Tulang Rusuk Itu Ternyata Tulang Punggung Keluarga

Sepenggal berita di sebuah stasiun televisi beberapa waktu yang lalu mengisahkan seorang perempuan setengah baya bernama Ina (Ibu) Fatma, seorang penjual ikan keliling di belahan Indonesia Timur. Pekerjaan ini dilakukannya setiap hari untuk menghidupi anak-anaknya, sebab si suami memutuskan untuk menikah lagi, sehingga tidak mungkin ia hanya mengandalkan suami yang telah memiliki keluarga lain. 

Sementara cerita lain datang dari tanah Jawa, kali ini mengangkat kisah seorang ibu muda, sebut saja Sri. Ia bekerja menjadi pembantu rumah tangga, dengan alasan yang sama, membutuhkan biaya untuk anak dan keluarganya, apalagi dengan status perkawinannya yang tidak jelas, gara-gara si suami minggat entah ke mana dan selama bertahun-tahun tidak pernah memberikan kabar. 

Ironi datang ketika beberapa orang menyerukan bahwa gender tidak perlu dipermasalahkan, problema gender dianggap menjadi topik yang sudah usang, atau alasan yang bersifat lebih menenangkan bahwa manusia (perempuan dan laki-laki) telah memiliki tempatnya sendiri dan sudah setara sejak dahulu di mata Tuhan.

Namun di sini kita tidak berbicara tentang hakikat manusia, tetapi apakah realita di sekitar kita menjawab kesetaraan itu sudah terlaksana atau belum. Berkoar-koar tentang hakikat manusia itu mudah, “anak kecil juga tahu!” Yeah, equality lies in you! Kesetaraan gender itu memang telah tertera dalam konstruksi alam made in Yang Maha Kuasa (dan aku sama sekali tidak pernah memiliki keraguan tentang ini). Tetapi sudahkan hak tersebut berpihak pada Ina Fatma, Sri, dan sekian juta perempuan lain di Indonesia, terutama dengan kondisi Indonesia (sosial, politik, ekonomi, budaya) yang masih labil saat ini, sebab pada praktiknya hasilnya nihil. 

Di mana saat di sana-sini perempuan bekerja dianggap sebagai pelengkap, bukan the hero dalam keluarga, ada suatu kebohongan publik saat masyarakat menyangkal bahwa sebenarnya banyak perempuan justru bukan hanya pengelola rumah tangga, akan tetapi ia berperan sebagai pencari nafkah, khususnya pada masyarakat dengan taraf perekonomian yang masih rendah.

Sebuah kebohongan dalam hubungan perkawinan saat perempuan diposisikan sebagai warga kelas dua. Perempuan dipandang sebagai kaum yang lemah (nurut binti nrimo), naturalisasi yang membuat perempuan rentan dengan deraan diskriminasi serta ketidakadilan perlakuan gender, seperti halnya kisah-kisah klise Ina Fatma dan Sri diatas yang berbumbu pengingkaran komitmen yang telah dibuat sebelumnya, dan tindak poligami itu, tidak lebih dari justifikasi (pembenaran) dari ketidaksetiaan. 

Ina Fatma mungkin sampai sekarang masih berkeliling menjajakan ikannya demi mendapatkan beberapa rupiah agar dapur tetap mengepul dan ada biaya sekolah untuki anak-anaknya. Sedangkan Sri akhirnya membeli surat cerai, daripada mengharap laki-laki yang dulu pernah dipanggilnya sebagai suami itu kembali. Hidup terus berjalan dengan pilihan-pilihan itu. Sebuah kehidupan keras yang dijalani perempuan-perempuan tulang punggung keluarga yang tidak lebih hanya diakui sebagai makhluk yang berasal dari tulang rusuk lelaki yang tersia- siakan. 

– Animusparagnos –
http://animusparagnos.wordpress.com

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: