Tukar-hati Perempuan Korban Tragedi 1965, Tuturan Baru Sejarah

Pengantar dari Tim Penulis (Lingkar Tutur Perempuan):

Pada 24 Juli 2005, Lingkar Tutur Perempuan mendapat kehormatan menjadi saksi sejarah reuni para perempuan korban Tragedi 1965 di Yogyakarta. Acara yang diberi nama “Temu Rindu Menggugat Senyap” ini berlangsung selama kurang lebih 5 jam tanpa ada gangguan yang berarti dan membuka ruang pengungkapan kebenaran tentang salah satu tragedi kekerasan paling berdarah di negeri ini. Di bawah ini adalah catatan pengamatan kami selama acara berlangsung.

Membuka Ruang Jumpa dan Mengungkap Rasa

Sekitar pukul 10.00 pagi, hari Minggu, 24 Juli 2005, satu per satu hadirin memasuki pelataran SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia), Bugisan, Yogyakarta. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan lanjut usia yang berjalan perlahan dari pelataran parkir yang cukup luas menuju meja penerima tamu. Mereka kemudian disambut oleh sejumlah perempuan muda, petugas among tamu, dan dibimbing memasuki pendopo berukuran sekitar 20×20 meter. Di pendopo sudah tergelar tikar-tikar untuk duduk lesehan dan tersedia pula belasan kursi untuk para perempuan yang tidak bisa lagi duduk lesehan.

Para perempuan lanjut usia itu adalah korban tragedi 1965 yang berasal dari berbagai kota di Jawa, antara lain Yogyakarta, Solo, Semarang, Purwokerto, Cilacap, Kebumen, Klaten, Boyolali, Blitar, Surabaya, dan Jakarta. Mereka datang dengan bus-bus sewaan, kendaraan-kendaraan pribadi, dan kereta api, ada yang dalam kelompok kecil, ada pula yang diantar bapak-bapak korban dari daerah masing-masing. Para ibu ini, yang tertua diantara mereka berusia 96 tahun, hadir tanpa embel-embel organisasi, baik organisasi di masa lalu maupun di masa sekarang. Mereka hanya punya satu tujuan: berjumpa teman-teman yang telah bertahun-tahun terpisah.

Begitu para ibu ini berjumpa dengan kawan-kawan lama, untuk beberapa saat yang tampak dan terdengar hanyalah mereka yang berpelukan erat, hamburan pertanyaan bercampur tangis, ujaran lega bersahut-sahutan dalam bahasa Jawa pun Indonesia, dan sentuhan hangat di wajah dan bagian tubuh masing-masing untuk memastikan bahwa kawan yang dihadapi memang hadir dalam kenyataan.

Di tengah keriuhan ungkapan rasa rindu, puluhan perempuan muda seperti terhenyak. Mereka yang bertugas sebagai among tamu tidak tahu persis harus berbuat apa selain menyaksikan perjumpaan bersejarah ini dengan rasa haru. Sehari sebelumnya kawan-kawan muda yang berasal dari jaringan Syarikat Indonesia dan fakultas psikologi beberapa universitas di Yogya mengikuti lokakarya Trauma Healing yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Sejarah dan Etika Politik (Pusdep) di Universitas Sanata Darma. Beberapa dari mereka sudah pernah bertemu dengan korban tragedi 1965 dalam kegiatan-kegiatan sosial Syarikat yang bertujuan mewujudkan rekonsiliasi antara para korban dan pelaku, khususnya dari kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU). Tapi ada juga yang baru pertama kali bertemu muka dengan para korban. Tak terbayangkan sebelumnya bahwa suasana pertemuan akan menjadi sedemikian cair dan mengharukan!

Menjelang pukul 11.00, lebih dari 300 perempuan lanjut usia sudah memenuhi pendopo, sedangkan di sisi-sisi pendopo berkumpul bapak-bapak dan hadirin lain yang diundang panitia. Para eks-tapol LP Plantungan segera saja berkumpul di sudut kanan belakang pendapa saling berpeluk-cium, menitikkan air mata, sambil mensyukuri,“Oalah… kowe ki isih urip to. Tak daraki wis mati!” (Oalah kamu ini masih hidup to. Aku kira sudah mati!). Lalu, mereka saling bertukar kabar singkat tentang kehidupan masing-masing selepas pengasingan. Sejak pembebasan massal 1978/79, ini adalah kali pertama mereka bisa berkumpul kembali. Seorang perempuan eks-Plantungan memberi tahu rekan-rekannya, ia sekarang sudah punya tiga anak. Rekan-rekannya terharu. Mereka tak menyangka si ibu masih bisa melahirkan anak setelah mengalami penyerangan seksual selama masa interogasi. Sementara itu, istri-istri dan anak-anak eks-tapol yang tak punya teman khusus yang ingin mereka jumpai mendapat pengalaman baru berjumpa langsung dengan perempuan-perempuan yang selama ini hanya mereka dengar namanya lewat cerita. “Senang berjumpa banyak teman senasib,” kata seorang ibu.

Acara resmi dibuka dengan sepatah kata dari 2 pembawa acara, Bondan Nusantara, seniman ketoprak dari Bantul yang juga anak korban, dan Ruth Indiah Rahayu (Yuyud), salah satu aktifis Lingkar Tutur Perempuan dari Jakarta. Mereka menjelaskan maksud diadakannya acara ini dan mempersilakan panitia memberikan sambutan. Berturut-turut ketua panitia acara, Ibu Sumarmiyati, eks-tapol dari Yogyakarta, dan Imam Aziz, ketua Syarikat Indonesia, menyampaikan ucapan selamat datang singkat. Setelah acara formal dibuka, ibu-ibu lansia secara bergantian membacakan puisi dan menyanyi dengan iringan permainan organ tunggal bersama dengan seorang penyanyi perempuan muda. Lagu-lagu yang didendangkan, keroncong dan pop, kebanyakan berasal dari periode 60an. Ada pula seorang simbah mempersembahkan tembang Jawa dengan suara yang masih merdu. Kami duga dulu pastilah suaranya jauh lebih bagus. Mungkin ini untuk pertama kalinya sejak puluhan tahun ia nembang lagi di depan umum. Beberapa anak korban juga mendapat kesempatan membacakan puisi. Pada saat makan siang kelompok ketoprak Mas Bondan menampilkan sebuah fragmen tentang tragedi 1965. Sayang sound system kurang memadai untuk gedung seluas pendopo itu sehingga ucapan-ucapan para pemain kurang terdengar. Ditambah lagi dengan riuhnya suara ibu-ibu yang asyik ngobrol dengan kawan-kawannya.

Yang paling menarik dari rangkaian acara kesenian ini adalah ketika sang penyanyi profesional membawakan lagu Jawa yang cukup rancak sehingga ibu-ibu tergerak untuk berjoget! Siapa anggota Gerwani atau yang dicap Gerwani masih berani menari dan menyanyi di acara-acara publik setelah geger 65? Ada seorang ibu pemeran Petruk di LP Bulu yang ‘memprovokasi’ ibu-ibu lain untuk joget. Lalu, muncul ibu pemeran Gareng yang asyik dengan gaya jogetnya yang kocak. Tampak bagaimana beberapa ibu yang memang penari masih lentur melenggak-lenggok gaya tradisional. Spontan kawan-kawan muda dari pasukan among tamu bergabung dengan para ibu yang sedang asyik berjoget. Sungguh suatu pemandangan yang mengundang tawa sekaligus rasa lega!

 

Sambil menyaksikan ibu-ibu menari dan berjoget di pendapa SMKI kami berusaha memahami bagaimana para perempuan ini merepresi ekspresi seninya selama ini. Kami dengar banyak di antara para ibu yang hadir dulunya adalah aktivis Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat) atau setidaknya tidak pernah ketinggalan ikut dalam acara-acara kebudayaan di tingkat kampung. Tapi, seperti diungkapkan seorang ibu: siapa yang bisa melarang kecintaan pada seni? Di LP Bulu Semarang di mana ia pernah ditahan, para tapol perempuan tetap ketoprakan, biarpun yang menonton hanya warga LP. Karena tinggi tubuh dan mancung hidungnya, ia selalu diposisikan sebagai Petruk. Carmel Budiardjo juga menceritakan dalam bukunya bagaimana para tapol di LP Bukit Duri diam-diam menghibur diri dengan ketoprak.

Acara tidak terpusat di pendopo saja. Para ibu tidak henti-hentinya mencari kawan-kawan mereka, berjalan dari satu sisi pendopo ke sisi lainnya, berbincang-bincang, berkelompok di bagian-bagian lain seluruh areal SMKI. Ketika salah satu dari kami antre memakai kamar kecil, seorang perempuan setengah baya menghampiri seorang perempuan tua bertubuh pendek agak gemuk dengan rambut sudah memutih semua. Si perempuan setengah baya memegangi pundak si ibu tua sambil berkata dalam bahasa Jawa yang artinya kira-kira seperti ini, “Ibu masih ingat saya? Saya……(menyebut namanya). Saat di Plantungan dulu saya masih semuda mbak ini (sambil menunjuk ke arah penulis)”. Si ibu tua langsung memegang pipinya dan berusaha memastikan kebenaran ucapannya, “Apa iya kamu itu? Kok beda sekali. Wah, kamu juga masih hidup ya?” Lalu si perempuan setengah baya bercerita tentang perempuan lain yang menurutnya sudah mati. Mereka berdua lantas berpelukan dan bertangisan.

Mereka juga berusaha mengenal kawan-kawan muda yang bukan korban maupun anak korban dan menceritakan pengalaman mereka. Seorang ibu yang berasal dari Semarang, bertanya kepada penulis, “Anak ini putra korban yang tinggal di daerah mana?” Ketika penulis menjawab bukan anak korban, ia berkata, “Oh… syukurlah kalau begitu”. Lantas ia bercerita bahwa dia adalah isteri tentara yang ditembak mati. Si ibu ini hidup bersama enam anaknya. Saat suaminya ditangkap, anak terbesar masih kelas 4 SD sementara anak terkecilnya berusia 1 bulan. Rumahnya hampir saja dibakar massa yang juga tetangga-tetangga sekitarnya. Ia berusaha bertahan bersama keenam anaknya, tidak keluar dari rumah tsb. Akhirnya, massa tidak jadi membakar rumahnya. Ia berujar, “Pokoknya, peristiwa 1965 itu kejam sekali, tentara itu kejam sekali, tidak punya perikemanusiaan”. Lalu ia menunjuk ke seorang ibu berkulit hitam, bertubuh pendek dengan punggung tampak membungkuk, sambil berucap, “Ibu itu badannya habis disiksa. Ya diperkosa berkali-kali dan punggungnya dipukuli dengan bambu hingga hancur. Habis paling tidak satu bambu hancur untuk memukuli punggung ibu itu”. Lantas ia melanjutkan beberapa cerita yang cukup menggetarkan hati. Ia pun menutup kisahnya dengan ungkapan, “Ibu ini cukup beruntung karena tidak mengalami hal itu. Ibu hanya harus berusaha apa saja agar anak-anak bisa hidup dan terus sekolah”.

Acara kesenian yang berlangsung kurang lebih 2 jam diakhiri dengan sambutan ibu-ibu mewakili delegasi dari kota masing-masing. Selain memperkenalkan diri, ibu-ibu ini juga menyatakan keinginan mereka untuk berkumpul lagi dan membicarakan soal-soal yang berkenaan dengan masalah mereka sebagai korban. Kalau dalam bahasa ibu-ibu dari Solo, “Ini nanti kesimpulannya apa, mbak?” Kami hanya bisa menyampaikan bahwa bukan kami yang akan membuat ‘kesimpulan’ tetapi ibu-ibu korban sendiri. Diantara ibu-ibu wakil daerah ini juga ada yang menyampaikan kesaksian agak panjang tentang penderitaan yang dialaminya. Ibu-ibu memang masih butuh banyak ruang untuk menuturkan pengalaman hidupnya.

Dua kawan dari kelompok non-korban, Ita F. Nadia dari Komnas Perempuan dan Atnike Sigiro dari Lingkar Tutur Perempuan juga diminta memberikan sambutan singkat sebagai wakil dari generasi muda. Tiga hal yang ditekankan kedua kawan ini adalah: pertama, bahwa tragedi 1965 bukan hanya persoalan korban tragedi itu sendiri tetapi juga persoalan kita semua sebagai bangsa. Kedua, pentingnya bagi generasi muda untuk memahami pengalaman para pendahulunya baik sebagai korban maupun sebagai orang-orang yang aktif dalam pergerakan supaya tumbuh suatu kesadaran sejarah baru yang lebih sehat. Dan yang terakhir, perlunya korban dari berbagai kasus dan periode untuk bertemu dan bertukar pikiran agar ada pemahaman bersama tentang kejahatan yang dilakukan rejim Orde Baru terhadap rakyatnya.

Kurang lebih pukul 2 siang pembawa acara memutuskan untuk menutup acara. Ibu-ibu yang sudah sangat lanjut usianya mulai tampak kelelahan, dan rombongan dari luar Yogyakarta harus segera pulang agar tidak kemalaman di jalan. Ibu-ibu kemudian memimpin acara penutupan dengan membentuk lingkaran yang terbentuk dari jajaran para korban dan anak-anak muda yang saling bergandengan dan menyanyikan lagu-lagu perpisahan. Sulit untuk sama sekali menghentikan acara karena ibu-ibu dan kawan-kawan muda tak putus-putus berdendang. Nyanyian baru sama sekali berhenti ketika seorang kawan muda dari jaringan Syarikat tiba- tiba jatuh pingsan. Iin, begitu ia biasa dipanggil, adalah putri seorang anggota Banser dari Kebumen yang pernah terlibat dalam pembantaian orang-orang yang dianggap terlibat G30S. Sejak ia bergabung dengan Syarikat ia ikut mendampingi para perempuan korban tragedi 1965. Anak yang pada dasarnya penggembira dan ramah ini rupanya tak tahan menanggung rasa bersalah setiap kali ia mendengarkan kisah-kisah korban yang memang memilukan.

Segera para ibu yang asyik bernyanyi menghampiri Iin yang sudah siuman dan menangis sesenggukan di pelukan Hersri Setiawan, sastrawan dan eks-tapol Pulau Buru. Ibu-ibu ini menghibur Iin dengan mengatakan bahwa bukan dia yang harus bertanggung jawab terhadap tragedi di masa lalu itu. Seorang ibu dari Blitar mengatakan, “Sudah jangan menyalahkan diri sendiri. Yang penting sekarang kamu tahu bahwa kami-kami ini bukan pelacur, perempuan bejat yang membunuhi para jendral.”

Kejadian ini membuat kami berpikir lebih jauh tentang peliknya soal berbagai upaya pengungkapan kebenaran, rekonsiliasi dan pemulihan di tingkat akar rumput. Dalam wacana pelanggaran HAM kita berpegang pada kategori-kategori ‘korban’ dan ‘pelaku’ sementara di luar kategori-kategori itu ada anggota keluarga, sanak saudara, yang mungkin tidak tahu menahu atau tidak mau tahu tentang pengalaman ‘korban’ dan ‘pelaku’. Seperti yang dialami kawan-kawan dari Syarikat, mereka pun harus dipersiapkan untuk menghadapi kenyataan sejarah yang paling pahit dalam kehidupan mereka agar ketika kita bicara tentang rekonsiliasi menjadi jelas siapa yang sesungguhnya perlu berdamai dengan apa/siapa.

Kisah di Balik Ruang Jumpa

Gagasan acara “Temu Rindu Menggugat Senyap” muncul di kalangan para ibu eks-tapol di Yogyakarta sejak beberapa bulan lalu. Mereka kemudian membentuk panitia yang diketuai Ibu Sumarmiyati (Bu Mamiek) dengan koordinator acara Bondan Nusantara. Kepanitiaan jadi meluas dengan terlibatnya kawan-kawan dari kelompok Syarikat dan jaringannya, serta para peneliti dari Pusdep Sanata Dharma. Sejak awal panitia ini sudah sepakat bahwa acara akan dilangsungkan tanpa perlu mengatasnamakan satu kelompok/organisasi korban atau kepentingan politik tertentu. Tujuan pertemuan semata-mata membuka ruang bagi para ibu untuk saling melepas kangen dan mengatasi ketakutan berbicara. Banyak perempuan korban yang baru mulai bangkit dari kesenyapan panjang sehingga panitia tidak mau membebani acara ini dengan terlalu banyak agenda.

Awalnya yang berniat untuk bertemu hanya perempuan-perempuan korban dari Yogyakarta saja dan jumlah yang diperkirakan hadir 150 orang. Ternyata, berita menyebar sampai ke daerah-daerah lain dan mendapat sambutan luar biasa. Sampai satu hari sebelum acara diperoleh kabar akan ada 300 orang yang hadir. Kenyataannya, jumlah ibu-ibu yang datang, berikut para pengantar dan hadirin lainnya, mencapai 500 orang. Beberapa petugas among tamu harus berbagi satu nasi bungkus dengan 2-3 kawan lain untuk menahan rasa lapar. Untunglah ibu-ibu yang mengurus konsumsi cukup sigap bergerak sehingga baik peserta maupun panitia akhirnya bisa menikmati hidangan makan siang dengan menu sederhana.

Menariknya, dalam mempersiapkan acara panitia tidak menghadapi hambatan yang berarti dari pihak penguasa, tapi justru dari kelompok-kelompok lain yang ingin menggunakan kesempatan ini untuk agenda politik tertentu. Bahkan sempat beredar proposal acara dengan nilai dana yang jauh berbeda dan menimbulkan kebingungan di kalangan pihak-pihak yang sudah bersedia membantu kelangsungan acara ini. Dari kedua pembawa acara, Bondan dan Yuyud, didapat juga cerita di balik panggung. Ada tetamu tertentu yang hadir begitu terkesan melihat besarnya jumlah perempuan yang hadir dan ingin ‘memberi arahan politik’ versi masing-masing. Para tamu ini meminta waktu khusus dari MC tapi setelah berkonsultasi dengan panitia diputuskan bahwa waktu diutamakan untuk para ibu-ibu untuk mengungkapkan keinginan mereka, apa pun bentuknya. Di sinilah kebijaksanaan Bu Mamiek sebagai ketua panitia, dan Syarikat sebagai penyelenggara di lapangan, patut diberi acungan jempol sehingga tidak terjadi ketegangan yang merusak suasana.

Setelah acara usai, panitia berkumpul untuk membicarakan kesan-kesan yang diperoleh dan merencanakan kegiatan selanjutnya. Dari catatan kesan dan pesan yang ditulis di secarik kertas yang diedarkan panitia disimpulkan bahwa para perempuan korban ingin agar acara seperti ini diadakan kembali, paling tidak setahun sekali. Bagi mereka, acara ini sangat berarti terutama bagi mereka yang sudah sakit-sakitan dan berusia sangat lanjut. Bahkan, saat panitia mengontak beberapa perempuan yang akan hadir di acara ini, ada sekitar 4 orang yang sudah meninggal walaupun saat kontak pertama kali (hanya berselang 2 bulan sebelumnya) mereka masih hidup.

Beberapa kawan yang baru pertama kali bertemu korban mengungkapkan kelegaannya karena para ibu ternyata tidak mencurigai mereka dan bersedia berbincang-bincang dengan hangat. Memang tidak semua ibu dengan serta merta mau bercerita; banyak dari mereka yang hanya ingin melepas rindu dengan kawan-kawan mereka di penjara dahulu. Tapi paling tidak dengan bertemu kawan-kawan muda ini para ibu menjadi lebih percaya diri bahwa kisah bohong tentang kejahatan mereka yang diciptakan Orde Baru akan mendapat sanggahan justru dari generasi muda.

Kami juga membicarakan kemungkinan membuka ruang-ruang yang lebih kecil di wilayah yang berbeda-beda dimana ibu-ibu bisa mencurahkan isi hatinya, menuturkan pengalaman hidup yang selama ini mereka tutup rapat. Kegiatan ini sebenarnya sudah dimulai oleh jaringan Syarikat dan Lingkar Tutur Perempuan di berbagai kota. Tapi diperlukan lebih banyak lagi ruang-ruang bercerita untuk perempuan korban. Selain untuk keperluan pemulihan dan penguatan bagi korban, ruang-ruang seperti ini akan membantu generasi muda merekonstruksi sejarah gerakan perempuan yang digelapkan selama ini.

Dari acara di Yogya ini kami juga bisa melihat bagaimana kesenian menjadi sangat penting bagi proses pemulihan dan penguatan. Sebagian besar korban bercerita bahwa di masa sebelum tragedi 1965 terjadi mereka terlibat dalam berbagai kegiatan kesenian di tingkal lokal sampai nasional. Ketika mereka dipenjara, kegiatan kesenian pula yang membuat hari-hari mereka terasa lebih ringan. Kiranya inilah tugas organisasi-organisasi korban dan kemanusiaan, untuk membayangkan kegiatan-kegiatan kesenian serupa apa yang bisa menjadi medium pertemuan berbagai kalangan untuk membicarakan tragedi ini.

Yogyakarta, 25 Juli 2005

Tim Penulis Lingkar Tutur Perempuan

Ayu Ratih
B. I. Purwantari
Th. J. Erlijna

sumber >> www.syarikat.org

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: