Tinggal Setitik Kearifan Ulos Di Lautan Produksi Massal

Abu Turnip, penenun ulos tradisional

Dahulu ulos adalah sesuatu yang sakral dan sangat tinggi nilainya di dalam adat Batak. Ulos dirajini sepenuhnya dari benang yang diciptakan dari tumbuh-tumbuhan dan pewarna alami. Penenunannya pun dilakukan dengan tangan sehingga memakan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan satu lembar. Secara tradisional, ruang tenun terletak di kolong rumah-panggung penenun, yang secara tradisonal adalah perempuan. Dengan lahirnya mesin tenun, ‘ulos mesin’ menjadi lumrah dan murah. Begitu apik tenunan mesin-mesin itu sehingga ‘ulos halus’ bukan lagi sesuatu yang harus dibeli mahal. Inilah awal pudarnya kejayaan ulos asli hasil tenunan tangan para pengrajin tradisional. Dengan menurunnya minat akan ulos asli, menurun pula minat warga untuk menjadi penenun ulos tradisional. Para penenun ulung yang wafat terpaksa membawa pergi pula kearifannya karena langkanya ahli waris penerus. Dari masa ke masa, kearifan tenun asli Batak kian punah, beberapa jenis tenunan adat pun punah untuk selamanya. Salah satu dari segelintir pengrajin ulos tradisional yang masih bertahan adalah Abu Turnip (lahir di tahun 1940an). Sejak kecil ia menenun dan hingga kini masih menggunakan jenis alat-tenun sederhana warisan leluhur. Menenun ulos bukan lagi suatu ketrampilan melainkan sudah kearifan karena melembagakan pengetahuan yang terendap dari budaya tenun yang telah hidup ratusan tahun di dalam masyarakat setempat.

Abu Turnip menjelaskan langkah-langkah dalam menenun ulos. Benang yang Ia dapat dari suatu desa bernama Kabanjahe ini dikanji terlebih dahulu agar tegang dan tidak mudah kusut sewaktu digulung alat pemintal.  Benang dijemur seharian, baru digulung. Selanjutnya benang dijajar-ratakan pada alat tenun, baru kemudian dibuat motif. “Semakin bagus dan rumit motif, semakin mahal. Kesulitan pembutan ulos hanya terletak pada benang yang harus diangkat satu per satu untuk menciptakan motif,” jelasnya.  Ia biasa mengerjakan sekitar lima helai kain ulos dengan motif sederhana dalam sebulan.

Dalam memasarkan hasil tenunannya, Turnip sudah memiliki mitra. “Semua ulos yang kami buat dijual ke tauke ulos di sini, kami tidak perlu repot-repot lagi, karena tauke yang langsung menjualkannya,” ungkapnya.

Ulos buatan Turnip biasa dijual oleh pemilik toko dengan harga antara 150 ribu hingga 200 ribu Rupiah. Purba (70), pedagang ulos di Pajak Sambu mengatakan hal yang serupa. ”Tapi ada juga ulos yang memiliki harga sangat tinggi sampai dengan 15 juta,” ujarnya. Bisanya ulos seperti ini dibuat dengan benang seratus yang didatangkan dari India. Motifnya lebih rumit dan indah, ukurannya yang sangat besar seperti penggabungan tiga kain ulos. “Ulos seperti itu di peruntukkan raja-raja Batak dahulu,” ujar Purba. Kalau mau murah, tentu ulos buatan mesin. “Harga mulai 20 ribu saja,” katanya lagi.

Ulos memiliki banyak jenis, ukuran, cara pemakaian, dan tujuan pemakaiannya. Di antaranya Ulos Sadum, Ulos Panusaan, Ulos Mangiring, Ulos Bintang Maratur, Ulos Sirara, Ulos Sitoluntuho, Ulos Bolean, Ulos Sumbat, Ulos Sibolang, Ulos Suri-suri, Ulos Tumtuman, Ulos Ragi Hotang, Ulos Ragi Hidup, Ulos Ragi Pane, Ulos Ragi Cantik, Ulos Ragi Sapot, Ulos Ragi Pangko, Ulos Hati Rongga, Ulos Runjat, Ulos Djobit, Ulos Simarindjamisi, dan seterusnya.

Keanekaragaman nama ulos tersebut dapat saja berbeda penyebutannya dari satu daerah ke lainnya. Namun pada dasarnya dapat diklasifikasikan atas bentuk gorga (ragam motif/hias), ukuran, serta tujuan pemakaiannya. Berdasarkan cara pemakaiannya, ulos dapat digunakan dengan cara abit godang (menggulungkan ulos ke badan untuk menutup dada sebagai pakaian), sarung (sebagai penutup bagian bawah), penutup kepala, dan diselempangkan di dada.

Berdasarkan tujuan pemakaiannya, misalnya Ulos Ragi Hotang digunakan untuk mengulosi orang yang kurang berhasil dengan harapan agar Tuhan memberi kebaikan padanya. Ulos Sibolang juga sering digunakan dalam upacara kematian adat Batak. Ulos Sadum sering digunakan untuk pesta adat pernikahan suku Batak dan masih banyak lagi.

Pada perkembangannya, ulos juga telah diberikan kepada orang non-Batak yang dapat dimaknai sebagai tanda penghormatan kepada si penerima ulos. Ulos sebagai salah satu warisan budaya Batak dianggap penting untuk terus dikembangkan agar dapat mendunia. Ulos bukan sekadar kain tenun melainkan suatu hasil kearifan lokal yang mengantar isyarat kasih sayang yang menghangatkan sanubari. (disarikan dari blog Sidriani Handayani Desky – yanniedesky.multiply.com)

You may also like...

1 Response

  1. 03/01/2009

    Tinggal Setitik Kearifan Ulos Di Lautan Produksi Massal…

    Dahulu ulos adalah sesuatu yang sakral dan sangat tinggi nilainya di dalam adat Batak. Ulos dirajini sepenuhnya dari benang yang diciptakan dari tumbuh-tumbuhan dan pewarna alami. Penenunannya pun dilakukan dengan tangan sehingga memakan waktu yang san…

Leave a Reply

%d bloggers like this: