[UNDUH] Perempuan Pencipta Narasi: Adakah Menulis Sejarah Perempuan?

Makalah Diskusi di Salihara | Jakarta
9 April 2013

Ruth Indiah Rahayu

 

“Menilik kitab-kitab tambo di zaman poerbakala, maka nampaklah bagi kami, bahwa nama orang perempoean itoe baharoelah terseboet apabila ia mempoenjai sifat-sifat serta perboeatan sebagai orang lelaki, oempamanja sadja mendjadi seorang pahlawan atau memegang kekoeasa’an serta doedoek di-atas tachta keradja’an; lihatlah dalam tjeritera wajang pada woro Srikandi dan dalam tambo keradja’an Madjapahit pada Praboe Kenjo.”

cuplikan pidato Siti Zahra Goenawan,
“Salah Satoe Wadjibnya Orang Perempoean”
dari Roekoen Wanodijo

Ruth Indiah Rahayu mengajukan makalah "Perempuan Pencipta Narasi", di Salihara Jakarta, 9 April 2013

Ruth Indiah Rahayu mengajukan makalah “Perempuan Pencipta Narasi”, di Salihara Jakarta, 9 April 2013

Seandainya saya ikut hadir dalam Kongres Perempuan I, 22 Desember 1928, di Yogyakarta, saya akan mengusulkan pandangan Siti Zahra Goenawan delegasi dari Roekoen Wanodijo (Jakarta) itu menjadi agenda politik untuk menulis kembali sejarah dari sejarah perempuan. Saya terpukau ketika menemukan teks ini di antara pidato-pidato peserta Kongres Perempuan I, sekalipun Siti Zahra tidak  bermaksud untuk menjadi aktivis penulisan ulang sejarah perempuan. Tetapi saya menggarisbawahi pandangannya sebagai kritik terhadap penulisan sejarah yang androsentris, yang pada masa itu sudah mencemaskan para ibu kita.

Di antara sekian banyak ragam problem perempuan, saya tertarik kepada persoalan ketiadaan cerita perempuan dalam penulisan sejarah. Apabila kita menelusuri sejarah nasional Indonesia atau historiografi Indonesia, kita berjumpa dengan para perempuan yang kesepian di tengah sejarah yang bergolak. Nama yang disebutkan — dan sudah demikian hapalnya kita — Martha Tiahahu, Nyai Ageng Serang, Tjut Nja’ Dien, Kartini, digambarkan sebagai “perempuan super” seperti dalam film Xena: Warrior Princess . Kita dijamu dengan cerita superwoman, superhero, yang hal itu tidak menggambarkan keadaan perempuan sebagai adanya: yang tertindas atau menindas. Contoh lain ialah Cleopatra, ia dihadirkan dalam penulisan sejarah berupa tubuh perempuan yang cantik dan cerdik memikat laki-laki perkasa dari Roma. Perempuan itu ditulis, disebutkan namanya, tetapi tidak menggambarkan sejarah dirinya menjadi perempuan (women’s history). Inilah kritik para feminis historiografi terhadap penulisan sejarah. Tetapi juga menimbulkan pertanyaan: lalu bagaimana menulis sejarah perempuan? Problemnya bukan sekadar menghadapi tantangan kelangkaan arsip dan cerita dirinya menjadi perempuan, tetapi juga bagaimana menuliskannya agar menggambarkan keadaan menjadi perempuan sebagai adanya. Virginia Woolf berupaya menulis sebagaimana perempuan menulis, tetapi apakah kita memiliki bahasa perempuan?

Problem umum itu saya refleksikan pada permintaan panitia diskusi agar saya menggali perempuan pencipta narasi (tulis) sebelum Kartini, pada masa Kartini dan sesudah Kartini. Permintaan ini terlampau besar untuk sebuah forum dan waktu yang singkat. Tetapi, juga menimbulkan pertanyaan: apakah Kartini kita jadikan titik tolak periodisasi narator perempuan dalam sejarah modern? Atau lebih taktis kita membongkar terlebih dahulu bagaimana historiografi Indonesiasentris memandang dan menuliskan perempuan? Tulisan ini menjawab pertanyaan: apakah perempuan penulis narasi yang tersebut dalam historiografi Indonesiasentris telah menciptakan women’s history ? Untuk (kepentingan) apa mereka ciptakan narasi?

Untuk membaca selanjutnya, silakan unduh PDF makalah lengkap di link ini diskusi_perempuan_pencipta_narasi_ruth_indiah_rahayu

sumber >> SALIHARA

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: