Perempuan Petani Bawang Brebes, Kepala Keluarga Sejati

BREBES, KOMPAS.com – Mereka bukanlah perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi. Mereka mungkin hanya terlihat sebagai perempuan biasa. Sesungguhnya, mereka luar biasa. Setidaknya, bagi anak-anaknya. Mereka adalah para perempuan kepala keluarga di Brebes, Jawa Tengah, yang berprofesi sebagai petani bawang. Dalam pelatihan manajemen usaha yang diadakan Dove melalui program Dove Sisterhood, Wakil Bupati Brebes Agung Widyantoro menyebut mereka sebagai perempuan-perempuan perkasa. Ya, sebagian besar dari mereka adalah para janda yang ditinggal suaminya. Ada yang cerai hidup, cerai gantung (ditinggal tanpa dicerai), dan ada pula cerai mati. Namun, mereka tak meratapi nasib. Mereka mampu bangkit karena sadar, ada anak-anak yang harus dinafkahi.

Pekerjaan mulai dari buruh tani hingga mengumpulkan modal untuk menjadi petani bawang, memang pilihan para perempuan itu. Bukan tanpa alasan. Kawasan Brebes, khususnya Desa Larangan, memiliki kontur tanah yang bagus untuk bercocok tanam. Tak kehilangan semangat, para ibu paruh baya itu membuka diri untuk menerima dan belajar hal-hal baru yang mampu meningkatkan kemampuannya. Ini cerita mereka..

Maryani (56 tahun)

Ibu empat anak ini harus menjadi single parent karena suaminya meninggal pada tahun 2002 lalu. Saat suaminya masih hidup, Maryani bekerja sambilan dengan menjadi buruh tani dengan upah sekitar Rp10.000 per hari. Ketika suaminya sudah tak ada, ia harus berpikir bagaimana bisa melanjutkan hidup dengan penghasilan yang lebih besar. Maklum, saat itu keempat anaknya masih membutuhkan dana untuk melanjutkan pendidikan.

“Sekarang saya sudah lebih percaya diri karena ikut berbagai pelatihan. Ya gini-gini juga ingin punya sawah sendiri biar bisa garap sendiri. Alhamdulillah, hasil kerja saya bisa menyekolahkan dan mentaskan (menikahkan) anak-anak,” kata Maryati, saat pelatihan manajemen usaha oleh Dove, di Aula Kecamatan Larangan, Brebes, Jawa Tengah, Jumat (18/6/2010) lalu.

Kini, tiga dari empat anak Maryani sudah menikah. “Tinggal satu saja yang masih sekolah. Masih saya biayain,” tambahnya.

Bertani bawang, diakui Maryani, penuh risiko. Saat musim hujan yang masih mengguyur seperti sekarang, para petani hanya bisa menanam bibit bawang jawa. Namun, jika musim panas dan berangin, biasanya mereka menanam bawang filipina yang hasil panennya bisa mencapai satu ton. Dengan modal Rp16 juta, untung yang diraih sekitar Rp5 juta. Uang inilah yang mereka kelola, untuk kebutuhan sehari-hari dan menabung. “Tapi itu kalau lagi bagus. Kalau tidak, ya namanya orang usaha, enggak selamanya bagus,” kata Maryani yang baru menikahkan anaknya.

Untuk modal, ada yang mengumpulkannya bersama para petani lainnya. Bagi mereka, memang lebih menguntungkan menjadi petani bawang dibandingkan menjadi buruh tani yang menggarap lahan dengan modal dari para juragan. Biasanya, jika menjadi buruh tani, mereka diupah dengan sistem bagi hasil.

Daryati (45 tahun)

Daryati kini sudah bisa tertawa. Tak seperti dua tahun lalu. Ia limbung, ketika suaminya memutuskan meninggalkannya untuk yang kedua kali dan menikah dengan perempuan lain. Ya, perempuan yang tak tamat SD ini ditinggal begitu saja tanpa kejelasan status. Kejadian ini bukan yang pertama kali dialami Daryati.

“Dulu, waktu anak masih satu, suami saya pergi. Saya ditinggal, dia kawin lagi. Terus balik lagi ke saya. Setelah nambah anak tiga, dia pergi lagi sampai sekarang,” kisah Daryati.

Ia merasa dibohongi karena ketidaktahuannya. Namun, Daryati bangkit. Ia tak mau larut dalam kesedihan. “Saya ingat anak saya yang tiga orang masih butuh biaya buat sekolah. Pelan-pelan, saya ikut simpan pinjam. Sebulan hanya Rp 2.000. Kemudian dikumpulkan, sampai saya bisa menanam bawang. Tahun 2008 ada yang kasih modal 1 juta. Alhamdulillah, lancar sampai sekarang. Saya sudah bisa pinjam sampai 5 juta. Hasil panen bisa buat nyicil, anak saya bisa sekolah,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Tiga dari empat anak Daryati masih harus melanjutkan pendidikannya. Masing-masing berusia 16 tahun, 12 tahun, dan 9 tahun. Lama-kelamaan, Daryati mulai membuka diri. Seperti halnya Maryani, ia bergabung dalam sebuah perkumpulan para perempuan kepala keluarga yang didampingi oleh Sekretariat Nasional Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA). Di sana, ia mendapatkan berbagai pelatihan. Sejumlah lembaga pun memberikan perhatian. Yang terakhir diterima, modal yang diberikan oleh Dove Sisterhood. Para perempuan ini tak hanya mendapat bantuan modal. Mereka juga mengikuti pelatihan manajemen usaha. Daryati menjadi salah satu ketua tim. Dari kerja sama tim ini, ia berharap, penghasilan mereka akan terus bertambah. Saat ini, dengan menjadi petani bermodal patungan, ia mengantongi untung sekitar Rp 3 juta sekali panen. Sebagai informasi, dalam setahun, bawang bisa ditanam dan dipanen 3-4 kali.

“Sekarang agak mendingan. Waktu masih kuli, buruh tani, penghasilan cuma dapat 7.000 sehari. Itupun kalau ada yang butuh tenaga, kalau tidak ya tidak dapat uang. Sekarang mendingan ada peningkatan, setelah tanam sendiri. Dapat 1,5 juta, buat beli sepeda anak 600 ribu, buat beli kambing 600 ribu. Sisanya buat ditabung, nambah modal,” kata Daryati yang baru saja menuntaskan pendidikan Kejar Paket A.

Untuk lahan penanaman, mereka biasanya menyewa pada pemilik lahan. Apa harapan Daryati? “Saya ingin punya lahan sendiri. Doain ya, bisa jadi juragan bawang. Walaupun cuma juragan kecil,” tuturnya sambil tertawa.

Mengorganisasikan Diri

Koordinator Usaha Sekretariat Nasional PEKKA, Romlawati mengatakan, dana bantuan modal yang didapatkan akan dimanfaatkan untuk membeli bibit. Kemudian, mereka akan mengelolanya sendiri dalam kelompok dengan modal bersama. Para petani ini juga akan dilatih untuk memahami prosedur dan bisa menjual sendiri bawangnya ke pedagang besar yang rata-rata datang dari luar Brebes.

“Kalau sendiri, mereka kan hanya bisa beli sedikit bibit karena modal terbatas. Dengan bantuan modal dan patungan, diharapkan hasil panen lebih besar, mereka bisa langsung jual ke pedagang besar. Pasti harganya akan lebih baik,” ungkap Romla.

Para petani ini juga sudah mendirikan Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Hasil panen akan dibagi hasil. Perhitungannya, 20 persen kembali ke kas LKM untuk diputar kembali sebagai modal, dan 80 persen dibagikan kepada seluruh anggota tim. Pada akhir tahun, jika LKM juga mendapatkan laba, para petani ini juga akan merasakan hasilnya. Saat forum pelatihan, ibu-ibu petani ini juga mengungkapkan harapannya, yaitu ingin membeli mobil bak terbuka!

“Biar semuanya belajar nyetir. Jadi bisa langsung bawa ke pedagang besar, enggak perlu nyewa mobil,” kata salah seorang ibu yang disambut tawa rekannya.

Cobaan memang bisa menguatkan. Asal tak hanyut dalam keterpurukan.

Foto-foto >> KOMPAS.COM/INGGRIED DWI WEDHASWARY

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: