[unduh] Komunitas Seniwati Bali Rombak Cara Lukiskan Perempuan

[BALIPOST] – Persoalan domestik, seksualitas, hingga ilusi menjadi subject matter komunitas pelukis “Seniwati Gallery of Art by Woman” Bali.Inilah pameran kelompok yang menandai ditutupnya Seniwati Showspace,Ubud pada bulan Oktober 2002.

Sejarah terus-menerus menunjukkan bahwa daya tarik tubuh dan kecantikan perempuan seringkali menjadi perangsang daya cipta perupa laki-laki. Ingatlah bagaimana mewahnya pemujaan Salvador Dali kepada Gala, istrinya. Ingat juga bagaimana Picasso meraup sebanyak mungkin perempuan sepanjang hidupnya. Belum lagi ribuan perupa di muka bumi ini, yang menempatkan perempuan sebagai subject matter, berjejer dari zaman Yunani hingga hari ini. Oleh pengesahan religiusitas atau kekuatan moral, atau malah oleh seperioritas kebudayaan, perempuan nampaknya diposisikan hanya sebagai sumber inspirasi perupa laki-laki.

Tetapi lain halnya bagi komunitas perempuan pelukis di “Seniwati Gallery of Art by Women”, Ubud, Bali. Kelompok perempuan pelukis yang berdiri sejak 1991 itu agaknya ingin memposisikan perempuan sebagai subjek seni lukis, bukan sebagai objek seni lukis. Itu sebabnya setiap tahun, sejak berdirinya galeri itu, rata-rata terjadi 12 kali pameran. Belum lagi pameran yang diselenggarakan di luar showspace-nya, di dalam dan luar negeri. Organisasi yang anggotanya dari berbagai kultur dan latar pendidikan — akademis dan otodidak — itu telah membuktikan bahwa kehadirannya begitu penting dalam pengayaan pertumbuhan seni rupa di Bali, khususnya.

Showspace, sebagai salah satu ruang aktivitas mereka, terutama untuk pameran, pada tahun 2002 mengalami nasib buruk: masa kontrak bangunannya telah habis. Konon, harga kontrakannya kini naik lima kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya. Kelompok perempuan yang dipimpin Mary Northmore itu tak sanggup lagi mengontrak ruang yang harganya melambung itu. Mereka lalu berkeputusan untuk memusatkan perhatiannya pada aktivitas di Galeri Seniwati saja yang meliputi kegiatan anak-anak sanggar Seniwati Muda, pameran di luar negeri, pengelolaan perpustakaan, serta mengurus koleksi lukisannya.

Sanggar Seniwati – Sanggar Seni oleh Wanita di lokasi lamanya di Ibud (bawah). Contoh karya dan anggota sanggar di depan galeri mereka (atas).

Pameran bertajuk “Inilah Diri Saya” yang berlangsung sepanjang Oktober 2002 seperti ingin memperlihatkan siapa sesungguhnya mereka. Duapuluh empat perempuan pelukis itu masing-masing, melalui lukisannya, berkisah tentang dirinya. Mengenai wilayah domestik, memori, seksualitas, dan ilusi.

Ida Ayu Anom, misalnya, mengangkat tema sembahyang. Lukisan monokromatik itu selain secara visual ada dalam format seni lukis tradisional Bali, secara tematik juga ada dalam format sosial tradisional Bali. Selain Ida Ayu Anom yang mengangkat tema sembahyang, juga ada perempuan pelukis lain yang mengangkat tema yang bertalian dengan tugas rumah tangga sehari-hari: mengurus dapur hingga mengurus anak dan suami. Mereka nampaknya tidak mempersoalkan peran gender yang telah dikonstruksi secara kultural. Tak ada semacam pemberontakan untuk, misalnya, mempertukarkan tugas domestik itu dengan laki-laki, sekalipun mereka nampaknya tidak menghayati realita itu sebagai ketentuan Tuhan. Mereka yang mengusung konsep ini antara lain SK Hanny, Gusti Ayu Yasning, Gusti Ayu Nathiharimini, Ni Wayan Rotiani, Gusti Agung Ayu Istri Agung, Ida Ayu Anom, Ni Putu Ani, dan Cok Istri Mas Astiti. Di lain sisi ada juga perempuan pelukis yang secara terbuka berbicara soal seksualitas. I Gusti Ayu Murniasih misalnya meminjam hewan berkaki empat sebagai wakil dirinya dalam urusan kehidupan seks. Sedangkan Ni Nyoman Sri Rahayu dan Syeni Setiayu membungkusnya dengan simbol yang lumrah: merpati dan bunga.

Potret diri sebagai catatan yang paling jujur tentang kondisi batin dan alam pikiran pelukisnya nampak pada lukisan Muntiana Tedja, Dewi Tjahjati, Ni Nyoman Sani, dan Taeko (perempuan berkebangsaan Jepang). Empat perempuan pelukis ini berkisah tentang dirinya melalui tampang yang disalin ke kanvas dengan imbuhan benda-benda sebagai tanda yang mengitari dirinya: kuas, ikan, padi, bahkan jeruji.

Yang juga menarik adalah munculnya tema yang bertalian dengan memori dan ilusi. Koni Herawati, Gusti Ayu Suartini, Ni Made Sriasih, dan Nisak Indri Khayati berkisah tentang masa kanak-kanak, perkawinan, bahkan ilusi tentang laki-laki yang datang pada malam jumat.

Perempuan pelukis yang tergabung dalam Seniwati Bali itu, jelas tak ingin mengekploitasi tubuh sebagai perangsang daya cipta atau sumber inspirasi lukisan, sebagaimana yang layak dan banyak dilakukan laki-laki perupa. Para perempuan perupa ini justru berkisah tentang diri (yang perempuan) yang telah memasuki wilayah persoalan batin sekaligus persoalan sosial. Bolehlah kita percaya, yang paling tahu tentang perempuan adalah perempuan. Lukisan pun kemudian tidak lagi berdiri sebagai benda artistik tetapi sesungguhnya adalah teks tentang perempuan oleh perempuan.

Pembacaan terhadap lukisan pun tak cukup memadai jika hanya dilakukan melalui kaca mata estetik, tetapi idealnya lebih baik jika menggunakan kacamata berdimensi lebar: sosial, psikologi, bahkan rumah tangga dan seks. :: BALIPOST/Hardiman/nov2002

via Bali Post

website Sanggar Seniwati >> www.seniwatigallery.com

unduh makalah >> Eksistensi Sanggar Seniwati Bali
“EKSISTENSI SANGGAR SENIWATI BALI:
PERLAWANAN TERHADAP DOMINASI LAKI-LAKI PERUPA
DALAM MEDAN SOSIAL SENI RUPA INDONESIA”
oleh Hardiman + Luh Suartini
Jurusan Pendidikan Seni Rupa
FBS Universitas Pendidikan Ganesha

 

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: