Murti Bunanta Rintis Gerakan Dongeng Anak Sebagai Pelestarian Budaya

“Terlalu banyak yang dikatakan dan terlalu sedikit yang dikerjakan untuk anak-anak…itulah kondisi bangsa kita,” demikian pandangan Murti Bunanta. “Saya bukanlah seorang ahli teori budaya, melainkan seorang praktisi di lapangan yang menaruh perhatian kepada anak-anak dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk mereka. Karena itu, makalah ini tidak akan diisi dengan teori-teori budaya yang canggih dan mutahir. Wawasan saya tentang budaya untuk anak adalah dari pengalaman bergaul dan bekerja untuk anak. Pengalamanlah yang menjadi pengetahuan saya dan kesimpulan yang saya ambil didasari dari fakta-fakta lapangan,” tulisnya pada makalah berjudul Anak dan Minat Budaya, Di Manakah Usaha dan Tanggung Jawab Kita?‘ yang disampaikan kepada peserta Kongres Kebudayaan V di Bukittinggi, Sumatera Barat, bulan Oktober 2003.

Sejak merdeka tahun 1945, tandasnya, tak ada satu pun institusi Pemerintah yang pernah mengadakan acara kebudayaan untuk anak-anak. “Kalau pun ada, hanya merupakan kasus musiman saja,” ujarnya.  “Tidak pernah ada penyelenggaraan festival anak-anak yang berkesinambungan, secara teratur dan bersifat nasional melibatkan seluruh masyarakat (sekolah, organisasi swasta non-profit, sponsor, dan sebagainya).”

“Kita tidak peduli tentang musik untuk anak, permainan anak, cerita untuk anak, dan semuanya yang bersifat budaya. Lebih sering festival diselenggarakan dengan menempatkan anak sebagai objek konsumen suatu usaha yang bersifat dagang,” demikian Murti Bunanta berkesimpulan.

Murti secara terbuka menggugah penyelenggara negara maupun masyarakat pengayom anak untuk menyadari bahwa anak-anak Indonesia memerlukan kesempatan menjadi pelaku kebudayaan.

“Mereka ingin berekspresi dalam kebudayaan, mengenal, dan menikmati kebudayaan apa saja, sekaligus terbuka untuk menerima kebudayaan dan menjadi agen yang mentransmisikan kebudayaan,” tuturnya. “Tidakkah akan kita ajarkan dan tumbuhkan perdamaian melalui budaya? Di manakah usaha dan tanggung jawab kita untuk masa depan anak-anak kita?  Adakah masa depan tanpa budaya? Anak-anak siap untuk berbudaya dan menjadi bangsa yang berbudaya, akan tetapi kita, kaum dewasa, tidak memberikan jalan pada mereka.”

Pendiri Yayasan Murti Bunanta ini melanjutkan, maka  janganlah anak-anak yang disalahkan apabila mereka akhirnya lebih mengenal budaya dari luar, yang tentu tidak ada salahnya, “karena kita sendiri yang tidak memikirkan untuk menyelenggarakan dan menyediakan budaya sendiri bagi anak-anak.”

Dari pantauan lapangan, Murti mendapatkan bahwa sesungguhnya anak-anak sangat ingin dan sungguh terbuka untuk menerima warisan budaya dari bangsanya sendiri. “Dengarkanlah suara anak-anak Indonesia,” imbaunya dengan penuh rasa prihatin. “Saya yakin anak dari golongan mana pun sesungguhnya dapat mencintai dan bangga akan kebudayaan sendiri bila mereka memang diberi jalan untuk itu. Persoalannya, tak ada upaya kita untuk melakukan usaha nyata guna mewariskan kekayaan budaya kita.”

Namun bukan berarti anak ditempatkan sekadar sebagai sasaran. Pengalaman yang luas dan mendalam membawanya pada kesimpulan bahwa sesungguhnya anak itu sendirilah ‘agen’ yang paling efektif untuk mengenalkan budaya kepada kelompok sebayanya. Anak-anak adalah penikmat budaya yang amat toleran, bersih dari arogansi kebudayaan lingkup keluarganya, terbuka pada keragaman budaya dan menghormati nilai keragaman.

Hidupkan Budaya Mendongeng, Hidupkan Budaya Bangsa

Murti Bunanta menunjuk bangsa lain, seperti Amerika Serikat, yang mempunyai kesungguhan mengemban tanggungjawab revitalisasi kebudayaan dengan terus menggali cerita-cerita rakyat [folklore] dan mendongengkannya kembali ke anak-anak masa kini. Demikian juga Thailand, yang menggunakan wahana mendongeng untuk menghidupkan kembali bahasa-bahasa asli yang terancam punah. Memperkenalkan budaya kepada anak-anak masa kini dapat melalui berbagai cara mendongeng, antara lain melalui konsep mendongeng dan bermain, mendongeng sambil bermain musik, mengadakan festival mendongeng dengan konsep pementasan teater dari anak untuk anak, membacakan cerita secara maraton dengan meniru konsep pagelaran wayang kulit, membacakan cerita dengan konsep membaca secara massal di sebuah taman, dan lain sebagainya. Sayangnya, di Indonesia kegiatan pengenalan budaya sendiri ke anak-anak belum menjadi sikap bangsa.

Karena hampanya kegiatan anak-anak yang terselenggara sebagai bentuk kesadaran untuk menanam-urun budaya bangsa, maka Murti Bunanta mengambil prakarsa untuk sebisa mungkin mengisinya dengan suatu gerakan independen. Pada tahun 1987 ia membentuk wadah nirlaba bernama Kelompok Pencinta Buku Anak [KPBA] di bawah naungan Yayasan Murti Bunanta untuk membawa anak-anak ke alam pengenalan budaya sendiri melalui cerita-cerita rakyat yang terbukukan, termasuk cerita-cerita rakyat Indonesia yang ia tutur-ulang dalam ratusan judul. Kelompok yang berhasil menyerap banyak relawan ini melancarkan kegiatan seputar mendongeng, mulai dari seminar dan lokakarya tentang ketrampilan mendongeng sampai layanan mendongeng di rumahsakit bagian anak-anak.

“Buku cerita  adalah sarana yang utama yang harus diadakan, karena sarana ini dapat digunakan sebagai sumber pertama untuk mengenalkan budaya yang dapat dikerjakan sendiri oleh orang tua dan guru, kaum dewasa pertama yang berhubungan dengan anak,” demikian pemikiran Murti. “Sayang secara umum, mutu buku cerita rakyat masih harus ditingkatkan dan buku-buku yang mengetengahkan keragaman budaya amat sedikit. Pengarang bangsa ini belum pandai mengungkapkan dan menuliskan masalah ini dengan menarik. Persoalan budaya belum menarik perhatian mereka, selain dari mutu kepengarangan yang memang masih rendah. Komik, komik, dan komik menjadi andalan pengarang Indonesia,” demikian keluhannya.

Ia mengakui bahwa menuliskan kembali cerita bersumber lisan menjadi bahan cerita tulisan yang menarik amat tidak mudah. Segudang masalah timbul, belum lagi kalau pengarang tidak pandai menafsirkan himah cerita yang ada, ungkapnya seraya menambahkan, ” Tanpa meningkatkan dan memperbanyak buku dan penelitian tentang budaya yang dapat dimanfaatkan untuk anak-anak, maka budaya dan tradisi akan perlahan-lahan menghilang.”

Ia mengingatkan bahwa budaya akan lestari dan menjadi dinamis kalau dia juga dituliskan yang kemudian dapat dijadikan sumber lisan kembali. “Parahnya,” katanya, “ada pula yang beranggapan bahwa cerita rakyat dan tradisi sudah ketinggalan zaman dan perlu digantikan dengan yang lebih modern.” Justru seringkali bangsa lain yang banyak yang mengambil manfaat dari warisan budaya Indonesia setelah berhasil menggalinya. “Buku saya, sebuah kumpulan cerita rakyat Indonesia berjudul Indonesian Folktales diterbitkan di Amerika, dipersembahkan dengan kemasan sangat mewah untuk ukuran Indonesia,” demikian ujarnya memberi contoh. “Orang lain menghormati budaya kita dengan mengiklankan buku ini sebagai berikut : “Build your multicultural collection or expand your repertoire with tales that provide a moving and colorful image of the diversity and richness of the people and lands of Indonesia.”

Kelahiran Semarang tahun 1946, Dr. Murti Bunanta SS. MA. adalah nama yang di dunia perdongengan anak sudah tercatat sebagai sosok yang membawa cerita-cerita rakyat Indonesia ke alam baca anak-anak internasional. Ia adalah pengarang buku anak-anak Indonesia pertama yang karya-karyanya mendapat penghargaan internasional (Polandia dan Perancis). Juga dia pengarang buku anak-anak Indonesia pertama yang karyanya diterbitkan di luar negeri (Amerika). Selain itu, ia pun pengarang buku anak-anak Indonesia pertama yang karyanya diterjemahkan di luar negeri (Jepang). Bukan itu saja, ia ternyata juga orang pertama yang meraih gelar doktor jurusan sastera anak dari Universitas Indonesia.

Prakarsai Festival Mendongeng Sampai Tingkat ASEAN

Tonggak sejarah dipancang oleh gerakan independen Murti Bunanta ketika KPBA mengadakan pameran bertema ‘Anak, Bacaan dan Mainan’ di Jakarta dalam rangka merayakan Hari Anak Sedunia tahun 1989. Event ini mengundang perhatian internasional dan pada tahun 1990 KPBA diangkat oleh International Board on Books for Young People (IBBY) menjadi seksi nasional ke-51 dari organisasi dunia tersebut. Pada tahun 2006, untuk meluaskan kerja KPBA, dibentuklah wadah terpisah untuk mengelola kegiatan ini yang diberi nama Indonesian Board on Books for Young People (INABBY) dan berdampingan sebagai rekanan kegiatan KPBA.

Berkat dukungan yang kian meluas dari dalam negeri maupun luar negeri, KPBA mengambil keberhasilan pameran di tahun 1989 itu sebagai titik tolak untuk mengadakan acara akbar yang rutin bagi anak-anak untuk mengenali budaya bangsa. Mulai tahun 1993, setiap dua tahun sekali KPBA menyelenggarakan Festival Mendongeng untuk menghormati Hari Anak-anak Sedunia. Murti Bunanta menyatakan: “Mendongeng dan bercerita mendekatkan jarak antara anak dan orang dewasa, antara anak dan anak, kebudayaan dan kebudayaan serta antara masyarakat dan masyarakat.” Para pendongeng ulung dari berbagai daerah di Indonesia ia ajak untuk berbagi cerita-cerita rakyat dari daerah mereka masing-masing. Segala usia berbaur di satu ruang lepas untuk berpesta cerita, membiarkan diri bebas hanyut dalam keriaan aneka tuturan kreatif yang berlatar keberagaman budaya yang menjadi kekayaan bangsa. Bukan hanya mendongeng dengan mulut saja, melainkan juga dengan alat-alat bantu ekspresi seperti benang, tali, kertas, boneka, kain, alat musik, layar, kayu, bambu dan sebagainya.

Begitu besarnya minat masyarakat pada acara dua-tahunan ini sampai Pemerintah pun mengakui perannya yang strategis bagi kelestarian keberagaman budaya di tanah air. Pada festival ke-5, Asisten Deputi Kesenian Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Surya Yuga mengatakan, bahwa kesempatan mendongeng ini sangat strategis karena dapat mendekatkan anak-anak dengan orangtuanya, meningkatkan hubungan anak-anak dengan budaya sekitarnya dan budaya lain. Lima tahun kemudian, pada Hari Anak Sedunia 2008, pada pagelarannya yang ke-10, Festival Mendongeng untuk pertam akalinya merebak melampaui batas-batas negeri menjangkau budaya-budaya lain di ASEAN.

Festival Mendongeng ASEAN yang mengambil tempat di Bentara Budaya, Jakarta, mulai 31 Juli hingga 4 Agustus 2008 tersebut menghadirkan 37 buah pentas dongeng, 45 program anak, dan 12 kertas kerja untuk dibahas. Pada pembukaan, dipersembahkan suatu pentas langka, yakni seni wayang gantung dari Singkawang, Kalimantan Barat, yang dibawakan oleh Chin Nen Sin, generasi ketiga dari keluarga pendalang wayang gantung yang tinggal satu-satunya di Indonesia. Juga tampil sejumlah pencerita atau pendongeng dari Thailand, Vietnam, Laos, Brunei Darussalam, dan Institut Seni Rupa Indonesia.

“Acara ini baru pertama kali diadakan di ASEAN untuk mempererat hubungan ASEAN melalui kerjasama kebudayaan, khususnya cerita rakyat, bagi anak dan bacaan anak di ASEAN. Bacaan anak ASEAN dan cerita rakyat ASEAN perlu mendapat perhatian sehingga dapat mendunia dan dikenal lebih luas baik di antara negara-negara ASEAN sendiri atau pun di dunia internasional,” kata Murti Bunanta.

silakan lihat koleksi ‘boneka membaca’ Murti Bunanta di galerifoto-langitperempuan

dirangkum dari berbagai sumber:
http://www.kongresbud.budpar.go.id/2003/murti_bunanta.htm
http://bolaeropa.kompas.com/kompas-cetak/0307/17/dikbud/436841.htm
http://entertainment.kompas.com/read/xml/2008/07/31/21001218/festival.bercerita.asean.dari.wayang.gantung.ke.wayang.rumput
http://www.kpba-murti.org
http://antobeng.multiply.com/photos/album/84/Boneka_Membaca_Koleksi_Murti_Bunanta

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: