungan dan membuka lapangan kerja untuk masyarakat desa.

1992

Dina Ch. Lumbantobing – pembaruan budayaan melalui pendidikan pra-sekolah
Dina lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, 27 November 1957. Dina berusaha menumbuhkan rasa bangga dan percaya diri masyarakat suku minoritas Pakpak Dairi di Sumatera Utara melalui program pembinaan anak-anak yang menggabungkan pendidikan pra-sekolah dan pendidikan tentang kebudayaan. Dia telah menyiapkan semacam Taman Kanak-kanak yang dilengkapi dengan fasilitas pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pengenalan kebudayaan Pakpak. Dalam wadah ini programnya secara ekstensif dilakukan untuk meningkatkan rasa bangga anak-anak terhadap kebudayaan mereka. Dina merangkul para ibu melalui anak-anak siswa sekolahnya dan menjadikannya semacam suatu akses untuk meningkatkan kepedulian terhadap budaya mereka serta membangun pengetahuan dasar tentang perawatan kesehatan. Dina berharap bahwa melalui peningkatan harga diri dan kualitas hidup masyarakat Pakpak ia akan dapat menolong mereka terbebas dari rasa lemah dan tidak berdaya yang terus membuat mereka miskin. Organisasi yang didirikannya, YAYASAN SADA AHMO (YSA), menerbitkan buletin “Suara Perempuan” yang merupakan alat efektif untuk pendidikan politik bagi para perempuan Pakpak dan perempuan di Kabupaten Dairi pada umumnya. Sementara itu YSA telah meluaskan wilayah perhatiannya ke penguatan anak dan perempuan umumnya di Kabupaten Dairi melalui penitipan anak, Credit Union untuk perempuan, penyaluran kredit mikro, serta membantu pemasaran hasil produksi kelompok binaan di pedesaan, seperti: ulos Batak, bawang merah, dan kerajinan bambu dan rotan. Saat ini sedang disiapkan pilot project untuk menyelenggarakan perpustakaan khusus untuk anak di kota Sidikalang, penitipan anak dan bayi untuk pedagang pasar, serta kelompok ‘parengge-rengge’ (pedagang kecil berpindah yang ada di pasar).

1995

Mia Siscawati – pendidikan lingkungan hidup
Lahir di Jakarta, 29 Mei 1969. Keterlibatan penuh Mia pada dunia pendidikan lingkungan ditandai dengan berbagai aktivitas yang dijalaninya secara sistematis dengan konsep yang jelas, baik ketika mahasiswa maupun setelah lulus dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Melalui LSM Rimbawan Muda Indonesia (RMI) yang ikut didirikan sekaligus dipimpinnya, Mia menggulirkan program-program pendidikan lingkungan seperti: Rute Pendidikan Lingkungan (REPLING), Siaran Khusus Lingkungan Hidup Seputar (SIKLUS), serta Buletin Lingkungan Hidup (BULUH). Sementara sebagai pribadi, Mia cukup banyak menulis tematik lingkungan. Tahun 1993 Mia terpilih sebagai peserta program UNEP, Global Youth Forum on Environment, di USA. Bergabung sebagai Fellow Ashoka sejak tahun 1995, dengan program utamanya: “Kampung Pendidikan Lingkungan Berbasiskan Kerakyatan”. Basis aktivitas Mia di Bogor, Jawa Barat.

1996

Lilik Sulistyowati (Vera) – pendampingan pekerja seks
Lilik lahir di Ujung Pandang, 20 Mei 1959. Jauh sebelum mengenal keberadaan LSM, dia telah memiliki kepedulian tinggi sekaligus melakukan pendampingan terhadap perempuan pekerja seks komersial (PSK). Keberadaan para PSK yang tak lain merupakan korban dari mata-rantai pandangan bias budaya dan masyarakat serta kekerasan-kekerasan yang dihadapi oleh para PSK dalam kesehariannya, adalah pertimbangan utama bagi Lilik untuk mengalokasikan bagian terbesar dari waktu dan perhatiannya untuk para PSK. Setelah ikut mendirikan dan aktif bekerja di Yayasan Prospektif, Lilik kemudian mendirikan dan memimpin Yayasan Abdi Asih. Berbagai pendekatan seperti: pengadaan ‘jamu sehat’, kelompok arisan, serta pendampingan terlibat, dilakukan Lilik untuk dapat memahami dengan lebih baik terhadap aneka masalah PSK. Sementara bermacam-macam kegiatan kongkrit diselenggarakannya sebagai bentuk pemberdayaan pada para PSK, seperti: dialog partisipatif, pelatihan, kursus, usaha skala kecil, dan sebagainya. Sedikitnya, telah seribuan perempuan PSK serta seratusan mucikari yang telah berinteraksi langsung dengan aktivitas Lilik. Sekarang, dalam 15 tahun aktivitasnya mendampingi perempuan PSK, Lilik merupakan salah satu dari sedikit tokoh kunci bagi berbagai instansi dan aparat pemerintah, dokter, LSM, organisasi kemasyarakatan, lembaga sosial, pers, serta peneliti yang ingin memahami dan atau terlibat dalam upaya pendampingan / pengentasan perempuan PSK di wilayah Dolly dan Jarak, Surabaya. Melalui program utamanya “Pendampingan dan Pemberdayaan Pekerja Seks Komersial di Surabaya”.

1997

Siti Aminah – pendidikan lingkungan melalui konservasi
Lahir di Labuan Mapin, Sumbawa, 4 Januari 1970. Lahir dari keluarga petani pedesaan, ikut bermain di pantai, ikut bekerja di sawah, serta belajar di Sekolah Menengah Pekerja Sosial, adalah kultur lingkungan yang secara alami telah menguatkan kepedulian Minah pada persoalan lingkungan hidup, khususnya ekosistem hutan mangrove. Dengan pendekatan edukasi partisipatoris yang berbeda, Minah mendapatkan dukungan yang luas dari kelompok anak-anak dan kelompok orang tua atas program reboisasi mangrove yang dilakukannya. Baik yang dilakukannya secra kelembagaan maupun inisiatif pribadi. Sementara keterlibatan di Yayasan Lembaga Solidaritas Bangsa mulai dari posisi staf relawan hingga sebagai pimpinan lembaga, adalah salah satu bentuk kepercayaan lain — dari aktivis lingkungan lainnya — yang Siti dapatkan dari lingkungan kerjanya. Tahun 1997, Minah mendapatkan anugerah penghargaan Global 500 dari Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) atas segala prakarsanya di bidang lingkungan. Sejak tahun 1997, Minah bergabung sebagai Fellow Ashoka dengan fokus program awal: “Pengelolaan dan Konservasi Pulau Panjang Sebagai Laboratorium Plasma Nutfah Bakau dan Biota Lainnya”, di Kabupaten Sumbawa, NTB. dan saat ini aktif di organisasi Lagas (Lembaga Amanah Gappa Samudra) yang terfokus pada masalah lingkungan kelautan.

Ratna Refida – perumahan masyarakat pedesaan
Lahir di Surabaya, 22 Februari 1959. Keterlibatan Ratna pada masalah sosial kemasyarakatan diawali dari kepedulian yang bersifat karitatif hingga pada tahapan kepedulian dan tanggung jawab yang bersifat transformatif. Sejak 1987 secara pribadi maupun melalui kelembagaan Yayasan Tunas Alam Indonesia (SANTAI) memusatkan perhatiannya pada permasalahan anak-anak dan masyarakat miskin pedesaan dan urban pinggiran. Ketika visi dan misi SANTAI dapat diteruskan oleh kader aktivis lain, Ratna memfokuskan perhatian dan aktivitasnya pada program Pembangunan Perumahan dan Permukiman Rakyat Terpadu dan Bertumpu pada Masyarakat, melalui Yayasan Kerja Pemukiman Rakyat yang ikut didirikannya pada tahun 1988. Ratna yakin, bidang Perumahan dan Permukiman merupakan salah satu pilihan relevan sebagai titik masuk bagi pemberdayaan masyarakat miskin termasuk anak secara lebih terpadu dan berkesinambungan. Ratna yang wilayah kerjanya di Pulau Lombok serta menyelesaikan pendidikan akhirnya di Jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Mataram ini, bergabung sebagai Fellow Ashoka sejak tahun 1997.

Suwarni Angesti Rahayu – pendampingan masalah kekerasan terhadap perempuan
Yayuk lahir di Yogyakarta, 23 Desember 1951. Ikut mendirikan dan memimpin langsung, sebagai direktur, Riffka Annisa, yakni LSM pertama di Indonesia yang program pendampingannya menggunakan konsep ‘rumah rehabilitasi bagi perempuan korban kekerasan’ (womens crisis center). Organisasi yang tersebut menawarkan berbagai pelayanan, termasuk konsultasi hukum dan pengambilan keputusan bagi mereka yang selamat dari kekerasan domestik, perkosaan, dan pelecehan seksual; perlindungan dalam rumah jika perlu; pelayanan hotline; dan kursus-kursus yang memberdayakan perempuan dengan memberi mereka keahlian dalam bidang ekonomi serta meningkatkan harga diri mereka. Karena membicarakan masalah pribadi itu tabu bagi lingkungan masyarakat Islam di Indonesia yang bersifat paternalis, maka Yayuk telah mengetahui bahwa para korbannya dapat menerima pertolongan yang ditawarkannya secara lebih siap ketika ia mendekati mereka dari sudut pandang agama. Ia mengadakan diskusi-diskusi keagamaan dengan mengikutsertakan para suami mereka, untuk menekankan bahwa penafsiran seutuhnya Al Qur’an menuntut penyetaraan perlakuan bagi para perempuan. Ia telah bekerja keras untuk meminta bantuan kepada para pemuka agama serta memberi legitimasi atas kerjanya. Sekarang ia sedang membantu membuka beberapa cabang di beberapa propinsi lain di Indonesia.

1998

Lusi Margiyani – pendidikan adil gender sejak anak-anak
Lusi lahir Yogyakarta, 16 Maret 1966. Ketika studi di Fak. Sastra UGM, selain aktif di kegiatan pers mahasiswa, Lusi mulai serius beraktivitas pada masalah perempuan dengan ikut mendirikan Kelompok Studi Vidyadhari. Selanjutnya, dunia LSM menjadi sarana aktualisasi kepeduliannya pada masalah ketidakadilan pada perempuan. Pendiri dan direktur dari LSPPA (Lembaga Studi dan Pengembangan Perempuan dan Anak) yang fokusnya pada sosialisasi nilai adil gender sejak masa kanak-kanak. Berangkat dari keprihatinan terhadap situasi yang buruk yaitu eksplotasi anak oleh kepentingan orang dewasa, LSPPA lahir dan tumbuh sebagai wadah yang berusaha untuk memperkuat keberadaan perempuan dan anak demi mewujudkan sebuah cita-cita masyarakat yang adil dan egaliter. Tujuannya antara lain membuka kondisi berfikir kritis dan analitis dalam masyarakat, dan penyadaran kesejajaran kedudukan manusia antara perempuan dan laki-laki. Ketika bergabung dengan Ashoka sebagai Fellow tahun 1998, Lusi telah tiba pada tahap menggulirkan konsep “sosialisasi adil gender sejak masa anak-anak” dengan salah satu slogan utama “bebaskan tumbuh”. Program ini mengintrodusir model pendekatan, sarana peraga serta modul pendidikan yang adil gender, yang dapat diimplementasikan baik pada lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

1999

Maria Pakpahan – penguatan hak pekerja rumahtangga
Ketertarikan dengan isu perempuan yang merupakan komitmen hidupnya, ketika terlibat dalam pameran mengenai beban ganda perempuan dan juga pengalamannya ketika menjadi aktivis gerakan mahasiswa Yogyakarta dan ia sendiri mengalami diskriminasi sesama aktivis, membuatnya mendirikan forum diskusi perempuan Yogyakata (FDPY) beserta teman-teman. Pengamatan pada buruh perempuan (terutama PRT) dimulai tahun 1992-1994 ketika menyelesaikan kuliah. Pada bulan April 1995 mendirikan Yayasan Tjoet Nyak Dhien (YTND) atau di beri nama kecil “Rumpun” sebagai pengembangan dari FDPY. Menerbitkan pula bulettin EMPU secara reguler yang menjadi media informasi-komunikasi mengenai pembantu rumah tangga, khususnya persoalan perempuan dan upaya-upaya pemberdayaannya.

2000

Lely Zailani – pengembangan perempuan pedesaan
Lahir di Perbaungan, Deli Serdang, Sumut pada tahun 1970. Semangat untuk memperjuangkan keadilan gender selalu ada dalam dirinya, selain karena pengamatannya pada lingkungan sekitar juga karena pengalaman pribadinya yang kerap dikekang karena ke-perempuanan-nya. Termasuk didalamnya mengenai kelelahan perempuan yang bekerja lebih lama perharinya daripada pria dengan penghargaan yang lebih sedikit, khususnya bagi yang kurang mampu karena kerap harus mengambil pekerjaan sampingan selain pekerjaan rumah tangga; juga kesehatan reproduksi seorang perempuan yang “harus” meminum pil KB dalam berkeluarga. “Kenapa harus perempuan yang meminum pil itu?”, tukasnya. Sosialisasi keadilan gender yang sekarang dilakukan melalui radio ini berawal dari kegiatan pertemuan ibu-ibu di desa Lely dengan kegiatan diskusi tentang berbagai masalah perempuan, kemudian dilengkapi dengan Sanggar Belajar Anak (untuk hal ini Lely bekerjasama dengan PKBI Medan). Saat ini Lely aktif di Yayasan HAPSARI-Perbaungan, lembaga yang mendukung program Kampanye Hak-hak Perempuan melalui radio. Ide penggunaan radio sebagai media sosialisasi keadilan gender memang bukanlah hal baru, namun dengan berbekal pengalaman sebagai penyiar, skenario dan topik acara radio yang ada, Lely menstrategikan pengorganisasian massa (perempuan pendengar program radio tersebut). Dengan didukung narasumber yang berpengalaman dan rekan-rekan LSM di Sumateara Utara, Lely berhasil mengembangkan komunikasi dan komunitas para ibu yang bisa mengekspresikan pendapat, saling peduli dan saling membantu.

Christina Joseph (alm) – penguatan hak perempuan dalam adat dan hukum
Christina menggunakan sistim hukum yang ada sebagai media kampanye untuk menunjukkan bias gender dalam konteks tradisi kultural Indonesia timur yang patriarkal. Ia mendirikan LBH-P2I, pusat krisis dan pelayanan konseling hukum bagi perempuan yang pertama di Sulawesi. Secara konsisten, ia membawa kasus-kasus ke pengadilan untuk menunjukkan adanya bias terhadap perempuan, baik dalam hukum adat maupun sipil.

Suzana Murni – kesehatan, HIV/AIDS dan hak asasi manusia
Suzana adalah salah seorang pelopor di Indonesia dalam pengembangan program yang menyediakan bantuan dan informasi bagi mereka yang hidup bersama dengan virus HIV serta memperkenalkan cara-cara hidup sehat bagi orang-orang yang positif terkena HIV. Bersama dengan Yayasan Spiritia, organisasi yang dipimpinnya, dia membantu merubah sikap masyarakat dan pandangan stereotip tentang orang-orang yang positif terkena HIV. Suzana dibesarkan di Jakarta, dan mengenyam pendidikan seni di Amerika Serikat. Setelah kembali ke Indonesia, dia mengajar bahasa Inggris di SMA serta meneruskan profesinya sebagai desainer. Pada saat dia mendapati dirinya positif HIV di tahun 1995, dia mengalami perasaan terisolasi dan putus asa. Tetapi dengan bantuan yang penuh kasih sayang dari keluarganya, dia mampu memberikan jawaban terhadap pengalaman pribadinya, dan menemukan strategi untuk menjangkau dan mendorong perubahan.

2001

Endang Susilowati – pembelaan hak buruh migran
Buruh migran perempuan di pulau Lombok, secara garis besar adalah potret komunitas yang berada dalam lingkar kemiskinan, terbatas keterampilan dan akses informasinya, serta terbatas keterlibatan partisipasi pendidikannya. Melalui Yayasan Panca Karsa (YPK) yang didirikan dan dipimpinnya sejak tahun 1988, Endang, mengimplementasi program operasional bagi pembelaan hak buruh migran yang meliputi: pengorganisasian di tingkat basis (kesadaran hak), pendampingan kasus, advokasi kebijakan, serta peningkatan ekonomi kelompok masyarakat (migran).

Emmy Lucy Smith – penguatan hak konsumen anak
Melalui Yayasan Kepedulian kepada Konsumen Anak (KAKAK) yang ikut didirikan dan dipimpinnya sejak tahun 1997, Emmy memfokuskan perhatiannya pada pembelaan sekaligus penguatan hak-hak konsumen anak di Indonesia. Terhadap kelompok mitra Yayasan KAKAK, Emmy menerapkan pendekatan yang berbeda, seperti metode ‘partisipatif anak’, metode pendekatan keluarga atau orang dewasa, serta metode advokasi berdasar kasus. Dengan target membentuknya ‘Pusat Informasi Konsumen Anak’ serta meluasnya jumlah kelompok konsumen sadar anak-anak, maka diharapkan dapat segera mempengaruhi kebijakan dan kebiasaan konsumen.

Zubaedah – pendampingan remaja dan kaum muda
Fokus yang diangkat oleh Zubie (nama panggilan Zubaedah) adalah tingginya tingkat kawin-cerai di NTB. Hal ini menjadi masalah karena berdampak kepada kesejahteraan keluarga-ibu dan anak, tingkat kematian ibu dan bayi (NTB memiliki tingkat kematian ibu dan bayi yang ke-2 tertinggi di Indonesia), kesehatan reproduksi, kesehatan fisik dan psikologis anak, dan sebagainya. Lewat survei, diskusi, seminar dan workshop isunya mulai diexpos kepada publik umum dan pihak pemerintah, pemuka agama, dan LSM. Akhir tahun 1999, terbentuk FRPKC (Forum Remaja Peduli Kawin Cerai), yang difasilitasi oleh Zubie. Forum ini menerbitkan majalah bulanan bagi remaja yang mendiskusikan isu kesehatan reproduksi, perkawinan, dan sebagainya. Melalui generasi muda, diharapkan isu ini dapat berkembang menjadi suatu kesadaran, yang akhirnya menghasilkan transformasi kultural.

Ni Made Indrawati – pengorganisasian hak dan akses masyarakat pedesaan
Konflik antara masyarakat dan pemerintah dalam manajemen dan konservasi sumber daya alam sering dipakai untuk menyalahkan masyarakat kecil yang berdomisil dalam lingkungan taman nasional. Tahun 1993, Indra bersama para penduduk desa Sumber Kelampok, di Taman Nasional Bali Barat, membentuk KUB (Kelompok Usaha Bersama), menggabungkan tokoh organisasi tradisional Hindu maupun Islam, untuk membentuk sistem baru yang melibatkan nilai-nilai adat dalam berbagai program peningkatan pendapatan, pertanian, konservasi hutan, termasuk pembentukan sistem penyediaan air bersih, dan pendirian kelompok kerajinan tradisional. Secara keseluruhan, gerakan ini merupakan upaya reaktualisasi sistem tradisional dalam kerangka manajemen lingkungan.

Sirikit Syah – penguatan hak dan kontrol konsumen media
Sirikit mendirikan organisasi media watch independen yang pertama di Indonesia. Dengan munculnya kebebasan pers, ada fenomena banyaknya penyalahgunaan yang menghasilkan informasi menyesatkan dan melupakan kode etik jurnalistik maupun hukum tentang media massa. Sirikit mengembangkan program edukasi dan monitoring bagi publik maupun kalangan pers untuk mewujudkan kebebasan pers yang bertanggung jawab. Lewat Lembaga Konsumen Media, dilakukan antara lain program radio di Surabaya, pelatihan dan lokalatih untuk jurnalis maupun publik, dan publikasi buletin dan buku. Khusus bagi kalangan media, organisasi ini memberikan input dan umpan balik berdasarkan penelitian dan pengamatan. Bagi publik diupayakan pembentukan pengertian akan kebebasan pers, fungsi media, dan aspek hukum yang berkaitan dengan media.

2002

Joyce Djaelani Gordon – penanganan masalah kecanduan narkotik
Data statistik resmi menunjukkan bahwa paling tidak ada dua juta orang Indonesia menjadi pecandu narkotik, bahkan diperkirakan para pakar, mencapai empat juta orang dan bertambah setiap harinya, dengan kelompok pemuda yang berpotensi terinfeksi virus HIV karena kebiasaan berbagi jarum suntik dan perilaku seks yang tidak aman. Hal ini mendorong Joyce Djaelani Gordon (seorang psikolog yang memang terlibat aktif dalam penanganan masalah AIDS dan kesehatan reproduksi kaum muda) untuk menceburkan diri menangani masalah ini. Dengan Yayasan Harapn Kita, yang didirikan oleh Joyce bersama suaminya David Gordon mengembangkan program rehabilitasi sekaligus menumbuhkan kembali kepercayaan diri para pecandu dan keluarganya, terutama bagi mereka yang juga terinfeksi HIV/AIDS. Kesibukan Joyce bertambah dengan menjadi pelatih bagi para aktivis HIV/AIDS di penjuru Indonesia, sambil terus mendorong para jurnalis untuk lebih berempati terhadap masalah AIDS dan narkotika di kalangan kaum muda. Baru-baru ini Joyce bekerjasama dengan ASA (Aksi Stop AIDS) dan Yayasan Pelita Ilmu, yang menangani pencegahan dan penanganan masalah AIDS, untuk mengembangakan kampanye tentang narkotika dan kesehatan reproduksi bagi pelajar dan orangtua.

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –> Yuyun Ismawati – pengolaan sampah berbasis komunitas
Yuyun, sarjana teknik lingkungan lulusan ITB, telah menciptakan suatu model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang menawarkan solusi untuk masalah lingkungan yang disebabkan oleh cara mengelola sampah yang salah, sambil memberikan contoh bagaimana layanan publik bisa diprivatisasi melalui usaha kecuil bertingkat komunitas. Dari pengamatan Yuyun, pengelolaan sampaj hotel dan restoran, dibeli pengumpul sampah yang kebanyakan peternak babi. Padahal dengan sedikit penanganan, sampah bisa menguntungkan. Muncul ide pengelolaan sampah terpadu. Bermula di tahun 1996, ide ini diwujudkan dengan mendirikan PT Jimbaran Lestari, perusahaan layanan pengankutan dan pengelolaan sampah, yang dimiliki dan dikelola oleh para pemulung. Yuyun mendampingi para pemulung bekerja sama dengan hotel-hotel berbintang, sekaligus membudayakan konsep pengelolaan sampah yang mengutamakan pemilahan sampah dari sumber dan mengoptimalkan reuse (penggunaan kembali) dan recycle (daur-ulang). Awalnya para pekerja hanya dibayar beberapa kernajang sampah organik untuk pakan babi. Kini PT Jimbaran Lestari telah enjadi perusahaan pengelola sampah yang cukup mapan dengan 50 pegawai tetap dan 8 truk sampah, melayani 12 hotel besar. Yuyun mendirikan Yayasan Bali Fokus pada tahun 2000 untuk membantu menyebarkan gagasannya.

 

Rossana Dewi – pendidikan dan pemberdayaan petani perempuan
Keprihatinan terhadap nasib petani yang mendorong Dewi bersama rekan-rekan di Gita Pertiwi, untuk terlibat lebih jauh mengaplikasikan pertanian berkelanjutan yang berfokus pada perempuan petani9. Dewi yang sarjana pertanian pada awalnya bekerja mendampingi kelompok petani yang umumnya laki-laki, di Wonogiri, Jawa Tengah. Namun ia menemukan bahwa petani laki-laki cenderung menyimpan informasi yang didapat, sementara perempuan akan berbagi pengetahuan yang dimilikinya kepada suami dan anak-anaknya. Dewi berkesimpulan, memfokuskan diri pada petani perempuan akan memberikan dampak lebih besar, sekaligus memberi peluang bagi perempuan untuk mengubah hidupnya. Petani perempuan yang dulu tidak diperhatikan, sekarang sudah berhasil meningkatkan produksi lahannya, menambah pendapatan keluarganya, dan membuat lingkungannya lebih sehat dengan mengurangi bahan-bahan kimia. Dalam proses pendidikan yang Dewu kembangkan, petani perempuan dapat meningkatkan keahlian, keterampilan dan pengetahuan mereka sambil didukung untuk menjadi peneliti terhadap masalah pertanian yang mereka hadapi. Proses belajar juga dirancang untuk medorong pewrempuan berpikir lebih kritis dan ikut mengambil keputusan dalam proses produksi pertanian.

2003

Suprihatin – mendukung buruh migran di tingkat lokal
Suprihatin, yang akrab dipanggil Tina, pernah menjadi buruh migran dan mempunyai visi membantu mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh mereka. Ia memulai dari daerahnya sendiri, Blitar, dan membuat struktur organisasi dan hukum agar masalah buruh migran dapat diselesaikan dalam peraturan setempat, pada tingkat propinsi dan kotamadya/kabuoaten, daripada terpusat di Jakarta, jauh dari tempat asal mereka. Dengan membuat kerangka peraturan lokal yang harus dipatuhi oleh para penyalur tenaga kerja, ia menciptakan dan menunjukkan pelayanan yang lebih baik bagi buruh. Tina termotivasi untuk bekerja bersama 3 kelompok: penyalur tenaga kerja swasta, pemerintah dan organisasi masyarakat. Ia juga bekerja dengan suatu fakultas hukum untuk merancang sebuah peraturan yang menuntut agen penyalur untuk membayar biaya pendaftaran saat merek amendirikan usahanya di suatu daerah. Peraturan ini menyatakan bahwa biaya tersebut harus digunakan sebagai program bantuan bagi para buruh, sehingga perlu adanya kerjasama antara pemerintah dan lembaga non-pemerintah untuk menjalankan pelayanan tersebut. Lebih jauh lagi, peraturan tersebut menarik agen penyalur berada dalam wilayah hukum setempat, sehingga pemerintah memiliki catatan mengenai perusahaan, pekerjanya, dan sebagainya. Tahun 1996, Tina mendirikan organisasi yang bernama Solidaritas Buruh Migran Blitar, untuk meneruskan perjuangannya melawan kondisi ketidakadilan terhadap para buruh. Saat ini, ia telah berhasil membangun jaringan dengan LSM yang berfungsi sebagai pressure group terhadap perubahan yang diperjuangkan, khususnya dalam pembuatan kebijakan, baik pada tingkat lokal, nasional, maupun global.

2004

Erma Susanti – membangun solidaritas masyarakat stren kali untuk melawan penggusuran
Erma merintis karyanya bagi kaum miskin kota dengan latar belakang keterlibatannya di gerakan perempuan, dan kini dia menciptakan sistem yang berhasil bagi komunitas ini untuk membela hak-hak mereka melawan penggusuran paksa. Bergelut dengan ribuan warga pinggir kali di Surabaya, Erma ikut membantu menyelamatkan pemukiman mereka dan menerapkan renovasi partisipatoris bagi lingkungan mereka. Sistem yang dibangun Erma juga mencakup sebuah jaringan aksi organisasi-organisasi akar rumput maupun para pendukungnya, yang memperkuat solidaritas dan posisi tawar mereka melawan kebijakan pemerintah dalam penggusuran kaum miskin kota yang tinggal di pinggir kali. Untuk mendukung perjuangan rakyat, Erma menggalang tim ahli yang bertindak sebagai penengah antara keinginan warga dan pemerintah, baik secara teknis maupun sosial. Erma juga memperkuat komunitas pinggir kali melalui pendekatan budaya, dengan memberikan mereka kepercayaan diri dan membantu mereka mengatasi stigma yang telah dicapkan terhadap mereka oleh publik dan pemerintah. Komunitas di berbagai daerah sepanjang kali, setelah diperkenalkan dan dipersatukan oleh kepentingan bersama, dan kini mampu menawarkan peranan mereka sebagai penjaga kali.

Den Upa Rombelayuk – partisipasi sipil penuh untuk perempuan di komunitas masyarakat adat
Den Upa merintis jalan untuk menjamin partisipasi penuh perempuan dalam komunitas adat. Berawal dari kesuksesannya dalam merekonstruksi forum tradisional untuk pengambilan keputusan sehingga melibatkan perempuan, dia menyebarkan ide tersebut ke seluruh masyarakat Toraja melalui sebuah jaringan yang kuat yang ikut dia dirikan, Aliansi Nasional Masyarakat Adat. Dalam waktu tiga dekade terakhir, masyarakat adat di Indonesia telah mengalami berbagai konflik antara sitem yang dianut oleh agama modern dan oleh negara Indonesia. Partisipasi perempuan dibatasi dalm semua sistem. Dalam perannya sebagai kepala desa, Den Upa memperkenalkan sejumlah inovasi dan kesempatan yang tidak biasa untuk melibatkan perempuan dalm pembangunan ekonomi dan pengambilan keputusan, namun dia melihat bahwa penghambat kemajuan di masyarakatnya adalah konflik perebutan kekuasaan antar sistem yang ada dan pembatasan terhadap perempuan. Karya Den Upa untuk mengubah peran perempuan dalm forum tradisional adalah sebuah langkah maju dalm memperbaiki dan memajukan forum semacam itu dan memaksimalkan potensinya dalam hal menyelesaikan konflik dan menyediakan sebuah sistem pemerintahan yang benar-benar demokratis.

2005

Ester jusuf – memperjuangkan penghapusan diskriminasi ras dan etnis
Ester jusuf, sarjana hukum lulusan UI, sedang memperjuangkan penghapusan diskriminasi yang struktural dan juga kecurigaan, kecemburuan dan kebencian yang membuat jarak antara orang yang berbeda ras, etnis maupun agama. Misinya adalah untuk mengubah kerangka hukum yang mensahkan diskriminasi dan juga untuk membangun kesadaran publik mengenai akar permasalahan antar etnis dan akibatnya. Ester dan para aktivis dalam organisasinya Solidaritas Nusa Bangsa telah merancang RUU-ADRE dan mensosialisasikan dengan berbagai cara untuk mendapat masukan dari masyarakat. RUU ini sedang dalam agenda untuk masuk diskusi DPR. Selain perubahan secara hukum yang dikriminatif, Ester merasa sangat penting untuk mengubah pikiran dan sikap orang. Untuk tujuan itu, dia menganggap pendidikan adalah cara yang tepat. Ester dan kawannya di SNP menerbitkan seri buku kecil dan menyusun module mengenai HAM dan masalah diskrimansi yang bisa dipakai sebagai pelajaran anti-diskriminasi di sekolah formal maupun di pendidikan alternatif di komunitas. Bekerja dengan aktivis yang lain, Ester terjun langsung ke komunitas miskin di Jakarta yang rentan konflik antar etnis, dan dengan pendekatan kultural mencoba menanamkan solidraitas dalam komunitasnya. Dia juga membantu investigasi KOMNAS HAM mengenai tragedi Mei 1998.

2006

(akan di-update)

2007

Septi Peni Wulandari [Yayasan Jarimatika] telah menciptakan metode pendidikan yang telah tersebar luas ke seluruh Indonesia untuk mengembangkan pendidikan anak-anak sekaligus memperkaya peran ibu rumah tangga di masyarakat.

Nani Zulminarni [Pekka] berjuang untuk mengubah pola diskriminasi dan “stereotyping” yang dialami perempuan kepala keluarga (contohnya janda), antara lain dengan mengenalkan kegiatan simpan pinjam agar perempuan dapat memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Farha Ciciek [Rahima] dianggap berhasil dalam memperkenalkan interpretasi teks keagamaan yang menghargai kesetaraan jender di dalam pesantren dan komunitasnya.

Lita Anggraeni [Rumpun dan Jala Pekerja Rumah Tangga] berupaya untuk mengubah sikap dan kebijakan para pekerja rumah tangga yang hak-haknya diabaikan oleh sistem sosial yang patriarkis antara lain dengan menyiapkan seperangkat sistem pendidikan yang menggabungkan pelatihan keterampilan profesi dengan penyadaran hak-hak.

Samsidar [Relawan Perempuan Untuk Kemanusiaan/RPUK Aceh] berusaha untuk membangun serta merajut kembali rasa berkomunitas (sense of community) kepada masyarakat di Serambi Makkah, Aceh, yang traumatis akibat tragedi tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004.

2008

(akan di-update)

 

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: