Opini | Kamilah, Potret Seorang Perempuan Pekerja

Oleh Ahmad Syafii Maarif

[MAARIFINSTITUTE.ORG] – Sudah 15 tahun Kamilah bekerja sebagai buruh harian pada sebuah perusahaan pembangunan perumahan di Jogjakarta. Kini usianya 60 tahun. Dari gaji harian Rp. 9.000 pada tahun 1997, sejak beberapa hari yang lalu dinaikkan mernjadi Rp.25.000. Jika bekerja rata-rata 26 hari per bulan, maka pendapatannya menjadi Rp. 650.000. Suaminya telah lama meninggalkannya karena pergi ke Sumatera, sekalipun tidak dicerai. Punya anak perempuan satu, cucu dua. Anak, cucu, dan menantunya (seorang buruh kasar) tinggal di desa lain, tetapi masih dalam Kabupaten Bantul, DIY.

Demikianlah Kamilah berangkat jam 06.00 pagi dari dusun Pranti, di RT 8, Pundong, Triharjono, Bantul, ke tempat mencari rezki dengan sepeda tuanya. Dua jam dalam perjalanan yang berjarak sekitar 28 kilometer. Kembali ke dusun jam 15.30, baru maghrib sampai di rumah. Mengapa dia betah bekerja sebagai buruh dengan jarak yang jauh dalam usia yang terbilang lansia itu? Jawabannya, karena perusahaan sudah memberi pekerjaan tetap kepadanya selama sekian tahun, sekalipun pendapatannya dengan angka di atas. Kamilah sudah sering pindah-pindah tempat membanting tulang, tergantung kepada lokasi di mana pembangunan perumahan itu dilakukan.

Empat jam per hari kerja mengayuh sepeda, demi mempertahankan hidup sebagai seorang setengah janda. Untungnya tidak menyewa rumah, tinggal di rumah sendiri, ada listriknya, tetapi harus menumpang mandi ke tempat adiknya (rayi kulo, katanya). Karena batang usia sudah berangkat semakin jauh, kita tidak tahu berapa lama lagi Kamilah mampu mengayuh sepeda tuanya itu dalam upaya mempertahankan hidup. Kulitnya semakin menghitam karena disengat matahari pagi dan sore. Untuk makan siang, Kamilah selalu membawa bekal dari rumah. Kini di Jogja mulai musim hujan, tentu perjalanan perempuan tua ini pergi-pulang bisa lebih lama.

Sore Jum’at, jam 17.30 tanggal 19 Oktober 2012, di bandara Adisucipto, Jogja, saya menemui Menko Perekonomian Pak Hatta Rajasa, untuk sebuah keperluan. Menteri mengatakan kepada saya bahwa jumlah kelas menengah di Indonesia sekarang sudah mencapai angka 60.000.000, pertumbuhan ekonomi di atas 6,3%. Cukup tinggi, bukan? Komentar saya sore itu: “Sayang belum ada pemerataan.” Tiga hari sebelum itu, malam 16 Oktober 2012 sahabat saya Dr. H.S. Dillon, staf khusus presiden untuk penanggulangan kemiskinan, berkunjung ke rumah saya untuk bincang-bincang. Sewaktu ditanyakan berapa sebenarnya angka kemiskinan di Indonesia sekarang, dijawab 49%, jika parameter yang digunakan adalah pendapatan dua dolar per kepala per hari. Dengan demikian, ada sekitar 120.000.000 dari 245.000.000 rakyat Indonesia masih berada dalam kategori itu. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu masih belum menjangkau hampir separo dari jumlah total rakyat Indonesia.

Dengan penghasilan Rp. 25.000 per hari, Kamilah sekarang sudah sedikit melampaui angka dua dolar itu, tetapi masih di bawah UMR. Sebagai perempuan desa yang serba pasrah, Kamilah tidak punya pilihan lain, kecuali terus mengayuh sepeda tuanya. Sampai kapan? Tentu sampai tulang belulangnya tidak dapat lagi digerakkan untuk mengayuh speda dalam menempuh jarak perjalanan sejauh itu. Inilah potret seorang perempuan pekerja yang jumlahnya masih puluhan juta di Indonesia.

Dalam bacaan saya, sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 belum ada program pembangunan pemerintah yang benar-benar berorientasi untuk menghalau kemiskinan dari negeri ini. Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 yang kemudian dikenal dengan Hari Lahirnya Pancasila, terbaca ungkapan ini: “…tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia Merdeka,” saat menguraikan prinsip kesejahteraan rakyat yang menjadi tujuan Indonesia merdeka. Dengan fakta-fakta di atas, tampaknya kemiskinan masih “setia” bersama perjalanan bangsa yang sudah merdeka melampaui angka 67 tahun ini. Akan munculkah kepemimpinan di Indonesia dalam tempo dekat ini untuk mewujudkan mimpi Bung Karno itu? Kamilah dan puluhan juta yang lain sedang menanti perubahan radikal dalam orientasi pembangunan di negeri tercinta ini.

Sumber : Resonansi Republika

via Opini | KAMILAH, POTRET SEORANG PEREMPUAN PEKERJA.

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: