[puisi] Perempuan itu Bernama Pekerja Rumah Tangga!

Puisi karya

Ade Indriani Zuchri

Mengingat Ceriyati adalah mengingat luka, air mata dan penderitaan

Mengenang Istiqomah adalah mengenang irisan hati yang terkoyak , dalam dan terlupakan.

Sementara luka ini semakin mendekat, putus asa dan tak memberi harap

Aku putuskan tengadah pada langit sekarang juga!

Aku mendengar setiap nafasmu adalah kelembutan

Tak berdaya digerus ketakutan

Dan makna cinta yang kau kirim lewat angin tak pernah sampai ketelinganya

Kau menjerit, sayang tak satupun mendengar

Kau tenggelam dalam payah, sementara yang lain sibuk pesta pora dalam genangan luka

Aku melenguh keras, tak sampai jua beraniku melihatmu tajam

Aku mengerang dalam takut seandainya tak mampu menggenggammu

Aku putuskan pada langit maha luas

Kau tujuan cinta kedepanku!

Kalau saja jalan ini memberi tanda pada kita

Tentu menyenangkan menatap dua bola matamu berganti warna

Tentu sangat indah melihat senyummu didekap sang bunda

Tentu membahagiakan melihatmu bersanding pada cinta ananda

Aku ingin memandangmu dalam

Melihat kebahagian demi kebahagian saat kau menyebut dirimu dengan bangga

Sesekali menyeringai manja dan tersenyum telah hafal demokrasi, gender dan tentu saja hak-hak mu!

Aku akan merindukan saat kau tertawa memandang angka-angka negoisasi upahmu

Yang menghantam harga dirimu, membuangnya dalam kehancuran, mengoyaknya dalam lembar penindasan.

Sungguh, aku ingin memberi nama pada kalian

Wahai ceriyati, Istiqomah, Atun, Mardiyani dan ribuan nama lain

Kau dalam, kau indah, kau makna hidup sebenar-benarnya

Memberi juang dalam kegalauan, aku menyebutmu dalam lafas cinta

Kukirim lewat perjuangan dan kebenaran

Kupatri dalam keteguhan

Kusandarkan pada dermaga pengharapan!

Palembang, Mei 2008

Puisi ini saya dedikasikan buat seluruh perempuan tangguh yang bekerja untuk bertahan hidup dan tak pernah berfikir demi dirinya semata.

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: