Pendukung Luviana Sambut Hari Pahlawan Dengan Komik Selembar

Keberanian perjuangan sebaiknya tidak hanya ditunjukkan dalam aksi massa semata.

“Merayakan Hari Pahlawan bagi para Buruh Perempuan Indonesia” di Komnas HAM yang menghadirkan pembicara (kiri>kanan) Dian dari Radio Komunitas Marsinah, Luviana, Omih, Ruth Indiah Rahayu, dan Umi Lasminah di Komnas HAM, 9 November 2012. (sumber: Dewi Ria Utari/ BERITASATU)

Menandai peringatan Hari Pahlawan yang jatuh setiap 10 November, Sovi (Solidaritas Perempuan for Luvi) mengadakan kegiatan pemutaran film, diskusi, dan peluncuran komik di Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat, 9 November 2012.

Secara unik, komik yang diluncurkan dinamai Kobar yang merupakan singkatan dari Komik Selembar. Dalam edisi perdananya, Kobar mengangkat topik tentang S. K. Trimurti, jurnalis dan Menteri Perburuhan dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I.

“Dengan menggunakan nama Kobar, diharapkan komik ini menjadi pemantik supaya semangat para buruh perempuan tetap berkobar,” ujar Umi Lasmina, moderator acara ini.

Di acara tersebut, diputar film pendek dokumenter tentang S. K. Trimurti karya Hari Nugroho dan Tim Aliansi Jurnalis Independen/ AJI Jakarta. Setelah pemutaran tersebut, diadakan diskusi yang berangkat dari testimoni para buruh perempuan.

Mereka yang memberi testimoni adalah Luviana, jurnalis Metro TV yang di-PHK secara sepihak oleh manajemen karena Luvi memperjuangkan kesejahteraan karyawan di tempatnya bekerja dan mengusulkan sejumlah perbaikan tayangan yang menurutnya sarat bias gender. Kemudian ada pula testimoni Omih, buruh PT Panarub Dwikarya yang dipenjara karena memperjuangkan hak-haknya sebagai pekerja perempuan, dan testimoni Dian dari Radio Komunitas Marsinah.

Setelah testimoni dari buruh-buruh perempuan yang mengalami ketidakadilan ini, diskusi diakhiri dengan pembahasan tentang perjuangan buruh-buruh perempuan dari masa S. K. Trimurti hingga sekarang, oleh Ruth Indiah Rahayu dari Perhimpunan Rakyat Pekerja.

Dalam testimoninya, Luvi menjelaskan kondisi ironis yang dihadapi industri media, ketika setelah Era Reformasi, Indonesia memiliki sekitar 4.500 media, namun hanya ada 15-an media yang membolehkan adanya serikat pekerja. “Padahal jurnalis ‘kan masuk dalam kelas menengah dan terdidik. Kondisi ini menjadikan jurnalis sekarang ini pintar menulis saja tapi tidak kritis terhadap kondisi diri sendiri,” kata Luvi.

“Ada banyak diskriminasi yang memang dialami buruh perempuan. Karena itu sebenarnya kami hendak menyerukan supaya kita tidak hanya berani dalam aksi massa saja tapi juga sebagai pribadi,” ujar Dian dari Radio Komunitas Marsinah.

Penindasan hak sebagai pekerja dan sebagai perempuan lebih berat lagi dialami Omih yang karena pengajuan hak cutinya ditolak perusahaan, ia tidak bisa merawat anaknya yang sedang sakit sehingga akhirnya meninggal. Ia kemudian dipenjara karena dinilai melakukan teror pada perusahaan ketika karena emosi, ia mengirimkan SMS protes kepada pihak manajemen. Omih yang mendapat tuntutan enam tahun penjara akhirnya dikeluarkan dari penjara dengan status penangguhan. “Sampai sekarang saya masih harus melakukan wajib lapor dari Senin sampai Kamis,” ujarnya.

Kondisi-kondisi inilah yang terus disiarkan oleh Dian dan kawan-kawan dari radio komunitas Marsinah yang mulai melakukan siaran sejak April 2012. “Kami launching tepat pada hari raya Kartini,” ujar Dian.

Ia menilai bahwa sebagai buruh, perempuan tidak hanya ditindas oleh sistem kapitalisme tapi juga oleh sistem patriarkal. “Ada banyak diskriminasi yang memang dialami buruh perempuan. Karena itu sebenarnya kami hendak menyerukan supaya kita tidak hanya berani dalam aksi massa saja tapi juga sebagai pribadi,” ujar Dian yang mencontohkan kasus yang diperjuangkan KBN Marunda yang hanya bisa meloloskan target upah minimun tapi tidak untuk kasus pelecehan seksual.

“Pelecehan seksual adalah bentuk kejahatan sunyi. Kasus tersebut biasanya berhenti karena banyak saksi yang tak berani bersuara,” ujar Dian yang mengimbau kepada para buruh lelaki untuk tidak merasa terancam atau terintimidasi ketika mendengar kasus pelecehan seksual. “Pada dasarnya kami ingin melibatkan lelaki sebagai bagian dari pembebasan kelas,” kata Dian. :: beritasatu/Dewi Ria Utari/nov2012

http://www.beritasatu.com/perempuan-news/82328-peluncuran-komik-tandai-peringatan-hari-pahlawan-bagi-buruh-perempuan.html

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: