Tinggal Ong Silvia Ongkowijoyo Menari Seorang Diri di Kelasnya

Ong Silvia Onkowijoyo

[BATAM POS] ~ TIGA wanita asyik menari di pendapa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) di kawasan Wisma Mukti, Surabaya, Jawa Timur pada malam 7 Agustus 2008. Memakai atasan cheongsam merah dipadu rok lebar putih plus ikat kepala hitam berhias mutiara, mereka bergerak gemulai.

Sesekali gerakannya berubah tegas seiring suara guzheng dan seruling bambu.  Itulah tari karya Ong Silvia Ongkowijoyo bertajuk Negara Wanita. Tari tersebut mengisahkan kehidupan wanita dewasa etnis Mo Shuo. Gerakan yang gemulai dan tegas menggambarkan keberanian para wanita etnis itu.

Hampir semua penonton yang duduk lesehan di pelataran pendapa adalah mahasiswa STKW. Dengan khidmat mereka menyaksikan tari tersebut. Sebab, tari yang dipentaskan itu sebetulnya bukan sekadar pertunjukan, tapi ujian persiapan tahap kedua para mahasiswa STKW. Ujian itu merupakan modal menuju ujian akhir pada akhir Agustus ini. Seluruh mahasiswa seni sekolah tinggi itu pasti menghadapi ujian tersebut. Namun, malam itu hanya dua mahasiswa jurusan tari yang mengikuti. Salah satunya adalah Ong Silvia Ongkowijoyo.

Perempuan keturunan Tionghoa tersebut tampak serius mengikuti penampilan tari ciptaannya. Mengenakan atasan merah dan celana panjang putih, Silvia -panggilan akrabnya- berdiri sekitar dua meter dari pendapa. Tangan kanannya menggenggam handycam. Hampir 15 menit dia bergeming dari tempatnya berdiri. ”Mudah-mudahan lolos penilaian persiapan tahap dua ini. Saya yakin lolos kok. Latihannya sangat matang,” katanya setelah Negara Wanita selesai pentas.

Gencar Meleponi Agar Dosen Mau Mengajar

Wanita kelahiran Malang, 4 Mei 1975, tersebut merupakan satu-satunya mahasiswa jurusan tari angkatan 2004. ”Teman-teman seangkatan saya banyak yang mutus di tengah jalan,” ungkapnya saat ditemui usai ujian.

Ketika tercatat sebagai mahasiswa baru pada September 2004, Silvia tidak sendiri. Ada empat teman lain yang menemani. Tapi, seiring berjalannya perkuliahan, teman-temannya hilang satu per satu. Sampai menginjak semester empat, perempuan berambut panjang itu menjadi mahasiswa tunggal di angkatannya. ”Sedih juga kehilangan teman. Tapi, ya itu kan keputusan mereka,” katanya.

Jurusan tari STKW memang tak pernah punya banyak mahasiswa. ”Setiap angkatan tak pernah lebih dari sepuluh orang,” ungkap Silvia.

Seingat dia, angkatan 2005 sekitar empat sampai lima mahasiswa dan angkatan 2006 tak lebih dari tujuh mahasiswa.

Menjadi mahasiswa tunggal, menurut Silvia, ada untungnya. Bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Tidak enaknya, Silvia kerap ”ditelantarkan” karena dosen sering alpa mengajar. Namun, dirinya tak kurang akal. ”Dosennya ta’ teleponi terus sampai dia mau datang memberi kuliah,” tegasnya.

Mungkin jengah mendapat rentetan telepon dari Silvia, dosen-dosen itu mengajar juga. ”Sampai ada dosen yang bilang, bok sampek ngajar Silvia ndak datang. Diteleponi terus. Kecuali HP ditinggal di rumah (Jangan sampai tidak datang mengajar Silvia. Ditelepon terus. Kecuali HP ditinggal di rumah, Red),” paparnya.

Tidak Ambil Beasiswa Karena Protes

Meski kuliah sendiri, prestasi Silvia cukup membanggakan. Setidaknya, indeks prestasinya selalu di antara 3,2-3,5. Keseriusannya itu berbuah beasiswa prestasi dari rektorat. Namun, Silvia tidak mengambil beasiswa tersebut. Mengapa? ”Ada kebijakan, beasiswa prestasi akan dibagi rata kepada semua mahasiswa. Saya tidak setuju,” ujarnya.

Yang berhak beasiswa, kata dia, adalah mahasiswa yang rajin. Bila beasiswa dibagi rata, akan membuat malas. ”Mahasiswa yang tidak berprestasi akan malas, sedangkan yang berprestasi juga tidak bergairah. Wong itu kan hak dia kok dibagi-bagi. Makanya, sudahlah tidak usah diambil saja,” ungkapnya.

Tahun sebelumnya, Silvia mewakili jurusan tari STKW dalam Festival Kesenian Indonesia (FKI) di Bali. Di sana, dia bertemu berbagai mahasiswa seni dari seluruh Indonesia. ”Kami sempat membuat karya bersama. Saya banyak belajar di sana. Sangat menyenangkan,” ujarnya.

Kuliah Psikologi Akhirnya Menari

Ketika hijrah dari Malang ke Surabaya pada 1988, Silvia masuk Universitas Surabaya (Ubaya) jurusan psikologi. Untuk mengisi kegiatan di luar kuliah, Silvia yang memang hobi menari sejak kecil itu masuk sebuah sanggar tari Tionghoa di kompleks Plaza Surabaya. ”Saya sangat aktif. Bahkan, saya mendapat kesempatan training mewakili sanggar ke Shenzhen, Tiongkok, selama dua minggu,” jelas sulung dua bersaudara tersebut.

Pada 2003, dia mendapat beasiswa dari Beijing Academy. Kesempatan itu tak disia-siakan. Padahal, waktu itu, gadis berkulit kuning tersebut sudah bekerja di sebuah perusahaan sebagai HRD. Dia memutuskan keluar dari pekerjaanya dan memilih berangkat ke Beijing.

Setahun di Beijing Academy, dia mengambil jurusan tari tradisional Tiongkok. Namun, dia juga mendapat kuliah tambahan tari-tari Asia Tenggara. ”Tari Bali juga diajarkan di sana,” kata Silvia yang sudah hobi menari sejak usia empat tahun itu.

Di akademi tersebut, puteri pasangan Wahyudi Ongkowijoyo dan Yenny Pingnawati itu merupakan satu-satunya pelajar asing. Tak sedikit yang bertanya mengenai tari tradisional dari Indonesia. ”Yang membuat saya malu, saya tidak tahu banyak tentang tari tradisonal dari Indonesia. Jadi, ketika orang sana nanya, saya banyak menjawab tidak tahu. Makanya, saya bertekad harus belajar tari Indonesia,” ungkapnya.

Karena itu, ketika pulang ke Indonesia pada Juli 2004, Silvia langsung mencari informasi tentang sekolah tari di Surabaya. Dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jatim, dia mendapat dua pilihan. Unesa (Universitas Negeri Surabaya) dan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW). Silvia mengambil pilihan kedua karena Unesa lebih berorientasi pada pendidikan guru.

Belajar Dari Rekaman Kuliah

Di STKW, Silvia banyak belajar tari Jawa. Mulai tari tradisional Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Tari Jawa Timur lebih banyak porsinya. Pada awal kuliah, dia mengaku bingung. ”Tari Banyuwangi itu bagaimana, Remo itu apa, saya nggak tahu. Iringan gamelan saya juga nggak ngerti. Semester pertama, saya benar-benar belajar mulai nol ngepakno roso dengan musik dan gerakan tari tradisional.”

Dosen-dosen pengajarnya menyarankan agar Silvia sering mendengarkan kaset iringan tari di rumah. Tapi, mendengarkan saja tidak cukup. ”Saya masih tidak bisa membayangkan secara utuh sebuah tarian dari musiknya saja,” katanya.

Akhirnya, dia merekam perkuliahan praktiknya. Rekaman itu dipelajari di rumah. Langkah tersebut memudahkan dirinya belajar. Dengan melihat, Silvia tahu keserasian antara musik dan gerakan.

Tak mengambil beasiswa dari rektorat, juga melepas pekerjaannya di perusahaan, bukan berarti Silvia tak punya pendapatan. Sebab, kini dia mengajar di sanggar-sanggar tari. Tak hanya di Surabaya, tapi juga di Malang, Solo, hingga Jakarta. Di sanggar-sanggar itu, Silvia banyak mengajar tari tradisional Tiongkok. ”Bukan berarti ilmu dari STKW tidak terpakai. Setidaknya saya mendapatkan koreografinya,” katanya.

Mengajar sebanyak itu tak membuat kuliahnya terganggu. Silvia menyiasati dengan mengambil waktu mengajar mulai Jumat hingga Minggu. Dia masih punya cita-cita. Selepas S-1 di STKW nanti, dia akan melanjutkan S-2 di STSI Solo. Malah, dia sudah resmi terdaftar di sana. ”Saya daftar menggunakan ijazah S-1 psikologi. Ijazah S-1 STKW disusulkan nanti,” ungkapnya.

Keinginannya tak muluk-muluk. Dia hanya ingin ilmu tarinya meningkat. ”Ilmu itu akan membantu proses berkaryanya,” katanya. ”Bisa terus berkarya hingga tua sudah sangat memuaskan,” sambungnya. :: IGNA ARDIANI ASTUTI/2008

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: