Tabungan Perempuan Miskin Kota: Modal Kuat Uang-Informasi-Jaringan

[URBANPOORCONSORTIUM] ~ Dalam pengorganisasian komunitas, selalu diperlukan media yang menjadi alat agar komunitas tersebut bisa terus-menerus bertemu, membicarakan masalah yang dihadapi, merancang penyelesaiannya, dan pada akhirnya juga untuk mempererat ikatan sosial. Media tersebut bisa saja sudah ada dan menjadi tradisi di komunitas tersebut, atau yang sudah ada tapi perlu dimodifikasi, atau diadakan media baru yang diambil dari luar komunitas tersebut. Apapun yang dipakai, biasanya media lama yang secara sosial dan kultural sudah diterima tidak akan mudah diabaikan oleh pengorganisir komunitas. Tinggal bagaimana media tersebut disesuaikan dengan paradigma gerakan dari pengorganisir komunitas tersebut. Untuk media yang baru yang diambil dari tradisi-tradisi di luar komunitas yang bersangkutan, maka media tersebut bisa diterima.

Bisa dipastikan, untuk keberlangsungan pengorganisasian komunitas sangat tergantung pada media yang digunakan. Dan keberlangsungan media tergantung pada efektifitasnya untuk secara terus-menerus membuat komunitas bisa berkomunikasi, bertukar pendapat, dan memecahkan persoalan yang dihadapi. Jika tidak, maka media itu pelan-pelan akan ditinggalkan, mati, atau mungkin tetap ada tapi sudah kehilangan maknanya. Di masyarakat kita banyak sekali kegiatan atau tradisi yang bisa digunakan sebagai media pengorganisasian. Kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan seperti Yasinnan, Tahlilan, Shalawatan, atau mungkin pendalaman Al kitab yang biasanya dilakukan dengan rutin oleh sebuah komunitas tertentu. Ada pula kegiatan yang berkaitan dengan hobi seperti olahraga, bermain musik atau kesenian lainnya. Kemudian juga media pengorganisasian yang berupa penanganan kasus secara langsung. Dan media atau kegiatan kegiatan yang berkaitan dengan pengumpulan uang, seperti arisan dan menabung. Untuk arisan dan menabung, biasanya yang giat melakukannya adalah kaum perempuan. Idealnya, sebuah media yang digunakan adalah yang bisa menjadi ikatan bagi semua anggota komunitas, tidak sekedar media yang hanya bisa menyatukan kelompok tertentu.

Tabungan Sebagai Media Pengorganisasian

Menabung sebenarnya sudah dikenal di masyarakat manapun di pelbagai negara. Yang membedakan mungkin model dan prosesnya. Di masyarakat Indonesia, tabungan juga sudah dikenal baik di masyarakat desa maupun kota, baik yang dikelola secara individu maupun dalam kelompok. Tetapi yang banyak dikenal, tabungan seringkali hanya dijadikan alat untuk sekedar mengumpulkan uang, sebagaimanaarisan. Walaupun mungkin nantinya hasil yang akan diambil dari menabung tidak harus berbentuk uang. Media tabungan yang dikelola oleh masyarakat sendiri (non bank) dan para pengelolanya perempuan, bisa menjadi media yang efektif bagi pengorganisasian komunitas.

Karena relatif sudah dikenal di pelbagai golongan masyarakat, maka Konsorsium kemiskinan Kota (UPC) pun menggunakan tabungan sebagai salah satu media Pengorganisasian. Tentu saja tabungan yang digunakan tidak seperti yang secara konvensional dikenal, tapi ada modifikasi agar sesuai dengan strategi yang dibangun.

Tujuan dan Prinsip-prinsip Tabungan

Tabungan ini mempunyai tiga prinsip sebagai kekuatan yang saling terkait dan mendukung : (1) uang, (2) informasi (3) jaringan, Tiga prinsip ini sebangun dengan strategi yang dikembangkan oleh UPC, yaitu penguatan basis, advokasi dan pengembangan jaringan.

1. Mengumpulkan Uang

Mengumpulkan uang, bisa diartikan sebagai alat untuk “mempertahankan diri” tapi juga sekaligus untuk “menyerang”. Mempertahankan diri yang dimaksud, agar jika ada kebutuhan yang mendesak, rakyat miskin kota bisa memenuhinya sendiri dari uang yang ditabung dan tidak perlu mencari hutangan dari pelbagai pihak khususnya rentenir. Dengan demikian, mengumpulkan uang juga dimaksudkan mengikis tradisi menghutang yang telah berakar dan berkarat pada masyarakat kita, sekaligus menghalau kebe dscn9264. jpg radaan rentenir yang jumlahnya demikian banyak dan tiap hari berkeluyuran di kampung-kampung miskin. Mengumpulkan uang dan dikelola oleh komunitas sendiri juga bisa sebagai alat menyerang terhadap institusi perbankan modern yang acapkali tidak pernah melayani kepentingan rakyat secara luas, khususnya yang miskin. Selain itu, mengumpulkan uang dimaksudkan sebagai proses pembelajaran rakyat miskin dalam mengelola uang, dan melatih rakyat untuk tidak korup mulai dari hal-hal yang sangat kecil. Biasanya uang yang dikumpulkan akan dibagi dalam beberapa kategori tabungan, seperti untuk tabungan jangka pendek, jangka panjang, dan juga untuk uang kas kelompok. Jangka pendek misalnya untuk keperluan sekolah, berobat, bayar kontrakan, dll. Tujuan jangka panjang misalnya untuk renovasi rumah atau membeli tanah sebagai upaya untuk tidak digusur. Tujuan jangka panjang diintegrasikan dengan isu-isu yang yang menjadi fokus advokasi Jaringan Rakyat Miskin Kota.

2. Mengumpulkan Orang-berjaringan

Mengumpulkan orang dimaksudkan bahwa kelompok tabungan setiap waktu harus menambah jumlah anggota dan secara rutin mereka perlu berkumpul. Kekuatan rakyat miskin sangat bergantung pada jumlahnya yang besar, sehingga dengan jumlah yang besar dan terorganisir maka posisi tawar mereka akan tinggi. Jika jumlahnya kecil dan terpecah-pecah, maka rakyat miskin akan terus dipinggirkan. Pengembangan atau perluasan jaringan antar kampung kemudian menjadi sesuatu yang harus dilakukan. Proses ini juga biasa disebut dengan perluasan jaringan secara horisontal (horisontal networking).

3. Mengumpulkan Informasi dan Memecahkan Masalah

Mengumpulkan informasi/masalah dan sekaligus memecahkannya merupakan tahapan yang paling sulit. Tetapi proses ini yang membedakan dari model tabungan konvensional. Dalam tabungan ini, peran kolektor sangat besar dan menjadi titik kunci dalam keberhasilan pengorganisasian. Selain tugasnya menarik uang dari anggotanya yang dilakukan setiap hari ( karena tabungannya harian), kolektor juga punya kewajiban untuk mengumpulkan informasi atau masalah yang dihadapi masing-masing anggota tabungan maupun masalah komunitas. Idealnya, satu kelompok tabungan mempuny dscn4693. jpg ai sekitar 10 sampai 15 anggota, sehingga ketika kolektor jalan untuk menarik uang ke anggotanya, dia tetap punya waktu untuk ngobrol dan menggali informasi atau masalah dari anggotanya. Kemudian informasi atau masalah yang didapatkan dibicarakan dan dicari jalan pemecahannya dalam pertemuan rutin kelompok yang dihadiri oleh semua anggota dan pengurusnya seminggu sekali. Semua masalah diutarakan, kemudian dipilih mana yang diprioritaskan untuk dibahas lebih mendalam dan dicari jalan pemecahannya. Masalah itu mungkin soal banjir, ancaman penggusuran, anak anggota tabungan yang sakit atau tidak sanggup bayar biaya sekolah, sampah yang menyumbat saluran air, penyakit demam berdarah yang menjangkiti warga, anak yang tidak memiliki akte kelaihran, kekerasan dalam rumah tangga, dsb. Penyelesaian masalah bisa dimulai dari sesuatu yang pragmatis dan bisa dipecahkan dengan cepat hingga pengembangan ke arah yang transformatif. Misalnya, jika ada anggota keluarga anggota tabungan yang sakit sementara dia tidak punya biaya untuk berobat, maka secara sukarela anggota kelompok melakukan saweran atau mengumpulkan uang di samping juga diambilkan dari uang kas kelompok tabungan, untuk membantu yang sakit berobat. Tapi prosesnya tidak berhenti disitu. Setelah di rumah sakit, ada upaya untuk mendapatkan pengobatan secara gratis. Jika ini masih tidak bisa maka ada upaya advokasi karena sebagai warga negara Indonesia, rakyat miskin juga mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Jadi, tindakan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi bisa bermacam-macam dimulai dari sesuatu yang kecil yang bisa dilakukan oleh kelompok tabungan sendiri sampai penyelesaian secara struktural. Hingga April 2008, dari 35 kampung yang terorganisir, ada 58 kelompok tabungan terorganisir dengan 1.262 anggota.


Karakteristik Tabungan Perempuan Miskin Kota

1. Nabungnya harian. Pada umumnya pekerjaan rakyat miskin penghasilannya harian. Seperti dagang, penarik becak, ojek, buruh cuci gosok. Tapi jika ada warga yang mau nabung mingguan karena gajiannya mingguan, tetap diterima.

2. Jumlah uang tabungan tidak ditentukan, sesuai kemampuan anggota. Jika ada anggota yang tidak bisa nabung setiap hari tidak masalah, yang penting ikut pertemuan.

3. Ada uang kas kelompok. Disepakati besarannya oleh kelompok dan penggunaannya untuk apa saja. Setiap kelompok bisa beda-beda tergantung kebutuhannya.

4. Kolektor mendatangi anggota supaya tau kondisi anggota.

5. Kolektor tidak hanya mengumpulkan uang tapi juga mengumpulkan informasi dari anggota. Jenis informasi apa saja, bisa yang baik bisa juga yang jadi permasalahan. Ruang lingkupnya bisa tentang keluarga, kampung, daerah, sampai nasional.

6. Ada pertemuan rutin anggota untuk membahas dan memecahkan masalah.

7. Aturan sederhana dan mudah. Dibikin dan disepakati bersama anggota.

8. Memiliki tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek misalnya keperluan sekolah, berobat, bayar kontrakan, dll. Tujuan jangka panjang misalnya untuk renovasi rumah atau membeli tanah sebagai upaya untuk tidak digusur. Tujuan jangka panjang sebaiknya diintegrasikan dengan isu-isu yang yang menjadi fokus advokasi.

9. Uang disimpan oleh bendahara dan dikelola bersama dalam bentuk dana guliran (modal usaha bagi anggota kelompok tabungan).

10. Berjaringan antar kampung, antar kota, maupun antar negara. Jaringan dilakukan lewat pertemuan jaringan, tukar menukar informasi, tukar kunjung untuk saling belajar. Atau upaya advokasi bersama untuk isu-isu yang strategis seperti penggusuran, APBD, hak atas pelayanan kesehatan yang baik dan murah, hak mendaptkan pendidikan yang baik dan murah, dll.

11. Diutamakan yang menjadi pengurus perempuan. Pertimbangannya perempuan lebih hati-hati dalam memegang uang dan biasa mengatur keuangan rumah tangga. Di samping itu perempuan lebih banyak di rumah sehingga asumsinya perempuan lebih tahu tentang keadaan kampung daripada laki-laki.

sumber >> http://www.urbanpoor.or.id/id/kelompok-tabungan

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: