Petani Kecil Onah Lasmanah Dihargai FAO Karena Agroforestry

[KEMENKEHUT] – Perwakilan Food and Agriculture Organization (FAO) di Bangkok telah memberikan penghargaan kepada 5 petani teladan dari wilayah Asia Pasific pada peringatan hari pangan se-dunia tanggal 18 Oktober 2004 di Bangkok. Penghargaan dianugerahkan oleh HRH Princess Maha Chakri Sirindhorn. Petani teladan tersebut antara lain Kaka Dema dari Bhutan, Tou Shenglian dari China, Uhotau dari Pasisi, Marasri Singsawak dari Thailand dan yang paling membanggakan adalah petani dari Indonesia, Onah Lasmanah yang mengembangkan sistem Agroforestry.

Agroforestry merupakan suatu sistem pengelolaan lahan dengan berasaskan kelestarian, yang meningkatkan hasil lahan secara keseluruhan, mengkombinasikan produksi tanaman pertanian (termasuk tanaman pohon-pohonan) dan tanaman hutan dan/atau hewan secara bersamaan atau berurutan pada unit lahan yang sama, dan menerapkan cara-cara pengelolaan yang sesuai dengan kebudayaan penduduk setempat.

Onah Lasmanah seorang ibu berusia 38 tahun menyadari bahwa hutan memberikan keuntungan yang besar bagi seluruh rakyat dan hutan merupakan paru-paru dunia. Pada tahun 1977, para pria di daerahnya di Cimaragas, Jawa Barat menolaknya untuk masuk dalam kelompok tani, ibu Onah memutuskan untuk membentuk Harumsarmanis, suatu kelompok tani bagi perempuan. Di pertengahan krisis moneter dan keadaan cuaca yang tidak menentu akibat badai el-nino yang mengakibatkan kegagalan panen dan penderitaan bagi keluarga-keluarga di desanya justru ibu Onah membuka pemikiran baru dengan mengikuti pelatihan tentang hidroponik dan berhasil merubah ladangnya menjadi hijau kembali dan hidup. Melihat kesuksesannya, para tetangga meminta untuk mengajari cara bercocok tanam dengan cara yang sama dan dimulai dari 32 anggota dari kelompok taninya dilanjutkan dengan pengembangan di tempat lain.

Selain el-Nino, deforestasi juga merupakan faktor penyebab kekeringan dan berbagai masalah tanah. Dari sini ibu Onah mulai menanam mahoni di lahan tidak terpakai yang berada dekat dengan desanya. Tidak berapa lama lahan tersebut telah menjadi hutan masyarakat dimana setiap orang bertanggung jawab terhadap pohon-pohon mahoni tersebut. Ibu Onah juga mempelajari bagaimana memanfaatkan tanah kosong di sela-sela pohon mahoni untuk menanam padi, tanaman obat, palawija serta ayam dan ternak-ternak yang juga dikembangkan disana. Semua telah memberikan penghasilan tetap bagi masyarakat setempat dan juga menciptakan ekosistem yang lestari.

Beberapa orang berkeyakinan bahwa membangun hutan masyarakat adalah hal yang sia-sia dan sulit dicapai tetapi, ibu Onah telah berhasil menunjukkan bahwa membangun hutan masyarakat sekaligus membangun pertanian yang merupakan essensi dari Agroforestry adalah hal yang sangat bermanfaat, tidak sia-sia dan dapat dicapai. Atas dasar ini FAO menganugerahkan penghargaan kepada perempuan luar biasa tersebut atas dedikasinya membangun Agroforestry.

(sumber: Siaran Pers Pusat Informasi Kehutanan RI, 25 Oktober 2004)

 

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: