Racikan Dapur Ping Nio Jadi Jamu Mancanegara

[JAKARTAPOST-KOMPAS] – Bayi Lauw Ping Nio, lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, pada tahun 1895 sebagai anak ketiga dari lima bersaudara. Selama ia masih di kandungan, ibunya sering mengidam beras menir, yaitu beras halus yang didapat dari patahan beras yang ditumbuk di lumbung. Ketika si kecil Ping Nio tumbuh, ia dengan demikian dijuluki “Menir”, yang kemudian dalam ejaan bahasa Belanda ditulis “Meneer”. 

Ping Nio menikah pada usia 17 tahun dan menempuh hidup baru di Semarang bersama suaminya, seorang pedagang bernama Ong Bian Wan. Sakit perut sering diderita suaminya, namun dokter setempat tidak berhasil menyembuhkannya. Masa pendudukan Belanda adalah masa sulit. Di tengah serba kekurangan dan keprihatinan, tidak banyak yang dapat dilakukan Ping Nio untuk mendapatkan pertolongan yang lebih baik. Ia hanya tahu bahwa ada resep obat yang pernah ia pelajari dari ibunya untuk mengobati orang sakit. Ia pun mengumpulkan berbagai tumbuhan dan rempah untuk diramu menjadi obat herbal, yang kemudian diminumkan pada suaminya. Dengan perawatan obat racikan sendiri ini, suaminya ternyata sembuh.

Dari mulut ke mulut, kemujaraban jamu racikan tangan dingin Ping Nio pun menyebar ke para kerabat dekat di Semarang. Dengan penuh semangat dan senang hati, ia meramukan obat bagi yang meminta bantuan. Berbagai keluhan ia sanggup obati, seperti demam, sakit kepala, masuk angin, dan berbagai gangguan kesehatan kecil lainnya. Dari hari ke hari, namanya kian merebak sebagai pembuat jamu yang khasiatnya bisa diandalkan. Dengan rajin, ia mengantar sendiri jamu racikannya ke pemesan sebagai jaminan akan keasliannya. Ia mempunyai tiga orang anak, yaitu Hans, Nonnie, dan Lucy. Ketika ia mengandung anak keempat, Marie, suaminya wafat.

Tempel Potret Sebagai Jaminan Keaslian 

Pesanan terus meningkat pesat. Sudah sulit sekali bagi Ping Nio untuk dapat meninggalkan dapur jamunya. Ia mempekerjakan lebih banyak pembantu di kediamannya. Karena sudah tidak mungkin lagi untuk mengantarkan sendiri pesanan ke para pemesan, dengan disertai permohan maaf bagi para pelanggan setianya, ia pun menambahkan potret dirinya pada setiap kemasan jamu yang keluar dari dapurnya, sebagai jaminan mutu dan keaslian. Ia tak menyangka bahwa potret itu kelak menjadi lambang dari suatu karya bhakti mulia yang mendunia di kemudian hari. 

Berbekal perabotan dapur biasa, usaha keluarga ini terus memperluas penjualan ke kota-kota sekitar Semarang. Bahkan, pada tahun 1919, Ping Nio berhasil mewujudkan impiannya, mendirikan perusahaan “Jamu Jawa Asli Cap Portret Nyonya Meneer” di Semarang. Untuk mempermudah pelanggan, ia juga membuka toko di Jalan Pedamaran 92, Semarang. Perusahaan terus berkembang dengan bantuan anak-anaknya yang mulai beranjak dewasa. Seorang putrinya, Nonnie, hijrah ke Jakarta pada tahun 1940. Dialah yang merintis dibukanya toko Nyonya Meneer di Jalan Juanda, Pasar Baru. Jamu yang tadinya muncul dari keterbatasan dan keprihatinan ini pun masuk ke ibukota dan meluas pasarnya ke seluruh penjuru negeri. Lauw Ping Nio, yang dari pernikahan kedua melahirkan putera bernama Hans Pangemanan, meninggal dunia pada tahun 1978 dengan meninggalkan nama harum sebagai pelestari warisan leluhur yang berhasil cemerlang. 

Ingin Lihat Perempuan Setara Dengan Lelaki

Nyonya Meneer mendorong perempuan di zamannya untuk bekerja, tidak hanya berdiam di rumah. Ia ingin melihat perempuan seimbang dengan laki-laki dalam berprestasi meraih sukses, dan prinsip ini jugalah yang diterapkannya kepada anak-anak perempuannya. “Pada zaman itu kebanyakan masyarakat sulit untuk menerima prinsip bahwa perempuan tidak boleh kalah dari laki-laki. Namun prinsip ini sudah didorong oleh Ibu Meneer,” jelas Charles Saerang, seorang cucu lelaki generasi ketiga Ping Nio dari garis keturunan putera sulungnya Hans.

Hingga kini, perusahaan jamu Nyonya Meneer memiliki karyawan yang 90 persen adalah perempuan. Pola pikir Nyona Meneer kental terasa hingga kini, demikian kata Charles. “Pemikirannya bahwa perempuan harus diberi peluang menjadi pemimpin masih terasa hingga kini,” tambahnya.

Posisi penting di perusahaan jamu Nyonya Meneer dipegang oleh perempuan profesional, bukan berasal dari darah keturunan semata. “Pantang menyerah, disiplin, bermotivasi, perempuan berhak setara mendapat kesempatan yang sama, inilah prinsip yang terus-menerus didorong Ibu Meneer sejak awal mendirikan perusahaan,” tandasnya. :: JakartaPost/Kompas/2011

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: