Srini Maria, Ibu Buncis dari Gunung Merapi

Srini Maria ajak perempuan tani Merapi ekspor Buncis Prancis.

[BINASWADAYA.ORG] – Desa Sengi adalah salah satu desa yang secara administratif masuk di dalam wilayah kecamatan Dukun, kabupaten Magelang, provinsi Jawa Tengah, dan terdiri dari delapan dusun dengan 36 RT. Jarak desa Sengi ke ibukota kecamatan ± 5 km sedangkan ke ibukota kabupaten, Magelang, ± 30 km. Desa Sengi merupakan desa yang letaknya sangat dekat dengan Gunung Merapi sehingga daerah ini sering disebut daerah rawan bencana satu, karena letaknya hanya sekitar 8 km dari puncak Gunung Merapi.

Mata pencaharian masyarakat Desa Sengi meliputi pertanian, perkebunan, peternakan dan perdagangan, sebagian ada yang berwiraswasta dan menjadi pegawai. Sekalipun lahir dari keluarga petani di tengah masyarakat tani di lereng Gunung Merapi, Srini Maria tak suka bertani. Lulus kuliah dari Universitas Tidar, Magelang, Srini menekuni profesi yang jauh dari aktivitas bercocok tanam. Keluar dari desanya, Sengi, ia mengontrak rumah dan bekerja sebagai guru TK di kecamatan Muntilan, masih di dalam wilayah kabupaten Magelang. Kemudian ia sempat menjadi guru SMA di Kota Magelang dan menekuni bisnis multilevel marketing (MLM). Setelah dua anaknya berkuliah di Yogyakarta, tahun 2004, dia memutuskan kembali ke desanya.

Kepincut Setelah Belajar Tentang Ekspor

Di kampung halamannya, dusun Gowok Ringin, salah satu dusun di desa Sengi, Srini memutuskan pilihan untuk menggarap lahan pertanian warisan orangtuanya seluas 5.000 meter persegi. Tahun 2010, Srini mengikuti program pendidikan masyarakat di Gubug Selo Merapi, di lereng Gunung Merapi, Kecamatan Dukun, dan terpilih sebagai salah satu dari puluhan petani yang dikirim Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Jawa Tengah untuk melaksanakan empat kali studi banding di perusahaan eksportir sayur di Bandung, Jawa Barat.

Pengalaman mengikuti program ini meninggalkan kesan mendalam di hati Srini. Ia “kepincut” oleh ide ekspor. Srini ingin bisa ekspor sayuran. Semangatnya tak berhenti di dusun Gowok Ringin. Ibu tiga anak itu gigih mencari informasi tentang acara arisan dan berbagai acara pertemuan para ibu di dusun-dusun lain. Ia berpikiran, jika ia bisa menyampaikan ide ekspor sayuran ke perempuan-perempuan lain, mungkin ia bisa mendapat teman-teman yang sejalan pikiran. Ternyata dugaannya benar. Srini berhasil mengumpulkan 28 perempuan petani yang mau bergabung dengannya. Pada Juli 2010, Srini dan ke-28 perempuan tani lainnya itu meresmikan diri sebagai Kelompok Wanita Tani (KWT) Merapi Asri.

Buncis Prancis Dari Merapi ke Singapura

Kelompok yang baru terbentuk tersebut bertekad kuat untuk mengekspor sayuran dari hasil cocok tanam sendiri. Srini dan teman-temannya mulai dengan menanam Buncis Prancis di areal tanah seluas 400 meter persegi. Ternyata hasilnya menggembirakan. Panen Buncis Prancis sebanyak 25-30 kilogram diberangkatkan ke Singapura oleh seorang perantara sekaligus pengepul setempat bernama Pitoyo, dari kabupaten Semarang.

Buncis Prancis

Perkembangan yang membesarkan hati membuat semakin banyak perempuan setempat bergabung di kelompok tani Srini dan kawan-kawan, sehingga jumlahnya menjadi 42 anggota. Tak hanya dari dusun Gowok Ringin, anggota KWT juga berasal dari kalangan tetangga, yaitu dusun Gowok Sabrang dan dusun Gowok Pos, bahkan desa Tlogolele, Boyolali. Kebun Buncis Prancis milik anggota KWT Merapi Asri pun diperluas mencapai 1 hektar. Di bawah bimbingan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Jateng, pada tahun 2012 KWT Merapi Asri mengekspor sendiri Buncis Prancis ke Singapura dengan volume pengiriman 90-125 kg per hari dengan menggunakan jasa perusahaan eksportir.

Berkat ketekunan dan produksi yang konsisten selama tahun 2012, KWT Merapi Asri memperoleh perpanjangan kontrak dari pihak perusahaan ekspor untuk tahun 2013. Buncis Prancis hasil panen kelompok tani ini, berdasarkan kontrak ekspor 2012, dinilai dengan harga Rp 9.000 per kilogram. Srini dan kelompoknya senantiasa menjaga agar budidaya Buncis Prancis garapan mereka memenuhi paket standar kualitas ekspor. Paket ini terdiri dari benih, pupuk organik cair, senyawa organik penyubur tanaman, dan perangsang bunga yang keseluruhannya dibeli dengan harga Rp 119.000 per paket.

Buah Bit Ikut Terangkut

Selain Buncis Prancis, KWT Merapi Asri pada perkembangannya juga merintis budidaya Buah Bit untuk diekspor. Buah Bit mereka pahami bermanfaat bagi, antara lain, penambah darah, pengobatan pasien diabetes dan pewarna alami produk makanan. Mereka mengancang Singapura sebagai tujuan ekspor Buah Bit melalui perusahaan ekspor produk hortikultura yang mereka jumpai di Soropadan Agro Expo, Kabupaten Temanggung, dengan nilai kontrak Rp 4.000 per kilogram.

Buah Bit

Semangat berproduksi para perempuan desa yang tergabung di Kelompok Tani Wanita Merapi Asri berhasil mensejahterakan diri dengan mengangkat nilai Buncis Prancis menjadi Rp 9.000,- per kilogram, jauh di atas harga pasaran lokal yang berkisar Rp 2.000,- hingga Rp 5.000,- per kilogram. Selain diekspor, Buncis Prancis hasil budidaya mereka juga dipasarkan lokal melalui jalinan kerjasama dengan pengepul sayur di Semarang. Karena terjaga pada kualitas ekspor, Buncis Prancis KWT Merapi Asri di pasar lokal mampu mematokkan diri pada harga premium, yaitu Rp 6.000,- per kilogram. 

Prestasi gemilang Srini Maria dan para perempuan tani desa di puncak Merapi ini menunjukkan kuatnya pertanian sebagai sumber kesejahteraan masyarakat desa yang berkelanjutan. Para petani, jika memperoleh akses akan lahan pertanian yang layak dan leluasa, adalah penyokong dahsyat bagi masa depan perekonomian bangsa ini. :: BINASWADAYA.ORG/23okt2013

Diedit dari: Srini Maria, Ibu Buncis dari Merapi | binaswadaya.org

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: