Pejuang HAM Yosepha Alomang Lawan Raksasa Pertambangan

Mama Yosepha - Anarita Atirana_FLICKR

[RASUDOFMDOGIYAI] – Telinga dan ingatan banyak orang Indonesia tak pernah lupa nama Kartini, Cut Nya Dien, Dewi Sartika, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain. Paling tidak, ketika tiba bulan April, banyak sekolah dan instansi pemerintah, semarak dengan “nuansa Kartini”.  Akan tetapi, kita mungkin masih asing dengan nama yang satu ini, yaitu Yosepha Alomang atau Mama Yosepha, perempuan dari suku Amungme, Papua. Mama Yosepha,  lahir di Tsinga, Papua, pada tahun 1940-an. Tidak ada catatan tahun dan tanggal yang pasti kelahirannya, juga tak ada informasi tentang nama ayah dan ibunya. Ketika masih bayi, Yosepha telah menjadi yatim-piatu dan bertumbuh secara nomad dengan orang tua tiri. 

Hidup Berpindah-pindah Bersama Sukunya

Dengan bantuan Misi Gereja Katolik, Yosepha sempat menikmati pendidikan, kemudian bekerja sebagai bidan. menikah pada awal 1970-an, setelah beberapa tahun bersekolah. Saat itu, ia telah bekerja sebagai bidan yang cekatan dan, berkat bantuan Gereja Katolik, ia bekerja menolong orang-orang lain. Yosepha, sejak masih belia, telah membangun hidup dan kehidupannya yang menunjukkan dirinya sebagai perempuan mandiri dan kerja keras. Bahkan, ketika setelah menikah suaminya gagal membayar mahal, Yosepha, demi menghindari kemarahan keluarganya, membantu berusaha keras dan menabung ikut membayarkan.

Dan ketika, maraknya peredaran alkohol di Tanah Papua, suami Yosepha pun terjerumus ke dalamnya, bahkan sampai menjual harta milik mereka demi membeli alkohol. Yosepha, menjadi salah satu orang yang tampil ke/di depan mengkampanyekan pelarangan alkohol di Timika.

Tekad untuk merubah dan berjuang untuk sesamanya, sangat nyata dan berani melawan arus orang banyak (pada masa itu, yang cenderung diam; diam terhadap penetrasi kekuasaan dan militer di/ke Tanah Papua).

Josepha Alomang: ""Saya berharap orang Papua diakui Indonesia."  (Foto: Merdeka.com)

Josepha Alomang: “”Saya berharap orang Papua diakui Indonesia.” (Foto: Merdeka.com)

Pada era yang lalu, ketika masyarakat sekitar wilayah operasi pertambangan PT Freeport Indonesia kehilangan hak-hak mereka, Mama Yosepha tampil ke depan untuk membela hak-hak asasi manusia masyarakat adatnya.

Perjuangannya untuk menegakkan HAM mendominasi dan terus-menerus mewarnai kehidupannya. Bahkan, karena perjuangan dan perlawanan tersebut, anak sulungnya, Yohana (lahir 1974) meninggal dunia pada 1977 karena kelaparan. ketika seluruh Mama Yosepha beserta keluarganya bersembunyi di hutan-hutan agar terhindar dari pengejaran pihak yang berwajib.

Bentuk Koperasi Buah dan Sayur Mayur

Untuk memperbaiki ekonomi masyarakat di lingkungannya, Mama Yosepha, dengan bantuan Gereja Katolik, bersama sejumlah perempuan lainnya membangun koperasi untuk memasarkan buah-buahan dan sayuran hasil tanaman mereka.

Menurut pendapat Yosepha, seharusnya  PT Freeport Indonesia mendukung rakyat setempat dengan membeli bahan-bahan hasil kerja mereka. Tetapi perusahaan tersebut justru mendatangkan bahan-bahan tersebut dari luar Papua. Para perempuan setempat pun melakukan protes dengan menghancurkan buah-buah dan sayuran impor.

yosepha_alomang_radiosuaradogiyaPada 1991, Yosepha mengadakan aksi unjuk rasa selama tiga hari di bandar udara di Timika, dengan memasang api di landasan udara, sebagai tanda protes atas penolakan PT Freeport Indonesia dan Pemerintah Indonesia untuk mendengarkan keprihatinan rakyat setempat dan perlakuan buruk yang berkelanjutan terhadap rakyat Papua.

Pada tahun 1994, Mama Yosepha ditangkap karena dicurigai menolong tokoh Organisasi Papua Merdeka, Kelly Kwalik. Bersama dengan seorang perempuan Papua lainnya, Mama Yuliana, ia dimasukkan ke sebuah tempat penampungan kotoran manusia. Ia dikeram di tempat itu selama seminggu dengan kotoran manusia setinggi lututnya.

Tuntut Ganti Rugi dan Raih Penghargaan Dunia

Tahun 1996, Mama Yosepha mengajukan tuntutan perdata terhadap perusahaan Freeport McMoRan Copper & Gold di Amerika Serikat dan menuntut ganti rugi bagi dirinya dan bagi lingkungan alam yang rusak sebagai akibat operasi perusahaan tersebut. Ketika ia mendengar berita tentang runtuhnya bendungan Wanagon pada Mei 2000, Mama Yosepha segera meninggalkan Jayapura untuk kembali ke Timika. Ia berhasil mengunjungi tempat kejadian dan menyaksikan kerusakan yang ditimbulkannya terhadap kebun, rumah, dan ternak rakyat setempat. Mama Yosepha segera kembali ke Jayapura dengan didampingi sejumlah anggota masyarakat Amungme lainnya dan mengadakan demonstrasi di depan gedung DPRD.

Atas kegigihannya memperjuangkan hak-hak asasi manusia masyarakatnya, pada tahun 1999 Mama Yosepha dianugerahi Penghargaan Yap Thiam Hien. Dengan dana yang diterimanya melalui anugerah tersebut, ia mendirikan YAHAMAK (Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan) pada tahun 2001, tahun pada mana ia juga meraih The Goldman Environmental Prize 2001. Berkat perjuangan Mama Yosepha yang tak kenal lelah dan jera, PT Freeport Indonesia akhirnya memutuskan untuk memberi ganti rugi sebesar  AS$248.000 kepada Mama Yosepha, yang kemudian digunakan untuk membangun Kompleks Yosepha Alomang. Kompleks ini terdiri dari sebuah klinik, gedung pertemuan, panti asuhan anak yatim dan monumen anti-pelanggaran hak-hak asasi manusia. :: Rasudo FM Dogiyai

naskah asli >> Yosepha Alomang, Perempuan Perkasa dari Tanah Papua | RASUDO FM DOGIYAI.

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: